
Setelah Mayang keluar, giliran Novi dan Purnomo yang masuk untuk melihat menantunya.
Sedangkan Tia langsung pulang setelah melihat keadaan adiknya walau sebentar, karena Tia harus menyiapkan pernikahahnnya yang tinggal beberapa hari lagi, sepeninggal Tia, Alfin termenung mencerna kata-kata Tia.
Tia pulang memesan taxi online yang sudah dia pesan saat berada dirumah sakit.
"Aku curiga dengan wanita itu, siapa dia?" batin Tia bertanya-tanya.
"Aku harus selidiki siapa dia!" gumam Tia yang merasa curiga dengan wanita yang mengaku kekasih James.
Sampai dirumah Tia turun dari taxi dan memberikan uang kepada supir taxi "Makasih Non," ucap supir taxi saat menerima dari Tia.
"Sama-sama Pak," Tia segera masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum." salam Tia ketika membuka pintu yang tidak terkunci.
"Wa'alaikumsalam." jawab Suster Ina.
"Fatih rewel gak Na?" tanya Tia.
"Sedikit Non," jawab Ina.
"Sekarang tidur?" Ina mengangguk.
"Aku akan keluar lagi, tolong jaga Fatih ya," ucap Tia.
"Baik Non,"
Setelah mengganti pakaian, Tia keluar rumah karena Aldo calon suami sudah berada didepan rumahnya.
Aldo tersenyum kepada Tia "Sudah siap," tanya Aldo yang melihat Tia sudah rapi.
Tia mengangguk dan mengikuti Aldo dari belakang, mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah, mereka akan ingin memastikan segala sesuatunya sudah siap untuk hari pernikahannya.
Tia dan Aldo mendatangi satu-persatu keperluan untuk acara nanti, dari mulai memastikan Catering, WO, Gaun dan yang lainnya. Setelah memastikan semuanya beres Aldo mengajak Tia untuk pergi ketoko perhiasan "Kamu mau yang mana?" tanya Aldo.
Tia melihat-lihat cincin untuk pernikahannya "Em..." Tia berpikir sejenak dan melihat dengan jeli perhiasan yang kini ada didepannya.
"Ini aja mau?" Aldo mengambil sebuah cincin dengan mata kecil ditengahnya membuat elegan yang memakainya.
Tia mengambil cincin itu dari tangan Aldo, Tia membolak-balikkan cincinya "Boleh...ini terlihat bagus," ucap Tia tersenyum kepada Aldo.
__ADS_1
"Baiklah..Mba yang ini," ujar Aldo memberika cincin itu kepada pegawai toko.
Setelah membeli cincin, Aldo mengajak Tia untuk makan direstoran yang biasa Aldo makan "Duduklah." Aldo mempersilahkan Tia untuk duduk dikursi yang Aldo tadi siapkan.
Tia tersenyum dan duduk "Terimakasih," ucap Tia.
Aldo memesan makanan dan minuman, sedangkan Tia menurut kepada Aldo.
Tia melamun dan melihat kesembarang arah, Aldo memperhatikan Tia "Kamu kenapa?" tanya Aldo setelah menyadarkan lamunan Tia.
"Aku sedang memikirkan sesuatu," ujar Tia.
Aldo mengangkat alisnya "Memikirkan apa?" tanya Aldo penasaran.
"Tadi aku habis dari rumah sakit..." belum selesai berbicara Aldo sudah memotongnya.
"Siapa yang sakit?" tanya Aldo cemas.
Tia menghembuskan nafasnya pelan "Mas...aku belum selesai berbicara," ujar Tia sedikit kesal.
Aldo terkekeh dan mempersilahkan Tia untuk bercerita lagi.
"Sheila masuk kerumah sakit karena keracunan makanan dan dia mengalami keguguran karena itu," ujar Tia menjelaskan.
Tia menatap Aldo dengan insten karena Tia tahu lelaki yang berada didepannya kini pernah memiliki perasaan terhadap adik tirinya
"Aku hanya khawatir," Aldo melunakkan suaranya mengerti akan tatapan Tia.
Tia memalingkan wajahnya sekilas lalu melanjutkan ceritanya lagi "Tidak ada yang tahu kenapa Sheila bisa keracunan, tapi yang aku pikirkan adalah wanita yang aku temui dirumah sakit tadi, katanya dia adalah kekasih James, tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu," ujar Tia.
Aldo melipatkan kedua tangannya didepan perutnya "Memang siapa James itu?" tanya Aldo menatap Tia menyelidik.
"Dia sahabat Alfin dulu juga selingkuhan istrinya dulu." ucap Tia dengan malas.
"Selingkuhan? maksudnya?" tanya Aldo lagi.
"Dulu Alfin mempunyai istri bernama Angel dan istrinya itu selingkuh dengan James, aku sudah mengadu kepada Alfin, tapi sialnya Alfin tidak mempercayaiku dan Angel malah menjebakku, aku kesal sekali dengan Alfin yang tidak pernah bisa membuka matanya tentang siapa sebenarnya Angel," ucap Tia sedikit kesal.
Setelah Aldo mendengarkan cerita Tia, Aldo menganggukan kepalanya tanda mengerti "Lalu apa yang kamu curigai tentang wanita yang tadi kamu temui dirumah sakit?"
"Aku merasa dia tahu banyak tentang hubungan James dan Angel, tapi saat aku ingin tahu dia malah marah dan pergi begitu saja." kesal Tia.
__ADS_1
"Sudah lah...jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu hanya rasa kecemasanmu yang berlebihan karena Sheila masuk kerumah sakit," tutur Aldo.
Tia terdiam dan berpikir "Sudah...makanlah." perintah Aldo, Tia pun menuruti Aldo untuk segera makan.
^
"Fin...Mamah dan Papah pulang dulu ya, mau ambil baju ganti untukmu, nanti Mamah dan Papah kembali lagi kesini," Alfin hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh kearah kedua orangtuanya.
Novi dan Purnomo terlihat sedih dengan kondisi anaknya yang kini terlihat tidak bersemangat "Temani Kakakmu dulu Fin." perintah Purnomo kepada Fino, Fino pun menganggukan kepalanya.
Mayang dan Alex pun pulang terlebih dahulu untuk melihat anaknya yang mereka tinggal, karena Fatih masih meminum asi jadi Mayang tidak bisa meninggalkannya berlama-lama.
Setelah kepulangan orangtua dan mertuanya Alfin masuk kedalam ruangan Sheila, Alfin duduk disisi ranjang dan mengusap kepala Sheila "Bangun dong sayang..."
Jari telunjuk Sheila bergerak "Jangan tinggalkan Mamah...jangan tinggalkan Mamah" ucap Sheila lirih.
Mendengar Sheila bergumam Alfin bangkit dan langsung memanggil dokter.
Dokter langsung datang keruangan Sheila, setelah memeriksa Sheila, dokter keluar dan memanggi Alfin "Bagaiman keadaan istri saya Dok?" tanya Alfin bersemangat.
"Istri Tuan sudah sadar, tapi kondisinya belum masih sedikit lemah, mohon untuk tidak membuat berat pikirannya terlebih dulu ya," penjelasan dokter membuat Alfin bersyukur dan segera masuk kedalam ruangan.
"Beby..." panggil Alfin tersenyum ketika melihat mata Sheila terbuka.
"Mas..." panggil Sheila lirih.
Alfin duduk disisi ranjang "Mas kangen." Alfin mencium tangan Sheila berulang-ulang.
"Kenapa aku ada disini?" tanya Sheila heran.
Wajah Alfin seketika datar ketika mendengar pertanyaan Sheila "Tidak apa-apa...mungkin kamu hanya kecapaian," ucap Alfin berbohong.
Sheila menatap suaminya "Aku tadi bermimpi bertemu dengan anak laki-laki, dia sangat tampan Mas, dia memanggilku Mamah, tapi saat aku ingin mendekat anak itu pergi, aku sedih Mas..." Sheila bercerita dengan suara yang lirih dan matanya pun berkaca-kaca ketika bercerita karena kejadian itu begitu nyata dalam pikiran Sheila.
Alfin tertegun mendengar cerita Sheila, jari Alfin mengusap airmata yang mengalir dari mata istrinya, hati Alfin pilu ketika mendengar cerita istrinya, mata Alfin pun berkaca-kaca "Mungkin itu hanya bunga tidur sayang," ucap Alfin serak.
Sheila menggelengkan kepalanya lalu menatap langit-langit "Tapi seperti sangat nyata Mas," airmata Sheila kembali mengalir.
Alfin mencium tangan Sheila, Alfin menundukkan kepalanya karena airmatanya sudah tidak bisa terbendung lagi.
(besok lagi 😂😂)
__ADS_1
gara-gara libur yang baca jadi dikit 😢😢😢 down nih author 😢😢😢