
Alfin tersenyum senang dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri "Aku mandi dulu ya," ucap Alfin sebelum masuk kekamar mandi.
Sheila tak menjawab perkataan Alfin karna hatinya saat ini sedang kesal dengannya. Alfin justru tersenyum melihat tingkah Sheila yang sedang kesal.
"Kita mulai riasnya ya Non," kata Mia yang menjadi perias Sheila.
Sheila tersenyum dan mengangguk "Nama kamu siapa Mba? panggil Sheila aja jangan Non Mbak, saya tidak pantas dipanggil Non," Sheila merasa geli dengan panggilan Mia.
Mia mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Sheila "Panggil Mia aja Non, sudah sepantasnya kami memanggil Non untuk pelanggan kami, apalagi Tuan Alfin yang memanggil kami, suatu kehormatan untuk kami," ucap Mia tersenyum kepada Sheila.
"Tapi saya bukan siapa-siapa Pak Alfin Mbak Mia!" tegas Sheila.
Mia sejenak menghentikan kegiatannya dan menatap Sheila dengan heran "Nona ini ada-ada saja, mana mungkin Tuan Alfin menyuruh kami untuk merias Nona kalau Nona bukan siapa-siapa Tuan Alfin," Jawab Mia sambil tertawa kecil dan memulai kembali pekerjaannya.
Sheila menghembuskan nafasnya dengan berat "Aku gak bercanda Mba Mia, aku cuman pengasuh anaknya ko, jadi panggil Sheila saja Mba," tutur Sheila menegaskan kembali untuk memanggil namanya kepada Mia.
Mia dan Asistennya yang bernama Yuli yang sedang menata rambut Sheila saling pandang mendengar perkataan Sheila, dan tiba-tiba Mia terkekeh "Nona ini ada-ada saja, masa Tuan Alfin menyuruh kami merias pengasuh ananknya, gak mungkin banget, ya kan Yul," Mia menatap Yuli sambil terkekeh.
"Iya Non, setahu kami Tuan Alfin itu tidak dekat dengan para pekerjanya apalagi yang cuman pengasuh anaknya, rasanya bukan Tuan Alfin banget deh," timpal Yuli yang sedang sibuk menata rambut Sheila.
"Hem, terserah kalian lah," Sheila akhirnya menyerah dan memilih diam.
^
Setelah mandi, Alfin memakai baju dan merapikan diri, Alfin turun kebawah bersama baby Inez.
Alfin dan baby Inez menunggu Sheila dimeja makan, Alfin menundukan baby Inez di kursi yang biasa baby Inez duduki.
"Bi, nanti berangkat bareng Alfin saja kepesta Fino," ajak Alfin yang melihat Bi Tini keluar dari kamar setelah berias.
"*Tu*mben Den Alfin ngajakin berangkat bareng, biasanya juga enggak?" batin Bi Tini dalam hati.
"Tidak usah Den, kan nanti suami Bibi anter Bibi," Bi Tini menolak permintaan Alfin.
"Oh...oke kalau begitu Bi," Alfin kemudian duduk disebelah Inez.
^
__ADS_1
30menit lebih Sheila dirias oleh Mia dan Yuli dan kini mereka hampir selesai merias Sheila yang tinggal berganti pakaian.
Sheila yang sudah sangat lelah karna harus duduk terus mulai gelisah dan menggerutu tak jelas membuat Mia dan Yuli terkekeh.
"Mba udah belum sih, saya capek Mba!" kesal Sheila yang sudah sangat bosan dan capek harus duduk terus.
Mia dan Yuli tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya "Ini sudah selesai Non, sekarang Non ganti gaun dulu ya," tutur Yuli
Mia mengambilkan gaun yang akan dipakai Sheila, "Ini non gaunnya," Mia tersenyum memberikan gaun itu kepada Sheila.
Namun Sheila justru tak percaya bila dirinya harus memakai gaun yang indah yang dipegang oleh Mia "Mba ini bercanda ya, ini kebagusan Mba, yang biasa aja gaunnya," tolak Sheila.
Mia mengernyitkan keningnya, "Maksud Nona?" tanya Mia yang tak menyangka Sheila akan menolak memakainya.
"Ya maksud saya ganti gaunnya yang biasa saja Mba, itu terlalu bagus buat saya," tolak Sheila.
"Nona ini bagaimana, dikasih gaun yang bagus dan indah ini masa gak mau makai, kalau nona gak mau biar Mia aja Non yang makai," ucap Mia sambil memeluk gaun yang dia pegang.
"Hus ntar kedengaran pak Alfin baru tau rasa kamu!" seru Yuli menyenggol lengan Mia.
"Hehe, udah Non ini pakai aja buruan, kasihan Tuan Alfin pasti sudah menunggu Nona," tutur Mia.
Setelah Sheila mengganti gaunnya, Sheila kembali ke kamar, Mia dan Yuli tertegun melihat Sheila yang sudah rapi dengan gaun dan riasannya "Wah, lihat kekaca Nona, Nona sangat cantik sekali," puji Yuli yang kagum melihat Sheila dengan gaun dan riasannya.
Sheila menghadap kaca menuruti perkataan Yuli, Sheila tertegun melihat dirinya didepan cermin, Sheila memegang kedua pipinya dengan tangannya "Mba, apa ini tidak terlalu berlebihan, aku malu Mba," ucap Sheila yang masih tidak percaya perubahan dirinya.
"Ya ampun Nona, Nona ini lucu sekali, Nona ini cantik kenapa harus malu, bahkan semua wanita ingin secantik Nona loh, Tuan Alfin pasti sangat suka dengan penampilan Nona hari ini, ayo kita turun Nona," ajak Yuli yang merasa Sheila sangat lucu dan lugu padahal wanita lain ingin seperti dirinya, Yuli menggandeng tangan Sheila untuk mengajak turun kebawah menemui Tuan Alfin dan anaknya.
"Mba, aku malu," Sheila merasa dirinya sangat malu dan gerogi saat ini, hingga tangannya terasa dingin.
Yuli hanya tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Sheila memberikan ketenangan untuk Sheila.
^
Alfin yang mendengar suara kaki dari tangga segera menoleh kesumber suara, Alfin tertegun melihat penampilan Sheila, mata Alfin tak sedikitpun berpaling dari Sheila, senyum dibibir Alfin membuat sheila malu dan menundukan kepalanya.
sedangkan Alfin masih terus memandang Sheila tak berkedip, Alfin sangat terpesona dengan penampilan Sheila saat ini.
__ADS_1
"Anggun." batin Alfin.
"Kenapa lama sekali!" Alfin pura-pura kesal.
"Maaf pak, marahin saja mereka," Sheila menunjuk Mia dan Yuli.
Mia dan Yuli kaget namun tersenyum "Maaf Tuan Alfin, tapi hasilnya bagus kan," ucap Mia.
Alfin hanya mengangkat tangan dengan jari telunjuk yang melingkar dengan ibu jarinya. Mia dan Yuli sangat senang melihat respon Alfin.
Mereka berdua pun akhirnya pamit dan kembali ketempat kerja mereka.
sedangkan Sheila daritadi hanya menunduk karna merasa tidak pantas dan malu untuk semua ini.
Alfin mengangkat dagu Sheila "Kenapa?" tanya Alfin.
Pandangan mereka seketika bertemu dan untuk beberapa saat mereka saling memandang, entah apa yang ada dihati masing-masing. (hanya Tuhan dan Author yang tau) 😄.
"Apa aku pantas memakai ini semua Pak, menurutku ini berlebihan untuk orang bawah sepertiku," Sheila menunduk karna malu.
Alfin tertegun dengan perkataan Sheila, jika orang lain mungkin akan merasa sangat senang, "Semua wanita pantas memakainya," ucap Alfin tulus.
"Ayo kita berangkat, Mamahku sudah menelfon daritadi menyuruh kita segara kesana," ajak Alfin, Alfin menggendong baby Inez
"Biar Sheila saja Pak yang menggendong baby Inez," pinta Sheila.
Alfin mengenggam tangan Sheila dan melingkarkannya dilengan Alfin "Biar aku saja," Alfin tersenyum kepada Sheila.
Hati Sheila menjadi tak karuan dengan sikap Alfin, Sheila melihat tangannya yang melingkar dilengan Alfin membuat hatinya semakin tak karuan, namun Sheila pasrah dengan perintah Alfin.
*
*
*
*
__ADS_1
#maaf baru UP, karna sibuk dengan jemur jagung 😄😄 ayo siapa yang saat ini sedang panen dan sibuk 😅😅 sama kaya Author kalau begitu 😁😁