Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Aku mau dirimu!


__ADS_3

Hari minggu itu Sheila meminta Alfin untuk pergi kesupermarket untuk membeli kebutuhan rumahnya karena semua bahan-bahan sudah habis.


Saat Sheila asyik memilih bahan-bahan disalah satu rak tiba-tiba ada yang menabraknya membuat Sheila hampir terjatuh untung ada Alfin yang menjaganya, "Maaf...maaf...aku tidak sengaja." ucap seorang wanita yang tak lain adalah Ellena.


Wajah Alfin pucat pasi ketika melihat Ellena didepan matanya, Sheila berdiri kembali dan melihat Ellena dengan sedikit kesal karena Sheila tahu jika itu pasti disengaja karena kebetulan ditempat Sheila kini tidak begitu ramai.


"Saya maafkan..." ucap Sheila membenarkan pakaiannya dengan wajah yang sedikit kesal.


Ellena tersenyum sinis dan menatap Alfin dengan tatapan membunuh, Ellena mengedipkan satu matanya kepada Alfin saat Sheila sedang membenarkan bajunya.


Alfin berdecak kesal dan membuang mukanya, Ellena melewati Sheila dan berhenti tepat dipinggir Alfin dan membisikan sesuatu, "Baca pesanku." bisik Ellena didekat Alfin membuat Alfin mematung.


Ellena segera pergi, Sheila mendongak dan berdecak kesal, "Ha! dia pasti sengaja menabrakku." kesal Sheila tidak terdengar ditelinga Alfin.


"Beby...kamu baik-baik saja?" Alfin memeriksa tubuh Sheila.


"Aku tidak apa-apa, hati aku yang tidak baik-baik saja. dia pasti sengaja menabrakku tadi." gerutu Sheila sambil mengerucutkan bibirnya.


Alfin mengangkat alisnya, "Sengaja? maksudmu?" tanya Alfin yang merasa tersindir oleh kata-kata Sheila.


"Dia tidak suka padaku dari pertama datang kerumah kita." ucap Sheila dengan wajah kesal.


Alfin terdiam mencerna kata-kata istrinya, "Memang apa yang sudah dia lakukan padamu sayang." Alfin mengambilkan barang yang ingin Sheila ambil.


"Dia tidak melakukan apapun Mas, tapi kata-katanya pedes kaya cabe Setan." Sheila menekankan kata setan untuk Ellena.


Alfin terkekeh, "Wajahmu lucu sekali Sayang kalau sedang kesal seperti itu." Alfin mencubit hidung Sheila dengan gemas.


Sheila mengerucutkan bibirnya, "Mas ini!" Sheila berbalik dan berjalan kerak yang lain, Alfin mengambil ponselnya yang ada disakunya.


Alfin membuka ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan yang masuk, karena Alfin kepikiran dengan bisikan Ellena tadi.


"Temui aku nanti malam dicafe bintang." pesan Ellena.


"Shit!" Alfin berdecak kesal lalu menyusul istrinya yang sudah berada dirak depan.

__ADS_1


Alfin kepikiran dengan pesan Ellena, "Darimana dia mendapatkan nomerku? pasti James? brengsek!" kesal Alfin dalam hati.


Setelah berbelanja Alfin dan Sheila pergi meninggalkan supermarket dan masuk kedalam mobil , "Mas...kapan kita jemput Inez? aku kangen dengan dia, aku juga kesepian." mendengar keluhan istrinya Alfin menoleh sebentar lalu fokus kembali untuk mneyetir walaupun sebenarnya pikirannya sekarang sedang bercabang.


"Kita kerumah Mamah sekarang mau?" tanya Alfin, Sheila mengangguk semangat.


Alfin akhirnya melajukan mobilnya kearah rumah orangtuanya, hati Alfin menjadi was-was dan dipenuhi teror sekarang sebab kejadian malam petaka itu.


Alfin berusaha tenang dan berfikir agar wanita itu tidak menjadikan malam itu masalah baginya karena jika Sheila tahu semua itu, Alfin yakin tidak akan mudah menerima maaf darinya.


Sampai dirumah orangtuanya, Alfin dan Sheila turun dari mobil lalu berjalan kearah pintu, saat Alfin ingin memencet bel, pintu tiba-tiba terbuka, "Mommy!" teriak Inez langsung memeluk Sheila.


Sheila memeluk Inez dan menciumi wajah Inez dengan gemas, Alfin melihatnya terharu karena Inez dan Sheila saling menyayangi satu sama lain dan itu yang membuat Alfin jatuh hati pada istrinya.


Alfin melipat kedua tangannya diatas perut, "Daddy sudah dilupakan nih?" Inez langsung tertawa dan memeluk Alfin, Alfin memeluk dan menggendongnya kedalam.


"Kalian tidak bilang kalau mau kesini?" tanya Novi yang tadi berada dibelakan Inez.


"Sheila kangen katanya dengan Inez Mah, kami bolehkan menjemputnya pulang." saut Alfin lalu duduk diruang keluarga.


"Inez tidak mau pulang." Inez menggelengkan kepalanya.


"Kata Omah biar Mommy sama Daddy bikin dede dulu buat Inez...Inez kan pingin dede bayi Mommy." Novi berpura-pura membaca koran karena perkataan Inez yang sangat jujur itu.


Sheila dan Alfin saling pandang lalu mengalihkan pandangan kearah orangtuanya, "Mamah..." panggil Alfin yang tahu bila ibunya itu hanya berpura-pura membaca koran.


Novi terkekeh dan menutup korannya lalu melihat kearah anak dan menantunya, "Kalian fokus dulu buat bikin cucu buat Mamah, Inez biar disini aja, lagian kalian juga belum menemukan pengganti Sita kan? nanti kalau Inez disana Sheila pasti capek dan bakal lama Mamah punya cucu lagi." ucap Novi menjelaskan alasannya.


Alfin dan Sheila kompak membuang nafasnya mendengar perkataan Novi membuat Alfin menggelengkan kepalanya, "Mamah ini...Sheila kan kemarin baru keguguran Mah, pasti butuh waktu lagi buat hamil lagi." ucap Alfin.


"Maka dari itu Sheila tidak boleh kecapaian biar cepat pulih, lagian disini Inez betah kok, kalian tenang saja. gak papa kan Sayang?" Novi membelai pipi Sheila.


Sheila tersenyum walau berat rasanya, tapi mungkin itu yang terbaik untuknya sekarang, "Makasih Mamah sudah mau memikirkan kondisi Sheila Mah, jika menurut Mamah itu yang terbaik Sheila nurut aja Mah." Novi tersenyum puas dengan kelegaan hati Sheila.


"Menantu Mamah memang baik, Mamah doakan agar kamu cepat bisa hamil lagi dan memberikan Inez dede bayi ya?" Inez mengangguk semangat.

__ADS_1


"Kalau begitu biar Alfin dan Sheila bikin sekarang ya Mah?" ucapan Alfin membuat Novi tertawa dan Sheila kesal.


"Kamu ini!" Sheila mencubit perut Alfin karena malu digoda didepan mertua dan anaknya.


^


Malam harinya Alfin keluar rumah orangtuanya untuk menemui Ellena, Alfin beralasan untuk bertemu dengan James kembali, Sheila pun mengerti dan tidur dengan Inez karena Sheila dan Alfin menginap dirumah orangtua Alfin.


Sampai didepan Cafe, Alfin tidak langsung turun dari mobil. Dia diam mematung didalam mobil dan menyiapkan dirinya untuk menyelesaikan masalahnya yang harus selesai malam ini juga, Alfin tidak mau dikejar-kejar oleh sebuah kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan.


Ellena melambaikan tangannya ketika melihat Alfin masuk kedalam Cafe dan sedang mencarinya, Alfin berjalan kearah Ellena lalu duduk dihadapan Ellena.


"Kamu sudah membaca suratku yang aku tinggalkan untukmu kan?" tanya Alfin tanpa basa-basi.


Ellena menatap Alfin tanpa rasa takut, "Aku...sama sekali tidak butuh uangmu Alfin Purnomo Said." ucap Ellena menatap Alfin dengan tatapan membunuh.


Alfin berdecak kesal dan membuang mukanya melihat mata Ellena yang selalu menatapnya, "Lalu apa maumu? kamu pikir aku melakukannya dengan rasa? ini sebuah jebakan! Kau dengan James yang menjebakku bukan? lalu apa maksud kalian melakukan ini padaku?" hati Alfin begitu geram saat ini karena harus mengatakan kejadian malam itu lagi.


Ellena tertawa mendengar pertanyaan Alfin yang menurutnya sangat bodoh itu, Ellena mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan Alfin, dan disalah satu meja seseorang yang memakai topi hitam mengambil momen itu dengan cukup baik, "Aku butuh dirimu Alfin." Alfin menatap Ellena dengan tajam.


"Tapi aku tidak butuh dirimu!" Alfin mulai kesal dengan tingkah Ellena.


"Cepat katakan apa maumu dan aku harap semua berakhir." tagas Alfin.


Ellena menggenggam tangan Alfin, "Aku sudah bilang bukan kalau aku hanya butuh dirimu." Ellena tersenyum, Alfin melepaskan genggaman tangan Ellena dan mengibaskan tangannya kebawah.


"Jangan pernah menyentuhku lagi! aku jijik denganmu!" kesal Alfin.


Alfin kesal dan ingin pergi dari Cafe itu namun suara Ellena menghentikan langkahnya, "Kalau kamu tidak mau Sheila tahu soal malam itu! turuti perintahku!" ancam Ellena.


Alfin membalikkan badannya melihat kearah Ellena dan menatapnya dengan sangat tajam, sungguh ini awal petaka baginya, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?


(besok lagi 😁😁😁)


Pembaca ada yang dari kota Pemalang gak nih??? kalau ada sama kaya aing karena aing dari Pemalang 😂😂😂

__ADS_1


#Gaje lu thor 😕😕


*Aing emang lagi gaje banget 😂😂😂😂


__ADS_2