Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Membuat iri saja!


__ADS_3

James menidurkan Inez dikamarnya setelah itu dia langsung pergi kekamarnya untuk menemui Angel.


"Angel!" teriak James saat menutup pintu kamarnya karena takut ada yang mendengarnya.


Ellena bangkit dari tidurnya dan menghadap James dengan malas "Ada apa?" tanya Ellena malas.


James menarik lengan Ellena dengan sedikit keras "Jangan bilang kalau semua ini adalah ulahmu!" geram James.


Ellena tertawa "Lalu apa pedulimu!" ucap Ellena lalu tertawa.


James geram dengan perkataan Ellena "Jangan mengorbankan nyawa orang lain untuk masa lalumu itu! apalagi Sheila!" ancam James kepada Ellena.


Ellena menghentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman James "Kalau aku melakukannya?" ucap Ellena sambil melipat kedua tangannya diatas perut.


James menatap Ellena dengan tajam "Kamu akan berhadapan denganku!" teriak James geram.


Ellena kembali tertawa mendengar ancaman James "Aku tidak percaya bila James yang berada dihadapanku kini membela wanita lain daripada kekasihnya sendiri! hebat!" sindir Ellena.


James menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya kasar "Aku hanya tidak ingin kau menjadi seorang penjahat! hentikan semua ini dan kembalilah kita keparis dan mulai hidup baru lagi, lupakan pernikahan sahabatmu itu!" ujar James.


Ellena menatap James dengan tajam "Mulai saat ini kita hidup masing-masing! anggap kita tidak punya hubungan apapun" ucapan Ellena membuat James terkejut dan membulatkan matanya.


"Apa yang kamu katakan!" James mendekat.


"Kurang jelas? aku ingin kita hidup masing-masing karena kamu tidak bisa mendukungku," Ellena menunjuk James dengan jari telunjuknya.


James menggelengkan kepalanya "Semudah itu kamu berbicara seperti itu?" James tidak percaya.


"Iya!" Ellena berucap dengan mata yang tajam.


"Jangan menyesali perkataanmu itu!" ucap James lalu pergi dari kamar itu dan masuk kedalam kamar Inez.


Hati James begitu sakit saat ini, bertahun-tahun bersama kini harus berakhir dengan mudah seperti ini, dengan mudahnya Ellena memutuskan segalanya tanpa pemikiran yang panjang.


James merasa kecewa setelah bertahan sejauh ini, James melihat Inez yang sedang tertidur pulas "Dia ibu dari anakku, apa semua ini tidak berarti?" gumam James.


"Siapa Ibu dari anakmu!" suara Novi membuat James terkejut.


Jamea guguo dan menjadi salah tingkah, tidak menyangkan bila tiba-tiba ibu Alfin itu berada dikamar Inez. James tidak tahu bila kamar Inez dan Alfin menyambung.


James tersenyum kuda "I..tu em..." James menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Jams berpikir sejenak "Ah itu...tante..maksud James itu El-lena nanti akan menjadi ibu bagi anak-anak James nanti tante," ucap James dengan sedikit gugup.

__ADS_1


Novi membulatkan mulutnya "Oh...kirain tante kamu lagi ngomong apa," Novi berjalan keluar setelah mengambil pakaian untuk Alfin.


James menghembuskan nafasnya lega "Hufff untung saja tante percaya." gumam James lega.


^


Alfin membujuk Sheila agar tidak memikirkan apapun itu "Beby...Mas kangen." goda Alfin agar pikiran Sheila teralihkan karena Alfin tidak mau bila Sheila sedih dan lemah lagi.


"Apapan sih Mas! ini rumah sakit." ucap Sheila memahan senyumnya karena godaan Alfin.


Alfin mendekatkan wajahnya kewajah Sheila "Memang kenapa kalau ini rumah sakit? aku akan tetap menciummu," Alfin menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Sheila.


Sheila tertawa karena ulah Alfin "Apaan sih Mas!" Sheila ingin mendorong Alfin namun tangan Alfin lebih dulu menggemgam tangannya.


Alfin menatap Sheila sejenak lalu Alfin mencium bibir dengan lembut, Alfin melepaskan dan menciumnya lagi "Mas..." panggil Sheila dengan suara manja.


"Mendengar suaramu yang seperti itu, Mas semakin ingin memakanmu." ucapan Alfin membuat mata Sheila membulat dan menatapnya dengan tajam.


"Aku bercanda Beby..." ucap Alfin mengusap pipi Sheila, Sheila tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Alfin.


"Aku ingin memelukmu Mas," pinta Sheila.


senyum dibibir Alfin mengembang, Alfin lalu meminta Sheila untuk menggeser tidurnya, Alfin naik keranjang Sheila dan memeluk Sheila seperti yang Sheila mau.


Sheila tersenyum dan menenggelamkan kepalanya didada suaminya "Aku mencintaimu Mas." gumam Sheila namun masih terdengar ditelinga Alfin.


Alfin tersenyum dan mengeratkan pelukannya "Mas lebih mencintaimu." ucap Alfin yakin,


Mereka akhirnya tertidur diranjang rumah sakit dengan posisi Alfin memeluk Sheila, Alfin yang sangat lelah karena tidak tidur karena menunggu istrinya sadar, kini dapat tertidur pulas karena memeluk istrinya.


"Bagaimana kabar Sheila?" tanya Hevi kepada Fino.


"Dimana Alfin?" tanya Dani yang segera datang kerumah sakit setelah mendapat kabar dari Fino bahwa Sheila masuk kerumah sakit.


Hevi yang begitu khawatir dengan keadaan Sheila memaksa Dani suaminya untuk langsung berangkat kerumah sakit.


"Mereka berdua ada didalam," ujar Fino melirik ruangan Sheila.


"Andri belum datang?" tanya Dani yang tidak melihat keberadaan Andri.


"Nanti malam baru kesini, ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal katanya." ucap Fino mendudukan kembali dirinya.


Dani membulatkan mulutnya, tangan Dani ditarik oleh Hevi untuk masuk kedalam ruangan Sheila karena Hevi sudah tidak sabar ingin melihat kondisi sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Ye..." Hevi ingin memanggil Sheila namun mata Hevi menangkap sesuatu yang menjadikannya tidak jadi melanjutkan panggilannya.


Hevi kembali menutup pintu ruangan Sheila dengan pelan "Nanti saja kita masuknya," ucap Hevi pelan.


Dani mengerutkab alisnya "Memang kenapa?" tanya Dani penasaran.


"Mereka sedang istirahat," ucap Hevi, Dani yang penasaran membuka pintu ruangan Sheila "Shit!" Dani segera menutup pintunya kembali.


"Kenapa Kak?" tanya Fino yang melihat wajah Dani kesal.


"Kamu lihat saja sendiri!" ucap Dani lalu duduk disamping istrinya.


Fino yang juga merasa penasaran akhirnay mengikuti saran Dani untuk melihat sendiri "Oh..Ya ampun." Fino segera menutup pintunya.


"Bagaimana?" ledek Dani terkekeh.


Fino menggarukan kepalanya yang tidak gatal "Mereka membuatku iri!" Fino mendudukan dirinya dengan kesal.


Dani dan Hevi terkekeh "Kalau begitu, menikahlah!" ucap Dani.


Fino menggelengkan kepalanya "Belum siap Kak." ujar Fino.


^


Alfin terbangun dari tidurnya dan melihat dirinya tengah memeluk istrinya, Alfin tersenyum menatap wajah istrinya yang tengah tertidur pulas didalam pelukannya.


Alfin menyibakkan rambut Sheila yang menutupi wajah cantiknya "Maafkan Mas sayang bila Mas harus berbohong, Mas tidak mau kamu terluka bila tahu kebenarannya," Alfin mencium pucuk kepala Sheila dengan lembut.


"Mas akan cari tahu siapa yang melakukan ini!" ucap Alfin sambil menatap dan mengusap pipi Sheila.


^


"Sita..." panggil Novi.


Sita berjalan menghadap Novi "Iya Nyonya?" Sita ingin bertanya tentang kondisi Sheila namun Sita mengurungkan niatnya.


"Makanan apa yang kamu kasih kepada menantuku?" tanya Novi selidik.


Sita menatap Novi takut "Maksud Nyonya?" tanya Sita takut.


"Sheila keracunan makanan," penjelasan Novi membuat Sita terperanjat "Keracunan Nyonya?" tanya Sita tidak percaya.


Novi menganggukan kepalanya "Apa yang sudah kamu kasih kepada menantuku!" ucap Novi serius dan membuat Sita semakin takut.

__ADS_1


(besok lagi 😂😂)


__ADS_2