Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Bertemu masa lalu


__ADS_3

"Kok Sheila lama ya Hev?" Mayang mulai cemas dengan anak sulungnya.


"Mau disusul Bu?" tanya Hevi yang melihat kecemasan diwajah ibu Sheila.


Mayang mengiyakan perkataan Hevi, akhirnya Mayang,Hevi dan yang lain mencari Sheila dengan menyurusi gedung "Aduh dimana ya?" ucap Yeni yang sudah mulai pegal kakinya.


"Ih lebay amat sih!" Santi menyentil kepala Yeni.


Saat sedang berjalan tak sengaja mayang menabrak seseorang BRUUUKKKKK "Auh..." Mayang hampir terjatuh untung ada Hevi yang sempat menangkap ibunya Sheila itu.


"Apa ibu gak papa bu?" tanya Hevi memeriksa Mayang.


"Gak papa Nak, makasih ya Hev," ucap Mayang.


"Maaf...saya tidak sengaja," ucap seseorang lelaki yang tadi menabrak Mayang.


"Oh tidak ap..." Mayang berhenti berkata karna melihat seseorang yang tadi menabraknya, orang itupun terkejut melihat Mayang yang ada didepanya.


"Mayang?" orang itu adalah Sunari mantan suami Mayang dan bapak kandung dari Sheila.


Mayang hanya diam mematung melihat siapa yang ada didepannya, dia tidak menghiraukan panggilan dari mantan suaminya tersebut "Kenapa mas Sunari bisa ada disini? apa dia salah satu tamu disini?" batin Mayang dalam hati.


"Mayang? siapa dia Pak? kayanya Bapak kenal dengan wanita ini!" tanya Tini yang mulai curiga.


"Bu...Bapak itu siapa?" bisik Hevi ditelinga Ibu Sheila.


"Mantan suami Ibu Hev," Mayang berucap lirih namun masih terdengar ditelinga Tini.


"Apa! mantan suami?" Tini terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Pak! jawab! siapa wanita ini!" Tini menunjuk Mayang dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Sheila yang baru keluar dari ruangan baby Inez tidur terkejut melihat Ibu dan yang lain sedang berada didekat ruangan, namun Sheila lebih terkejut melihat orang yang ada didepan Ibunya "Bapak?" Sheila segera menghampiri sang Ibu karna Sheila melihat ada yang tidak beres dengan Ibunya, benar saja saat Sheila semakin dekat suara Bi Tini dan cara Bi Tini yang sedang menunjuk Ibunya, menjadikan Sheila semakin cepat berjalan, Alfin pun ikut menghampiri mereka.


"Jangan berani menunjuk Ibuku seperti ini!" Sheila menurunkan tangan Bi Tini yang sedang menunjuk Ibunya.


Bi Tini menoleh kearah sumber suara namun Tini dibuat terkejut melihat siapa yang ada didepannya "Sheila!" ucap Bi Tini dengan suara terkejutnya.


Sunari yang tengah menunduk, mendongakan kepalanya mendengar nama Sheila, betapa terkejutnya Sunari melihat orang yang disebut Sheila sama persis dengan orang yang dia temui dirumah bosnya yaitu Alfin dan Sunari lebih terkejut dengan pengakuan Sheila bahwa dia adalah anak Mayang "Dia Sheila anakku, Ya Allah dia sudah sebesar ini sekarang." batin Sunari.


"Kenapa Bibi menunjuk-nunjuk Ibu saya, kenapa dengan Ibu Saya!" pertama kali Sheila berbicara tegas kepada Bi Tini dan tanpa senyum.


"Kamu tanyakan pada Ibumu ini! apa yang sudah dia katakan!" Tini melirik Mayang dengan sinis.


Melihat Bi Tini melirik Ibunya dengan tatapan tidak suka membuat Sheila ingin marah, namun segera Sheila beristighfar dalam hati untuk meredamkan rasa marahnya, lalu Sheila menghampiri sang Ibu "Ada apa Mah?" Sheila menggemgam tangan sang Ibu dengan lembut.


"Bapakmu ada disini Sheil," Mayang berucap serak menahan airmatanya agar tidak jatuh didepan anaknya.


Sheila semakin mengeratkan genggaman tangannya dan melirik ke arah bapak kandungnya "Sheila tau Mah," perkataan Sheila membuat Mayang terkejut.


"Tapi sayang seorang Bapak tidak pernah mengenali anaknya sendiri, bahkan mungkin sudah lupa bahwa sebenarnya dia punya anak!" sindir Sheila dengan tegas.


Perkataan Sheila membuat hati Sunari merasa sangat bersalah, didalam hatinya dia mengakui selama ini dia tidak pernah sekalipun menjenguknya bahkan sekedar memberi nafkah pun tidak, Sunari merasa menyesal sekarang. Sunari kini hanya bisa menunduk seperti terdakwa.


"Bahkan, dia meninggalkan Ibuku dalam keadaan hamil muda!" lanjut Sheila. Sunari semakin bungkam dengan perkataan Sheila.


"San kok gue jadi takut ya, jadi ribut gini!" bisik Yeni ditelinga Santi.


"Diem Yen!" Santi melototkan matanya pada sahabatnya tersebut, Yeni pun langsung bungkam melihat mata sahabatnya yang seperti mau copot melihatnya.


"Kenapa kamu gak pernah cerita soal ini Yem?" batin Hevi.


Alfin yang sudah tau siapa Sunari hanya bisa melihat keterkejutan Bi Tini dan yang lainnya tentang masalah ini, Alfin memasukan tangannya disaku celana sambil terus memperhatikan wanita yang berhasil mencuri hatinya yang saat ini sedang memberikan pelajaran untuk bapak kandungnya sendiri yang sudah meninggalkannya sejak kecil.

__ADS_1


Alex yang baru saja keluar dari toilet dan hendak pergi untuk beegabung lagi bersama teman-teman bisnisnya ditengah jalan dia melihat seseorang yang dia cari selama ini "Wanita itu? benarkah dia ada disini? apa aku hanya berhalusinasi." Alex mengucek matanya lalu melihat kembali apa yang dia lihat tadi "Benar dia wanita itu!" gumam Alex tersenyum akhirnya pencariannya selama ini berakhir sudah, Alex berjalan menghampiri wanita yang selama ini dia cari dengan perasaan hatinya yang sangat senang saat ini bisa bertemu dengan wanita yang menjadi penolongnya dulu.


"Apa yang kamu katakan! siapa orang yang kamu maksud!" Tini berucap sedikit membentak karna dia mengira bahwa suaminya lah yang saat ini diomongin Sheila.


"Bibi tanyakan saja pada orang yang itu!" Sheila menunjuk Sunari yang tengah menunduk.


"Sheil, tidak sopan Nak!" tegur Mayang melihat kelakuan anaknya yang menunjuk-nunjuk bapak kandungnya dengan jari telunjuknya.


Sheila memandang sang Ibu dengan mata yang ingin menangis "Apa dia dulu sopan Mah meninggalkan kita?" Sheila berusaha untuk tidak menangis dihadapan Ibunya.


Mayang memeluk anaknya dengan bersamaan airmata yang tidak bisa dia tahan lagi "Maafkan Mamah sayang, ini semua salah Mamah!" ucap Mayang membuat Sheila melepaskan pelukannya.


"Kenapa Mamah yang harus minta maaf," Sheila tak kuasa melihat sang Ibu menangis, dia menyeka airmata sang Ibu dengan ibu jarinya.


Tini berjalan mendekat kearah Sunari "Kenapa kamu cuman diem Pak, apa berarti semua ini bener Pak? kenapa kamu tak pernah bilang padaku Pak?" Tini memukul dada sang suami sambil menangis.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku tidak jujur, aku takut kamu meninggalkanku lagi Bu," Sunari menjawab dengan suara serak ingin menangis.


Tini semakin menangis mendengar jawaban sang suami, Tini tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang melihat kenyataan suaminya telah berbohong kepadanya tentang statusnya dulu.


"Permisi..." sapa lelaki yang kini berada disamping Ibu Sheila.


mendengar suara menyapa semua yang ada disitu menoleh kesumber suara, Tini yang sedang menangis sambil berdiri ikut melihat sumber suara, diapun terkejut melihat orang yang mempunyai suara yaitu mantan suaminya, Tini hampir tak percaya mantan suaminya sedang berada disini, Tini kira dia takkan selamat waktu dia tinggal dulu.


Alfin yang melihat Alex berada disitu merasa tidak enak Alfin fikir Alex terganggu dengan keributan yang sedang terjadi, Alfin segera menghampiri Alex "Paman Alex? maaf jika Paman terganggu dengan keadaan ini, ini hanya ada sedikit masalah kok Paman, kami akan menyelesaikannya, biar Paman tidak terganggu," Alfin berkata dengan sangat sopan.


Alex justru tersenyum "Aku justru bersyukur, karna dengan ini aku bisa bertemu dengan wanita yang selama ini aku cari," Alex menepuk-nepuk bahu Alfin, membuat Alfin merasa heran "*W*anita?" batin Alfin.


Kedatangan Alex membuat Alfin berinisiatif untuk menyelesaikan masalah diruangan tertutup yang ada digedung acara tersebut, karna Alfin takut semakin banyak yang datang karna keributan tadi, dan itu akan merusak suasana pesta adiknya.


Alfin mengajak Sheila dan keluarga beserta yang lain keruangan yang ada digedung itu, dan semua menurut dan pasrah dengan perintah Alfin.

__ADS_1


__ADS_2