Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Kesialan Adit dan Ellena


__ADS_3

"Oh ya ampun...itu film kesukaanku!" teriak Gia dengan girang.


Andin dan Cantika langsung membungkam mulut Gia yang sudah berteriak-teriak.


Adit menggelengkan kepalanya, "Kenapa jadi film beginian?" tanya Adit, dirinya berusaha mencari video perselingkuhan Alfin dengan Ellena namun hasilnya tetap tidak ada, Adit berusaha menghubungi Ellena namun berkali-kali tidak diangkat oleh Ellena membuat Adit sangat kesal.


Alfin menikmati wajah Adit yang kini terlihat sangat kesal, "Tontonan yang sangat bermanfaat anak muda." ledek Alfin, Adit semakin kesal dengan Alfin, matanya menatap tajam kearah Alfin, sedangkan Alfin memasang senyum mengejeknya.


Sheila merasa ada yang tidak berea dengan Adit, "Kak Adit kenapa sih?" Alfin menoleh kearah istrinya karena mendengar gumaman istrinya.


"Jangan pedulikan!" Sheila menutup mulutnya merasa salah dengan bicaranya.


"Maaf, Mas." ucap Sheila yang takut bila Alfin marah.


Keriuhan yang dibuat Adit membuat sang Emsi naik kepanggung, "Adit...tolong turun kebawah, oke!" dengan perasaan kesal Adit turun kebawah di iringi dengan gelak tawa dan ledekan oleh anak-anak kampus.


Saat sudah berada dibawah panggung, Adit memandang Alfin dengan tatapan membunuh, Alfin membalasnya dengan senyuman kemenangan, "Sekarang tidak akan ada lagi yang mengangguku, leganya Ya Allah." batin Alfin.


"Gila! lucu sekali si Adit, kita disuruh nonton tom&jerry!" tawa Yeni pecah, Santi mendelik kearah Yeni.


^


"Aduh..." rintih Ellena sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Ellena berusaha menyadarkan dirinya, matanya sedikit demi sedikit terbuka sempurna, pandangannya pun mulai pulih dari kaburnya, Ellena terkejut karena dirinya masih didalam mobil, Elllena menengok jam yang terpasang ditangan kirinya, "Ha! jam4? kenapa Aku bisa ketiduran dimobil sih?" gerutu Ellena.


Tokkk tokkk


Ellena dikejutkan oleh suara ketukan dimobilnya, Ellena memandang kejendela mobil, "Adit!" Ellena langsung membuka pintu mobil dan berhadapan dengan Adit.


Ellena sedikit takut karena wajah Adit terlihat sangat kesal, "Kenapa tidak datang ke Kampusku?" Adit menatap Ellena dengan tajam.


Ellena menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, Dit. Kenapa bisa tertidur didalam mobil, seingatku tadi Aku sudah mau berangkat tapi tiba-tiba..." Adit dan Ellena saling pandang karena mendapatkan pemikiran yang sama.


"Sial!" umpat Adit sambil tangannya memukul angin.


"Tenang Dit, Aku masih punya buktinya, Alfin mengajak perang rupanya, kita bongkar sekarang!" Ellena mengambil tasnya yang berada didalam mobil.


Ellena membuka tasnya dan mencari barang bukti yang akan membongkar kesalahan Alfin, wajah Ellena memucat karena apa yang dia cari tidak ada didalam tasnya.


"Mana?" tanya Adit yang melihat ekpresi wajah Ellena tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Tidak ada, Dit?" wajah Adit terlihat kesal mendengar jawaban Ellena.


Adit mengusap wajahnya dengan kasar, "Ah sial! sial! sial!" Adit begitu kesal dengan kegagalannya.


Ellena menghentakkan kakinya karena merasa kesal juga, "Ini pasti ulah Alfin!" umpat Ellena.


"Menurutmu? ulah tikus gitu! ha. menyabalkan!"


"Gak usah marah-marah begitu! kita pikirkan lagi cara memisahkan mereka!" teriak Ellena dengan kesal.


Adit mendengus kesal, hatinya sudah sangat kesal saat ini, apalagi kejadian di kampus yang membuatnya sangat-sangat malu, "Kita harus memisahkan mereka segera! Aku kesal sekali karena Aku dipermalukan di kampus tadi."


Ellena menoleh kearah Adit, "Kamu tahu? tontonannya menjadi tom&jerry! dan aku ditertawakan semua orang! memalukan bukan!" Ellena sangat tidak menyangka bila dirinya harus kecolongan seperti ini dan membuat rencananya gagal total.


^


"Lihat wajah Adit tadi, Bos? sumpah! pasti dia malu banget!" Andri tertawa mengingat wajah Adit yang sangat memelas karena malu.


Alfin tersenyum, "Makasih ya, kalian memang sahabat yang paling baik." ucap Alfin merasa sangat berhutang budi kepada para sahabatnya.


"Ingat! jangan diulangi lagi!" seru Dani.


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi Fin, Angel adalah wanita yang sangat ambisius." ucapan James membuat Andri tersedak saat minum.


"Mungkin mereka memang harus tahu Fin." ucap James, Andri dan yang lain semakin penasaran.


James menceritakan kejadian yang bertahun-tahun lalu dan sampai sekarang, para sahabat menyimak termasuk Alfin yang hanya tahu sedikit saja, penjelasan James membuat semua mata mendelik karena tidak percaya, "Ini sungguh gila!" Andri memegang kepalanga sendiri karena merasa pusing dikepalanya.


"Bukan gila Ndri! tapi tidak punya otak!" timpal Dani.


"Ini serius Kak? Kak Angel masih hidup? dan dia yang...oh ya ampun!" Fino menepuk jidatnya sendiri.


"Dan kita harusnya menghajarmu James! karena berani bermain api dengan istri sahabat sendiri!" ucap Dani.


"Aku mengaku salah atas perbuatanku dulu, tapi sekarang Aku sadar dan mencoba memperbaiki semuanya, walau tidak semudah apa yang Aku bayangkan." James benar-benar merasa menyesal.


"Sudahlah...semua sudah berlalu." ucap Alfin.


"Fin. besok Inez Aku ajak jalan-jalan ya?" tiba-tiba James merasa rindu dengan anaknya.


Alfin menganggukan kepalanya, Dani mencium sesuatu, "Jangan bilang kalau Inez adalah anakmu James!" Dani menunjuk wajah James dengan jari telunjuknya, Andri dan Fino sontak langsung melihat kearah James.

__ADS_1


James menganggukan kepalanya membuat semua syok, "Berarti Inez bukan keponakanku Kak?" Fino sangat merasa sedih dengan kebenaran ini.


Alfin menepuk pundak Fino, "Dia akan selalu menjadi keponakanmu, Fin." ucap Alfin.


^


Setelah berkumpul dengan teman-temannya, Alfin pulang kerumah mertuanya dan ingin mengajak Sheila kembali kerumahnya karena tidak ada lagi yang perlu ditakutkan saat ini, semua sudah beres berkat teman-temannya yang membantunya.


"Mamah masih ingin Kamu disini, Sheil." Mayang mengelus kepala putrinya dengan kasih sayang, berat rasanya harus melepaskan Sheila lagi.


"Fiko juga, Kak." Fiko memeluk Sheila membuat Alfin menahan cemburunya karena istrinya dipeluk lelaki lain padahal itu adalah adik istrinya.


"Kapan-kapan Kakak main lagi." Sheila mengacak-acak rambut Fiko sambil tersenyum.


"Hati-hati ya, Nak." Alex memeluk Sheila yang sekarang sudah menjadi putrinya dan Alex menyayanginya seperti menyayangi Tia anaknya.


"Makasih, Pah." Sheila tersenyum.


"Jaga anak Papah, Fin." Alfin mengiyakan dengan anggukan kepalanya.


Alfin dan Sheila akhirnya pergi dari rumah Mayang menuju rumahnya, rasanya Alfin sangat bahagia karena sudah bisa tenang menjalani hidup ini tanpa gangguan manusia-manusia tidak berakal itu. Selama dalam perjalanan, Alfin selalu melirik istrinya karena begitu bahagia.


"Kamu kenapa sih, Mas? dari tadi lihatin Aku mulu." Sheila merasa malu karena suaminya selalu memperhatikannya.


"Karena istriku ini cantik sekali." Alfin mengedipkan satu matanya berusaha menggoda istrinya.


Sheila tersenyum malu-malu, "Tidak usah menggombal!" Sheila memukul lengan Alfin pelan.


Alfin menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya, "Mas tidak gombal, Sayang." wajah Sheila bersemu merah karena ucapan suaminya.


Sheila melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, "Sudah ah! fokus nyetir." Sheila melihat kejendela sambil tersenyum malu-malu.


"Wajahmu tambah cantik Sayang, kalau merah seperti itu." goda Alfin lagi.


"Mas udah dong, nanti Inez bangun loh, gara-gara kamu berisik dari tadi." Sheila menengok ke belakang takut Inez bangun, karena Inez tidur si jok belakang,


Alfin tersenyum lalu mengusap pipi istrinya.


#yuuuuuuuhuuuu dateng lagi kan? 😂😂😂


*iya tapi dikit 😡😡😡

__ADS_1


#heheheheh....harap maklum 😂😂😂


__ADS_2