
Mayang menatap anaknya dengan lekat "Siapa yang bilang kamu akan dijodohkan Sheil?" Sheila terdiam sejenak.
"Perasaan aku belum bicara dengannya?"
"Jawab dulu pertanyaan Sheila Mah," Sheila merajuk dan bersandar dipundak sang ibu.
"Hem...bisa dibilang begitu," Sheila langsung membenarkan duduknya karna terkejut dengan jawaban ibunya.
"Jangan bercanda Mah untuk hal seperti ini," wajah Sheila langsung menjadi pias.
"Mamah tidak bercanda Sheil, lagi pula Mamah menjodohkan kamu dengan anak sahabat Mamah dulu," wajah Sheila langsung menjadi sedih.
"Mah...Sheila gak mau," mata Sheila berkaca-kaca.
"Sheil...Mamah melakukan ini untukmu, untuk masa depanmu," Mayang mengusap kepala Sheila dengan lembut "Percaya sama Mamah," ucapnya lagi.
"Mah...Sheila ingin sekolah yang tinggi, Sheila bekerja agar Sheila bisa sekolah lagi Mah, Mah Sheila benar-benar tidak mau Mah," airmata Sheila akhirnya turun juga.
"Memangnya kalau kamu nikah nanti kamu tidak bisa melanjutkan sekolah lagi? justru Mamah ingin kamu sekolah lagi, makanya Mamah mau menjodohkan kamu dengan anak sahabat Mamah Sheil, karna dia mau membiayai sekolah kamu," Mayang mengusap airmata Sheila dengan ibujarinya.
Alfin mematung didepan pintu kamar Inez, Alfin meninggalkan yang lain untuk mengetahui pembicaraan Sheila dan ibunya, dan apa yang didengar sungguh menghujam jantungnya saat ini.
Sheila menggelengkan kepalanya "Enggak Mah, Sheila bisa biayai sekolah sendiri Mah, tapi jangan jodohin Sheila Mah, Sheila mohon," Sheila mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya sambil menangis.
"Mamah kasihan sama kamu Nak, kamu bekerja dari kamu kecil, kalau kamu nikah nanti kamu tidak perlu bekerja lagi sayang," Mayang ikut menangis.
"Sheila gak masalah Mah, tolong Mah batalin perjodohan itu, Sheila gak mau, Sheila kan juga tidak mengenal anak sahabat Mamah, kalau dia jahat sama Sheila bagaimana? apa Mamah mau seperti itu?"
"Lagian Sheila juga dikontrak sama Mas Alfin selama 3tahun Mah, kalau Sheila pulang sebelum 3tahun, Sheila harus membayar uang yang tidak sedikit Mah," Sheila terus berusaha meyakinkan ibunya untuk membatalkan perjodohannya.
Mendengar perkataan anaknya Mayang tersenyum dan membelai kepala Sheila "Dia akan menanggung semuanya Sheil, Mamah yakin dia yang terbaik buat kamu, dia mencintaimu jadi tidak mungkin dia akan menyakitimu, Mamah hanya ingin kamu bahagia seperti yang lain Sheil," airmata Mayang tidak terbendung lagi, mengenang masa-masa kesulitan bersama Sheila.
__ADS_1
"Tapi Sheila tidak mencintainya Mah," Sheila menunduk menangis.
"Cinta akan datang ketika nanti kalian bersama Sheil," Sheila mengangkat kepalanya.
"Gak Mah, Sheila gak mau," airmata Sheila semakin deras mengalir karna dia berfikir bahwa sia-sia sudah sekarang perjuangannya.
"Sheil...Mamah yakin dia yang terbaik untukmu sayang," Mayang masih kekeh dengan keputusannya.
"Mah...Sheila mencintai seseorang, dan Sheila gak mau jika bukan dia yang menjadi suami Sheila," ini adalah senjata yang terakhir untuk meluluhkan hati Mayang.
"Aku mencintai Mas Alfin Mah, jadi aku mohon jangan jodohin Sheila Mah, Mas Alfin juga mau ko Mah nikahin Sheila," Mayang berfikir sejenak dan menatap anaknya lekat-lekat.
Alfin masih setia berada dibalik pintu yang berada dikamarnya yang terhubung dengan kamar Inez, Alfin tersenyum mendengar perkataan Sheila, hatinya sangat bahagia mendengarnya.
"Maafkan Mamah Sheila , Mamah sudah terlajur menerima lamaran sahabat Mamah, dan 1minggu lagi kamu akan menikah dengannya, tolong jangan bantah Mamah!" Mayang berdiri dan pergi meninggalkan Sheila sendirian.
Sheila memanggil-manggil ibunya namun Mayang sama sekali tidak menghiraukan rintihan Sheila. Sheila menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Alfin merasa dunianya runtuh seketika, wanita yang berhasil memberikan rasa baru dalam hatinya, secepatnya akan menjadi milik orang lain.
Alfin membuka tangan Sheila yang menutupi wajahnya "Jangan menangis, aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini," bukannya Sheila berhenti menangis namun justru airmata Sheila semakin deras mengalir.
"Mas..." suara Sheila serak.
Tanpa ijin dari Sheila, Alfin langsung memeluk Sheila, Alfin menangis tanpa suara hatinya rapuh saat ini membayangkan Sheila bersanding dengan orang lain saja Alfin tak sanggup, tetapi sebentar lagi dia akan melihat itu "Oh Tuhan apa aku sanggup." rintihan hati Alfin.
Sheila melepaskan pelukannya dan menatap Alfin "Mas nangis?" Sheila langsung menghapus airmata Alfin menggunakan ibujarinya.
Alfin menyentuh tangan Sheila yang berada diwajahnya, dia genggam tangan itu dengan perasaan hancur, belum pernah Alfin merasa seperti ini, diciumnya tangan itu sambil menangis "Bagaimana Mas tidak menangis bila sebentar lagi Mas akan melihat wanita yang Mas cintai bersanding dengan orang lain, Mas tidak sanggup Sheil..." mata Alfin bertemu mata Sheila, tangan Alfin masih setia menggengam tangan Sheila, mereka menangis tanpa suara, namun mata mereka hidup untuk menggantikannya.
"Maafin Sheila Mas," permintaan maaf Sheila membuat hati Alfin tambah lemah saat ini.
__ADS_1
Alfin mengusap pipi Sheila dan menatapnya dengan cinta, Alfin mendekatkan wajahnya kewajah Sheila, kening dan hidung mereka menyatu, Sheila memejamkan matanya "Mas mencintaimu Sheil...Mas akan berusaha untuk berbicara dengan ibumu, Mas benar-benar tidak sanggup kehilanganmu, membayangkannya saja hati Mas sakit Sheil," Alfin benar-benar tidak sanggup.
Sheila menangis mendengar kata-kata cinta Alfin, hatinya juga terasa sangat ngilu membayangkan dirinya harus bersanding dengan orang lain "Aku juga Mencintaimu Mas," Alfin tersenyum dan mengusap pipi Sheila.
"Mas akan memohon kepada ibumu, tunggu Mas kembali hem," Sheila memejamkan matanya dan menganggukan kepalanya.
Alfin mengusap bibir Sheila dan memberikan ciuman mesra singkat "I Love U," Sheila terkejut dengan apa yang Alfin lakukan namun Sheila hanya diam dan mengangguk.
Alfin berdiri dan meninggalkan Sheila dikamar Inez, Alfin mencari ibu Sheila untuk berbicara dengannya. Alfin melihat ibu Sheila sedang duduk bersandar ditaman sendirian sambil memejamkan matanya. Alfin menghampiri dan tak menghiraukan teman-temannya yang memanggilnya.
"Kaya ada masalah si Alfin Ndri, sepertinya dia habis menangis," Andri pun merasakan seperti apa yang Dani rasakan begitu juga dengan Fino.
"Kenapa dengan Pak Alfin Mba? kok kaya habis nangis ya?" semua mata melihat kearah Alfin yang sedang berjalan menghampiri Mayang, Alex pun merasa heran dengan keadaan Alfin.
"Gak tau, coba kita lihat," saat Hevi ingin melihatnya, tiba-tiba Dani menggengam lengam Hevi dan menggelengkan kepalanya.
"Tunggu sini, biar aku, Andri dan Fino, kamu dan yang lain jaga Inez disini," kali ini Hevi tidak membantah perkataan Dani, walau sebenarnya dia penasaran. Dani tersenyum karna Hevi mau mendengarkan dan menurutinya.
Alfin bersimpuh didepan Mayang, lutut Alfin menjadi penyangga tubuhnya lalu Alfin menggemgam tangan ibu Sheila "Bu..." Mayang langsung membuka mata dan terkejut karna Alfin bersimpuh didepannya.
"Ya Allah Nak Alfin, apa yang Nak Alfin lakukan, bangunlah Nak jangan seperti ini," Mayang memegangi lengan Alfin agar dia mau berdiri namun Alfin diam dan menggelengkan kepalanya.
"Alfin tidak mau berdiri sebelum Ibu membatalkan perjodohan Sheila Bu," Alfin menunduk menaruh keningnya ditangan Mayang dan menangis.
"Dia benar-benar mencintai anakku, Mamah senang Sheil, semoga kamu bahagia nanti bila hidup bersamanya." batin Mayang.
"Maafkan Ibu Nak Alfin, namun Ibu sudah terlanjur menerima lamaran itu, Nak Alfin carilah wanita yang lebih baik lagi Nak," masih dengan menunduk Alfin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak Bu, Alfin hanya mencintai Sheila, Alfin gak bisa Bu lihat Sheila nanti bersanding dengan orang lain, Alfin mohon Bu," Mayang membisu dengan apa yang Alfin katakan.
"Ya Allah sebenarnya hamba tidak tega melihat mereka seperti ini, ampuni hamba Ya Allah." batin Mayang.
__ADS_1
(besok lagi 😁😁)
selamat sahur kakak-kakak semoga puasa hari ini membawa keberkahan untuk kita semua. 😍😍