Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Nasi sudah menjadi bubur


__ADS_3

Sheila masuk kedalam cafe bersama Alfin, sedangkan Inez bersama Novi dirumah "Sheil..." panggil Tia sambil melambaikan tangannya.


Sheila tersenyum dan langsung menghampiri Tia setelah berpamitan kepada Alfin, Alfin menunggu dibangku yang lain, ingin bergabung namun enggan, karna Tia datang sendiri tidak bersama Aldo.


"Kakak sudah lama?" tanya Sheila saat mendudukan dirinya dikursi hadapan Tia.


"Lumayan," Tia memangil pelayan untuk memesan minuman dan makanan.


"Mau jadi pengantin kok keluar-keluar Kak?" tanya Sheila.


"Kan keluarnya sama adik, jadi gak masalahkan?" Tia menaik-turunkan alisnya, mengundang tawa diantara mereka.


Alfin dari kejauhan melihat kedekatan istri dan mantan sahabatnya "Kenapa mereka begitu akrab, dulu dengan Angel tak pernah seperti itu." batin Alfin, bibirnya tersenyum melihat kedekatan Sheila dan Tia.


"Sheil..." panggil Tia.


"Iya." Sheila mengangkat kepalanya melihat Tia.


"Ada yang pingin aku sampaikan," tutur Tia pelan.


Sheila mengangkat alisnya "Apa?" tanya Sheila penasaran.


Tia terdiam sejenak memandang Sheila "Perasaanku jadi khawatir gini sama Sheila." batin Tia, yang tiba-tiba merasaka kekhawatiran terhadapa Sheila.


"Kak. Kakak..." Sheila menggoyang-goyangkan tangan Tia karena Tia melamun.


Tia tersadar "Eh...aduh maaf kakak malah jadi ngelamun," Tia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kakak ada masalah?" tanya Sheila yang merasa heran.


Tia langsung menggelengkan kepalanya "Kakak hanya merasa khawatir sama kamu?" tutur Tia pelan.


Sheila mengerutkan keningnya "Khawatir? Sheila baik-baik saja Kak, Kakak tenang saja," Sheila menggenggam tangan Tia sambil tersenyum, Tia membalas senyuman Sheila lalu mengangguk.


^


James dan Ellena sedang makan malam yang terakhir di Perancis karena besok pagi mereka sudah harus pergi meninggalkan kota Romantis tersebut.


"Aku harap di Indonesia kamu tidak membuat ulah!" tegas James.


Ellena tersenyum sinis "Tergantung kondisi Honey," James menatap Ellena tajam.


"Habis menghadiri pernikahan mereka kita kembali lagi kesini!" perintah James.


Ellena terdiam dan itu membuat James tidak berselera untuk makan lagi, James meletakan sendok dan garpu yang dia pegang lalu pergi meninggalkan Ellena sendiri.

__ADS_1


Ellena menatap punggung James "Aku juga harus memastikan kalau dia sekarang menderita!" gumam Ellena menahan marah, dia menggenggam garpunya dengan sangat erat lalu melemparnya ke meja dengan keras.


Ellena menyandarkan badannya dikursi tangannya kini melipat diatas perutnya, wajahnya terlihat sangat kesal "Menyebalkan!" gumam Ellena langsung berdiri meninggalkan meja makan dan menumui James.


"Jam." panggil Ellena, James tidak bergeming dari tempat duduknya, tangannya memegang foto bayi yang baru lahir.


Ellena mendekati James "Sampai kapan kamu memandangi foto itu?" Ellena duduk disamping James.


"Aku pastikan dia akan ikut bersamaku!" geram James kepada Ellena yang sama sekali tak peduli pada anaknya sendiri.


Ellena tersenyum sinis "Kamu gila! Alfin tidak akan mengampunimu! kalau kamu melakukannya!" ucap Ellena.


James menatap Ellena tajam "Memangnya mereka bakal percaya dengan kata-katamu!" ucap Ellena dengan sinis.


James berdiri dan berteriak dengan keras, James merasa keputusannya selama ini salah telah menuruti kata-kata Ellena, namun nasi sudah menjadi bubur, James tidak bisa lagi memutar waktunya kembali.


Dan kembalinya mereka ke Indonesia membuat James semakin merindukan anaknya, kesalahan terbesar meninggalkannya membuat hatinya semakin berkecamuk, rasa marah dan bersalah menjadi satu.


"Kita akan sering kerumah Alfin, agar kamu selalu bisa bertemu dengan anakmu," tutur Ellena menghibur hati James.


James terdiam tidak menjawab sepatah katapun, matanya menatap lurus kedepan, melihat hamparan kota Perancis.


^


"Apaan sih!" umpat Dani.


"Kamu yang ngapain datang-datang tidur!" marah Alfin.


"Aku lagi ngidam Fin, rasanya lemas sekali dari tadi mual mulu, aku pingin tidur sebentar disini Fin," ucap Dani lemas, lengannya menutup matanya.


Alfin berdiri mendekat dan duduk disebelah Dani "Istrimu hamil?" tanya Alfin penasaran.


"Iya! ini sungguh sangat menyiksaku! tiap pagi aku harus merasakan mual dan tidak bisa makan! menyebalkan!" umpat Dani.


Alfin tertawa kencang mendengar umpatan Dani, Dani memukul Alfin dengan bantal yang sedang dia tiduri "Diam bodoh!" kesal Dani.


"Syukurin! kaya aku dong istri hamil ya istri yang ngidam," ledek Alfin.


"Memang Sheila sekarang sudah hamil?" tanya Dani.


"Belum sih, maksudku waktu sama Angel dulu bodoh!" ucap Alfin.


"Ha! aku kirain Sheila sudah hamil! aku sumpahin kalau Sheila hamil kamu yang ngidam Fin! biar kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini!" umpat Dani.


Alfin hanya tertawa mendengar umpatan Dani "Kamu saja!" Alfin berdiri lalu kembali ketempat duduknya.

__ADS_1


"Kenapa gak tidur dikantor sendiri saja!" ucap Alfin.


"Aku pingin disini!" saut Dani.


"Cih! itu bagian dari ngidam juga?"


Dani hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh kearah Alfin.


"Dan..." tiba-tiba Alfin teringat sesuatu.


"Apa lagi!" saut Dani dengan suara kesal.


"James akan ke Indonesia," mendengar kata-kata Alfin, Dani langsung duduk.


"James? untuk apa?" tanya Dani penasaran.


Alfin mengangkat bahunya "Aku gak tahu, dia hanya bilang mau ke Indonesia," tutur Alfin.


Dani mengangkat alisnya "Aneh!" gumam Dani namun masih terdengar ditelinga Alfin.


"Aneh kenapa?" saut Alfin.


"Ya aneh aja! tiba-tiba mau ke Indonesia, dari dulu diajak ke Indonesia selalu menolak," Dani kembali tidur disofa.


Alfin terdiam dengan kata-kata Dani, tiba-tiba Alfin teringat dengan tuduhan Tia dulu yang mengatakan bahwa Angel mesra dengan James, namun Alfin tidak percaya akan tuduhan Tia dan malah marah kepada Tia.


Bayangan Sheila pun muncul di otak Alfin saat Sheila menasehatinya untuk mencari bukti siapa yang benar dan salah.


"Gak mungkin Angel menghianatiku, tapi Tia...mungkin memang benar apa kata Sheila aku harus mencari bukti! tapi percuma Angel juga sudah tidak ada, untuk apa? sekarang sudah ada Sheila!" batin Alfin saat melamun hingga tak sadar bila Dani dari tadi memanggilnya.


"Apaan sih!" ucap Alfin yang kaget karena teriakan Dani.


"Kamu yang kenapa? ngelamun gak jelas! mikirin apa?" Dani sudah duduk dihadapan Alfin.


"Mikirin Angel!" ucapan Alfin membuat Dani menatap Alfin dengan tajam.


"Maksudku bukan begitu. aku hanya keingat dengan tuduhan Tia dulu, apa menurutmu Angel bisa selingkuh dari lelaki sepertiku?" ucap Alfin yang mendapat tatapan tajam dari Dani.


Dani mengangkat alisnya lalu melipat kedua tangannya diatas perut "Kamu baru bertanya sekarang? basi Fin! Angel sudah tidak ada baru kamu pertanyakan itu semua! dasar bodoh!" kesal Dani.


Alfin mendengus kesal dan menyenderkan badannya dikursi membenarkan perkataan Dani nasi sudah menjadi bubur


(besok lagiπŸ˜‚πŸ˜‚)


#maafkan author telat uplod karena kuota habis πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2