
"Apa maksudmu Ndri, kayanya ada yang kamu sembunyikan dariku?" terka Alfin.
"Aku bingung harus ngomong apa bos." batin Andri.
"Aku berharap kamu tak terlalu mengharapkan Sheila bos!" serius Andri, membuat Alfin menatap Andri dengan serius "Bos Sheila akan dijodohkan!" ucap Andri dengan terpaksa.
Rahang Alfin mengeras seketika Alfin memegang kerah Andri dengan kuat "Maksudmu apa?" Alfin dengan emosi memegang kerah Andri
Sheila yang sedang mengobrol bersama teman dan keluarganya terkejut mendengar suara yang cukup keras, bukan hanya Sheila tak sedikit para tamu undangan pun kini melihat ke arah Alfin dan Andri.
"Kenapa bosmu Yem?" tanya Hevi penasaran.
"Aku juga gak tau mba, aku kesana dulu ya!" Sheila hendak pergi dan menghampiri bosnya namun dicegah oleh Hevi dan Ibunya "Jangan ikut campur Yem, nanti aja!" bujuk Hevi.
Sheila mengurungkan niatnya untuk menghampiri bosnya yang sepertinya sedang marah besar kepada Asistennya, Sheila menerka-nerka apa masalah yang sedang menimpa bosnya itu sampai marah sebegitunya kepada Asistennya.
Andri yang sadar tengah menjadi pusat perhatian, meredakan amarah bosnya dan membujuknya untuk pergi ketempat yang lebih nyaman untuk mengobrol, Alfin pun menyetujuinya.
^
Alfin mengusap wajahnya dengan begitu kasar, ada raut kekecewaan dalam wajahnya setelah mendengar cerita Andri, Alfin begitu terpukul dan merasa sakit hatinya.
"Aku harus gimana Ndri?" Alfin berucap dengan lirih namun masih terdengar ditelinga Andri.
Andri merasa kasihan melihat sang bos begitu terluka "Berhenti untuk mengharapkan Sheila bos!" Andri berucap dengan terpaksa.
Alfin menatap sang Asistennya dengan tajam "Aku yakin Sheila juga pasti mencintaiku Ndri, dan Sheila pasti tidak mau dengan perjodohan itu!" tegas Alfin.
Andri menghela nafasnya dengan berat "Bos..setuju atau tidak setuju Sheila pasti menuruti permintaan orangtuanya, aku yakin kamu bisa melupakan Sheila bos!" Andri menepuk-nepuk bahun Alfin memberikan semangat untuk sang bos.
Alfin semakin merasa frustasi mendengar perkataan Andri, Alfin berfikir sama seperti Andri kalau Sheila pasti tak bisa menolak permintaan orangtuanya. Alfin berlalu pergi dari tempat itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapan, wajahnya menjadi tidak secerah seperti biasanya. Alfin berjalan dengan tak semangat namun Alfin tetap berusaha untuk kuat karna ini adalah acara ulangtahun adikknya dia tidak mau membuat suasana menjadi rusak.
__ADS_1
^
Suara Emsi menggema diseluruh ruangan menyuarakan saatnya menyanyikan lagu ulangtahun untuk Fino putra kedua dari Purnomo Said, seketika semua para tamu undangan menyanyikan lagu selamat ulangtahun bersama-sama dengan diringi tepuk tangan yang membuat tempat itu begitu ramai.
Kedua orangtua Fino menaiki panggung disusul dengan Alfin yang pandangannya tak lepas dari memandang Sheila, saat Fino memotong kue, kue pertama diberikan kepada kedua orangtuanya dan potongan kedua diberikan kepada Alfin sang kakak, namun karna Alfin melamun Alfin tidak mendengar panggilan Fino "Kak...kakak...." Fino menyenggol lengan Alfin.
Alfin terkejut "Ehh iya, makasih adek kakak yang nakal, udah gede sekarang ya, selamat ya, ini kadonya!" Alfin menyembunyikan rasa sedihnya dalam hati dan memberikan kado untuk sang adik kesayangannya.
Fino menerima kotak hadiah yang diberikan Alfin dengan wajah yang menyembunyikan rasa herannya kepada kakaknya, Fino tau kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi Fino berusaha tersenyum saat menerima kado dari Alfin sang kakak "Kenapa dengan kakak ya, semoga dia baik-baik saja." batin Fino.
Alfin mengusap-usap kepala Fino dengan gemas dan membuat rambut Fino berantakan membuat Fino sangat kesal dengan sang kakak "Ih kakak nih, kebiasaan!" kesal Fino. Orangtua Alfin dan Fino dibuat geleng-geleng dengan tingkah kedua anaknya.
Novi merangkul pundak kedua anaknya "Sudah jailnya, sekarang kita lanjutkan lagi acaranya," tutur Novi lalu mencubit pipi kedua anak-anaknya.
"Oke Emsi ini adalah tugasmu saya persilahkan!" ucap Fino membuat seluruh tamu tertawa mendengar ucapan Fino.
"Siap bos!" Emsi yang dikenal Rudi itu memberi hormat kepada Fino yang sedang merintahnya dengan senyuman lalu tertawa membuat para tamu pun ikut tertawa "Oke cukup ketawanya, kita akan melanjutkan acara selanjutnya!" Emsi berbicara dengan semangatnya.
Santi hanya menjawab dengan tertawa "Makanya diem, terus itu muka gak usah dibuat-buat begitu, aku monyongin sekalian mau!" ucap Santi didepan muka Yeni.
"Hi...kamu itu, selalu saja menganggu kesenanganku!" kesal Yeni.
Sheila sambil menggendong baby Inez melerai kedua sahabatnya itu, begitu juga dengan Hevi yang sangat gemas dengan tingkah kedua orang yang kini menjadi sahabatnya "His, nanti kalau ribut lagi aku lemparin kalian dari atas gedung ini!" ancam Hevi membuat Santi dan Yeni langsung berdiam dengan kompak takut dengan ancaman Hevi.
Sheila menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada para sahabatnya "Kalian ini, dengerin aja Emsinya," ucap Sheila.
Alfin sedari tadi hanya duduk dan memandangi Sheila dari kejauhan, Dani melihat raut kesedihan diwajah sahabatnya itu Dani pun menghampiri Alfin yang tengah duduk bersama Andri "Fin, muka kamu itu kenapa kusut begitu? bukannya seneng malah kusut begitu," Dani menepuk pundak Alfin.
Alfin menoleh kepada Dani, namun dengan cepat melihat Sheila lagi "Harusnya hari ini aku melamarmu, harusnya acara setelah ini adalah lamaranku untukmu, tapi semua gagal." sedih batin Alfin. Dan akhirnya acara diganti dengan bernyanyi bersama band yang berada dikampus Fino.
"Fin, kamu kenapa sih?" Dani bertanya kembali.
__ADS_1
Andri mendekat kearah Dani "Hari ini bos gagal untuk melamar Sheila bro!" bisik Andri ditelinga Dani.
Dani terkesiap dengan perkataan Andri "Ap..." Andri segera membungkam mulut Dani karna ingin berkata dengan keras.
"Jangan berisik bodoh!" tegur Andri.
"Kenapa kamu tak bilang padaku kalau Alfin ingin melamar Sheila? kejam sekali kau ini... lalu kenapa katamu tidak jadi tadi, Sheila menolak?" Dani bertanya dengan begitu semangatnya karna penasaran.
"Kan kejutan Dan, tapi semua gagal, aku mendengar langsung dari orangtua Sheila bahwa Sheila akan dijodohkan, dan akan segera melangsungkan pernikahan."
"Ha... jangan bercanda Ndri, sumpah ini gak lucu!" ucap Dani tak percaya.
"Kalau aku bercanda tidak mungkin bosku murung begitu,"
Dani melihat Alfin, memang benar yang dikatakan Andri, Alfin sepertinya sangat terpukul "Sob, aku yakin jika Sheila itu adalah jodohmu pasti bagaimanapun caranya kalian akan bersatu," Dani berupaya memberikan semangat untuk Alfin.
Alfin menundukkan kepalanya sambil memegangi tengkuk lehernya rasanya saat itu Alfin ingin menangis.
Tiba-tiba Bi Tini bersama dengan Sunari menghampiri Alfin "Den, dipanggil Nyonya sama Tuan diruangan Privat," Alfin menoleh kearah Bi Tini "Memangnya ada apa Bi?" tanya Alfin.
"Bibi juga kurang tau Den."
Alfin berdiri dari tempat duduknya "Kalian mau ikut tidak?" ajak Alfin.
Andri dan Dani daling pandang "Hehe...tidak dah bos, kamu sendirian saja sana!" ucap Andri.
"Ia sana!" Dani berucap tetapi matanya tak putus memandang Hevi wanita yang berhasil mencuri pandangannya.
"Huuu!" kesal Alfin.
Alfin meninggalkan kedua sahabatnya didalam pesta dan dia pergi dimana orangtuanya berada, sebelum Alfin pergi Alfin sempat melihat Sheila yang tengah menggendong baby Inez "Apa kita tak berjodoh?" tanya Alfin dalam hati.
__ADS_1
#jangan lupa bahagia kakak dan tetap semangat didalam rumah 😊😊😊