Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
permintaan aneh


__ADS_3

Setelah kejadian itu Sheila masih menjalani hari-harinya seperti biasa dia mengasuh baby Inez dengan cukup baik hingga sekarang baby Inez pertumbuhannya semakin meningkat. tapi ada sesuatu yang tidak biasa! sikapnya Sheila kepada Alfin sang bos.


tidak seperti dulu dirinya masih terbuka tentang dirinya bahkan bercanda dengan sang bos.


Sheila mencoba menjaga jarak dan saat Alfin bertanya atau meminta sesuatu dia hanya menganggukan kepala atau menjawabnya dengan singkat.


Sheila hanya tidak ingin merasa dekat dengan bosnya Sheila sadar bahwa dia hanya pengasuh tak seharusnya Sheila bersikap seperti teman.


"Sheila tolong bikinin aku kopi ya taro dimeja kerja saya, apa Inez sudah tidur?" suruh Alfin.


"Baik Pak, sudah Pak," jawab Sheila.


Alfin mengernyitkan keningnya merasa ada yang berbeda dengan sikap Sheila tapi untuk bertanya dia pun segan.


Alfin berjalan kekamar dan segera mandi untuk melepas kelelahan karna pekerjaan kantor yang banyak tadi sehingga Alfin merasa begitu lelah walaupun begitu Alfin berniat lembur karna masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.


ingin menyuruh Andri Asistennya sekaligus tangan kanannya tapi pekerjaannya tidak bisa diwakilkan terpaksa Alfin membawa pekerjaan itu kerumahnya.


setelah selesai mandi Alfin berjalan keruang kerja sebelum Alfin keruang kerjanya Alfin menyempatkan diri untuk kekamar anaknya, perlahan Alfin berjalan kekamar Inez.


Alfin membuka pintu kamar Inez dan berjalan mendekati tempat tidur anaknya.


Alfin mencium seluruh wajah anaknya untuk melepas rindunya.


Alfin melihat kesamping Inez ada Sheila yang juga tengah tertidur pulas.


Alfin sejenak memandang Sheila dengan pandangan yang hanya dia yang tau.


"*M*engapa aku merasa Sheila menjauhiku? atau hanya perasaanku, apa dia lagi ada masalah? ah tapi apa peduliku?" batin Alfin segera meninggalkan kamar putrinya.


Alfin berusaha mengerjakan pekerjaannya dengan cepat namun kenyataannya cukup menyita waktu dan Alfin baru selesai tepat tengah malam 01:00. setelah selesai Alfin pergi kekamar Alfin ingin segera tidur karna dirinya sudah sangat lelah dan mengantuk, Alfin akhirnya tertidur dengan pulasnya.

__ADS_1


^


Saat Sheila pergi kedapur ingin memasak untuk makan baby Inez dihadang oleh Bi Tini, Bi Tini berjalan kearah Sheila dengan tergesa-gesa.


"Astagfirullah, pelan-pelan Bi kenapa buru-buru seperti itu ada apa?" tegur Sheila.


"Maaf nak, Bibi mau minta tolong, tolong bangunin Den Alfin Nak, Den Alfin belum bangun nanti dia kesiangan!" ucap bi Tini mencoba mengatur nafasnya.


Sheila bingung dengan permintaan bi Tini pasalnya ini yang pertama kali Sheila harus bangunin bosnya.


"Kenapa bos belum bangun? kan jadi saya yang kena, aduh...saya harus gimana?" batin Sheila.


"Ayo cepat Nak, Non Inez biar disini dulu sama Bibi!" tutur bi Tini membuyarkan lamunan Sheila


"Eh.. Bibi ajalah sana yang bangunin Pak Alfin kan Bibi sudah lama kerja disini, kalau aku ntar dimarahin gimana?" ucap Sheila


"Justru Den Alfin bakal marah kalau gak dibangunin! aduh Bibi sudah gak mau bangunin Den Alfin, udah sana kamu aja yang bangunin ya, nanti kalau telat kita semua bakal dimarahin, mau?" ancam Bi Tini.


"Baik lah Bi, tolong pegang Inez dulu ya Bi!" pinta Sheila.


"Baik Nak," jawab bi Tini mengambil baby Inez dari tangan Sheila.


Mau tidak mau akhirnya Sheila berjalan kekamar Alfin ada keraguan didalam hati Sheila tapi ini sudah tugasnya Sheila harus melaksanakannya.


Sheila membuka pintu kamar Alfin yang tak terkunci, ya semenjak istrinya meninggal Alfin tak pernah lagi mengunci pintu kamar alasanya karna dia sudah tidak tidur berdua lagi, katanya.


"Ya Allah mengapa ini bos masih tidur, bagaimana caranya aku membangunkannya ya!" batin Sheila


Sheila mendekati ranjang yang ditiduri Alfin sejenak Sheila memandang Alfin berfikir bagaimana cara membangunkannya.


"Pak bangun Pak, ini sudah siang apa Bapak tidak kekantor?" ucap Sheila masih dengan berdiam diri. tapi yang dibangunkan masih setia dengan tidurnya.

__ADS_1


"*A*duh masa gak bangun-bangun sih, pingin disiram air ini bos kayanya!" maki Sheila dalam hati


Sheila mencoba menggoyang-goyangkan badan Alfin pelan untuk membangunkannya dan Alfin pun mulai bangun walaupun belum sepenuhnya sadar namun tiba-tiba tangan Sheila ditarik hingga terjatuh tepat disamping tidur Alfin.


"Ah... aduh kenapa bapak menarik sa..."


belum sempat Sheila melanjutkan kata-katanya Sheila terdiam karna melihat Alfin yang sedang mamandangnya dan pandangan mereka akhirnya bertemu. mereka terdiam cukup lama hanya mata yang hidup untuk berbicara.


"Aku ingin mulai sekarang kamu bangunin aku tiap hari!" pinta Alfin pelan namun masih terdengar oleh telinga Sheila dan seketika wajah Sheila merona mendengar permintaan Alfin.


"Kenapa aku? Bi Tini saja pak," ucap Sheila berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.


"Kamu mau membantahku?" ucap Alfin masih dengan manatap Sheila dengan insten.


"E-nggak begitu tapi kan ak...".belum sempat Sheila berbicara sudah diancam oleh Alfin


"Kupotong gajihmu 90% mau!" ancam Sheila


"Jangan dong ntar aku kirim keluargaku gimana pak, kalau bapak potong gajih saya?" jawab Sheila dengan polos


"Makanya nurut dong!" kata Alfin sambil beranjak dari tempat tidur dan berlalu kekamar mandi.


Saat dikamar mandi Alfin tertawa kecil karna berhasil telah menggoda Sheila, entah mengapa Alfin merindukan Sheila yang banyak bicara seperti tadi.


hati Alfin rasanya saat ini senang sekali Alfin pun tak tau mengapa, sebenarnya Alfin tau tapi gengsi untuk mengakuinya.


Sedangkan Sheila masih tiduran ditempat tidur Alfin ia masih bingung dengan permintaan aneh bosnya yang tiba-tiba pingin dibangunin olehnya bahkan tiap hari pula.


"Kupotong gajihmu 90%! dikit-dikit ngancem! menyebalkan!" gumam Sheila menirukan gaya Alfin


"Aku mendengarnya!" suara Alfin mengagetkan Sheila yang ingin pergi dari kamar Alfin. Sheila malu dan langsung minta maaf lalu segera pergi dari kamar Alfin.

__ADS_1


__ADS_2