Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
duduk bersama bos


__ADS_3

Andri yang melihat kebingungan dua sejoli itu langsung berkata "Di iyain aja Sheil, daripada ngoceh mulu Inez," kata Andri membuat Alfin dan Sheila langsung menatap kearah Andri.


Alfin mendadak merasa frustasi dengan ocehan Inez dan dia menatap Sheila dengan tatapan sendu yang ditatapnya hanya mengangkat bahunya.


Alfin menghembuskan nafasnya dan menganggukan kepalanya kepada Sheila, Sheila yang melihat anggukan Alfin hanya bisa pasrah dan melihat kearah baby Inez dan membalas ocehan baby Inez sama dengan ocehannya, seketika baby Inez tertawa mendengar ocehan pengasuhnya, Sheila pun ikut tertawa dan memeluknya, entah mengapa Sheila ikut senang melihat baby Inez tertawa.


Alfin yang melihat kedekatan Inez dan pengasuhnya merasa terenyuh harusnya Alfin sadar ini bakal terjadi, namun egonya membuatnya tidak mendengarkan perkataan mamahnya waktu itu.


Andri menepuk-nepuk pundak bosnya, Andri tau bosnya sedang dilema dengan anaknya, mungkin seorang anak bisa kuat hanya hidup bersama ibunya, karna ibu juga bisa menggantikan sosok sebagai ayah, namun anak bila hidup hanya bersama ayahnya belum tentu anak akan mengerti karna kelembutan seorang ibu tidak bisa dia rasakan.


namun sejatinya keduanya harus ada disaat masa pertumbuhan anak, namun siapa juga yang bisa menghindar dari takdir?


^


Ke esokan harinya kembali Sheila berangkat kesekolah untuk ujian, kali ini Andri yang menjadi supirnya.


Sheila ingin duduk didepan karna sang bos sudah duduk dibelakang, Sheila tidak mau di anggap kurang ajar bila harus duduk dibelakang bersama bosnya.


baru Sheila duduk dan menutup pintu suara Alfin mengagetkannya "Kamu ngapain duduk didepan?" kata Alfin dingin.


"*L*ah terus aku duduk dimana dong?" batin Sheila.


"Maksud bapak?" tanya Sheila bingung.


Andri yang melihat perilaku bosnya yang tidak biasanya merasa aneh "*B*os kesambet apa ya? batin Andri dalam hati.


"Duduk dibelakang," datar Alfin.


Sheila kaget "Eh.. kan Bapak sudah dibelakang, terus aku dibelakang mana?" tanya Sheila polos.


Andri terkekeh mendengar jawaban Sheila "Kamu duduk dibelakang sama bos Sheil," tutur Andri


"Aku malu bang," bisik Sheila


Andri terkekeh kembali mendengar bisikan Sheila "*K*alau orang lain pasti sudah mau kalau suruh duduk bersama bos, tapi Sheila beda, salut aku." batin Andri mengagumi

__ADS_1


Alfin yang melihat Sheila berbisik kepada Andri merasa panas hatinya " Sheil!" ucap Alfin dengan sedikit keras.


Sheila yang mendengar suara bosnya langsung menciut dan menurutinya, Sheila membuka pintu depan mobil dan berpindah kebelakang tepat disamping bosnya "*B*os aneh". pikir Sheila


Setelah Sheila masuk kedalam mobil, Andri segera menyalakan mobilnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.


Alfin menatapa Sheila dengan perasaan aneh "*A*pa yang menarik dari gadis ini, kenapa aku ingin selalu melihatnya." batin Alfin sambil menatap Sheila dengan perasaan yang Alfin pun tak tau itu apa yang pasti Alfin ingin selalu melihat Sheila sekarang.


Andri melihat kearah spion dan merasa heran dengan bosnya yang selalu menatap Sheila namun Sheila hanya melihat ke jendela mobil melihat jalanan yang dia lalui sehingga Sheila tidak sadar bila diperhatikan oleh Alfin "*P*erasaanku ko sibos aneh ya, liatin Sheila mulu jangan-jangan jatuh cinta lagi sama pengasuh anaknya sendiri, ah gak mungkin, sibos seleranya tinggi." batin Andri dalam hati.


tak terasa mobil mereka pun sampai ditempat sekolah ujian Sheila, Sheila segera turun dari mobil dan menutupnya kembali.


Sheila tersenyum dan berjalan keruangan ujian sebelumnya dia berterimakasih dan berpamitan kepada Andri yang langsung berangkat kekantor Alfin setelah mengantar Sheila dan Alfin.


"Sheila!" Yeni dan Santi yang juga baru tiba menyapa Sheila dan melambaikan tangannya kepada Sheila.


Sheila yang melihat temannya seketika tersenyum dan membalas lambaian tangannya, Sheila berjalan mendekat kearah teman-temannya "Kalian baru sampai?" tanya Sheila.


"Iya Sheil, kamu berangkat sama Pak Guru kan Sheil?" goda Yeni mencolek tangan Sheila.


"His kau ini! udah ayo masuk," Sheila menggandeng teman-temannya masuk kedalam ruang ujian.


"Sheil, gimana kabarmu kok kayanya itu muka belum disetrika, kusut amat," tanya Santi yang melihat muka Sheila tak ceria seperti hari kemarin.


"Baik ko San," jawab Sheila berbohong.


"Masa? tapi aku lihat kamu sepertinya ada masalah?" timpal Santi yang tak percaya jawaban Sheila.


"Tau lah, kepalaku rasanya mau pecah ini,pusing!" keluh Sheila menyenderkan kepalanya dibangku yang dia duduki.


"Ha! kamu pusing Sheil, kamu sakit!" panik Yeni tangannya memegang kening Sheila "Tidak panas," kata Yeni.


"Pusing mikirin hidup Yen," Sheila menjawab tapi matanya terpejam.


"Cerita sama kita Sheil, siapa tau kita bisa bantu kamu," kata Santi.

__ADS_1


Sheila memperbaiki duduknya setelah mendengar perkataan Santi "Hem, aku aja bingung San mau cerita apa, karna ini tidak pantas untuk diceritakan," kata Sheila melihat teman-temannya.


"Cerita aja," ulang Santi.


belum sempat Sheila berbicara Alfin masuk kedalam ruangan seketika ruangan senyap tak ada suara, semua peserta ujian mendadak duduk rapi karna sebelumnya mereka duduk asal-asalan.


seperti biasa Alfin memberi salam dan memberikan wajangan kepada peserta ujian sebelum Alfin membagi kertas ujiannya.


Sheila hanya mendengarkan Alfin berbicara tapi hatinya memikirkan Sunari bapaknya "*A*pa bapak sama sekali tidak mengenaliku sebagai anaknya? cih bapak macam apa dia, aku benci!" batin Sheila tak sadar telah meremas-remas kertas ujiannya.


"Sheila kenapa kamu meremas-remas kertas ujiannya, kamu gak niat ikut ujian!" tegur Alfin dengan suara yang membuat peserta ujian melihat kearah Sheila.


Sheila yang sadar dari lamunannya langsung melihat tangannya yang telah meremas kertas ujiannya "*A*stagfirullah." Sheila istigfar dalam hati.


"Maaf pak tidak sengaja," ucap sheila dengan wajah memelas dan malu karna semua peserta ujian sedang melihatnya.


Alfin yang melihat wajah memelas Sheila hanya bisa menghembuskan nafasnya dan membuangnya secara perlahan "Baiklah, perbaiki dan kerjakan!" tegas Alfin.


Sheila pun menuruti sang guru, Sheila berusaha untuk fokus pada kertas ujiannya walau sebenarnya hati dan pikirannya sedang tidak sejalan namun Sheila tetap berusaha agar dia bisa mengerjakan ujian dengan baik.


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


#besok lagi 😊jangan lupa vot dan like untuk dukung Author ya 😊😊


__ADS_2