
Akhirnya setelah pertemuan dengan Alfin kemarin Sheila diterima kerja oleh Alfin.
kata Afin Sheila bekerja membersihkan rumah dan yang paling penting menjaga anaknya yang baru berusia 3bulan.
Ya Alfin adalah duda beranak satu istrinya meninggal karna melahirkan putri kesayangannya.
Alfin sangat menyayangi keluarganya ia tinggal seorang diri beserta anak dan Bi Tini yang sudah lama bekerja dengan Alfin.
Alfin adalah pengusaha yang sukses dan tampan, banyak wanita menaruh perhatian kepadanya untuk menggantikan posisi Almarhum istrinya.
namun bagi Alfin tak ada yang bisa menggantikan istrinya dihatinya.
Alfin sangat mencintai wanitanya. sungguh beruntung wanita yang mendapatkan hatinya.
*
Sheila berjalan disebuah komplek yang cukup elit, Sheila mencari cari alamat yang diberikan Alfin kemarin.
bekal petunjuk yang diberikan oleh pak penjaga komplek Sheila pun akhirnya menemukan rumah Alfin.
Sheila berdiri dengan bingung mencoba memastikan alamatnya baik baik.
serasa cukup yakin Sheila berjalan menghampiri gerbang rumah itu.
terdapat pak penjaga yang menghampiri Sheila ketika melihat Sheila hendak masuk kedalam gerbang.
"Maaf adek cari siapa? dan ada keperluan apa?" tanya pak Budi penjaga rumah Alfin.
"*Hi*s apa aku kelihatan masih kaya bocah ya, tapi kan emang bener aku masih bocah panteslah bapak ini manggil aku adek." gerutu hati Sheila.
"Maaf Pak saya Sheila, kemarin pak Alfin meminta saya untuk datang kesini untuk bekerja." jawab Sheila dengan senyuman paksa.
"*M*asa Den Alfin memperkerjakan bocah begini?" batin Pak Budi.
"Hem...adek yakin yang menyuruh kesini Den Alfin?" tanyanya lagi.
"Iya pak coba bapak tanya Pak Alfin saja kalau gak percaya," tutur Sheila yang dijawab anggukan dan mengiyakan Pak Budi.
Pak Budi akhirnya menyuruh Sheila mengikutinya dari belakang. sementara Pak Budi didalam hatinya masih tak percaya bos nya akan memperkerjakan anak kecil.
apalagi untuk mengurus anaknya yang masih bayi apa bocah ini mampu?
begitulah kira-kira perang dingin pikiran dan hati Pak Budi.
Pak Budi pun mengetuk pintu rumah Alfin dengan sangat kuat.
tak butuh waktu lama pintu pun terbuka dan terdapat wanita paruh baya yang tadi membuka pintunya.
__ADS_1
"Ada apa Pak?" tanya wanita itu, wanita itu adalah Bi Tini yang berkerja dirumah Alfin dari dulu, dari Alfin masih kecil.
"Ini katanya ada seseorang yang disuruh Den Alfin untuk datang kesini untuk bekerja disini," kata Pak Budi sambil memperkenalkan Sheila kepada Bi Tini.
Bi Tini pun menyambut perkenalan Sheila dengan baik.
"Saya Sheila Bi yang mau kerja disini disuruh pak Alfin," Sheila sambil menyalami tangan Bi Tini lalu menciumnya.
ya bagi Sheila itu adalah adat dari desanya yang mana yang muda harus menghormati yang tua.
et bukan adat ding memang seharusnya hehehe.
Bi Tini sejenak memandang Sheila dengan seksama.
mungkin Bi Tini sama bingungnya dengan Pak Budi tadi waktu pertama bertemu dengan Sheila.
"*K*ayanya masih sangat muda ini anak, tapi kenapa Aden mau memperkerjakannya?" batin Bi Tini.
"*N*apa lah semua memandangiku begitu, aku tahu la aku masih bocah, tapi aku bisa kerja ko wahai bapak dan ibu!" gerutu hati Sheila.
"Emmm, baik lah mari ikut Bibi Nak!" perintah Bi Tini dengan lembut.
Sheila pun mengikuti Bi Tini dibelakang dan mendadak perasaannya menjadi sangat was was saat ini beda dengan kemarin yang sangat semangat untuk bekerja dengan bos ganteng ini.
"*W*ahai hati tenang lah, tenangkan perasaanmu semoga semua baik baik saja dan semua berjalan dengan lancar." batin Sheila.
"*K*enapa aku menjadi gugup begini! kemarin kemarin saat aku bekerja ditempat lain tidak begini perasaanku! apa aku batalin aja ya, ah tapi kan udah dirumahnya sekarang!" celoteh hati Sheila.
Bi Tini mengetuk pintu ruangan tersebut dan terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
Bi Tini pun masuk di ikuti oleh Sheila yang setia dibelakan Bi Tini.
"Maaf Den ada orang yang mencari Aden katanya yang mau bekerja disini," kata Bi Tini sambil mempersilahkan Sheila untuk maju.
"Oh iya Bi terimakasih, Bibi boleh keluar sekarang!" ucap Alfin dengan tersenyum kepada Bibi yang telah setia bekerja dengannya.
Bi Tini pun keluar dan menutup pintu ruangan tersebut dan berlalu pergi meninggalkan Sheila dan Alfin diruangan berdua.
*
"Duduklah!" perintah Alfin yang segera diangguki oleh Sheila.
Sejenak tak ada perkataan yang muncul dari bibir mereka masing-masing membuat Sheila kini semakin gugup dan tanpa sadar sekarang telapak tangannya terasa sangat dingin sekali.
"Ya Allah, napa lah ko tumben hati saya begini rasanya, semoga tidak ada apa-apa Ya Allah". doa hati Sheila
Alfin sejenak memandang ke arah Sheila, yang dipandang kini sedang menunduk menyembunyikan kegugupannya.
__ADS_1
Alfin tahu Sheila sedang gugup namun Alfin berusaha untuk pura-pura tak mengetahuinya.
"Apa kamu sudah siap untuk bekerja disini?" tanya Alfin dengan suara datarnya membuat nyali Sheila semakin ciut namun saat mengingat keluar dirumah Sheila yakin seyakin yakinnya. ciaaahhhhh.
"Insya Allah pak, saya akan berusaha dengan baik." jawab Sheila mencoba yakin.
Alfin tersenyum dengan jawaban Sheila, Alfin sebenarnya tidak tega dengan Sheila yang masih remaja harus bekerja begini. tapi Alfin sudah sangat lelah mencari penjaga anaknya yang sudah entah berapakali Alfin menggantinya dan tak ada yang cocok.
dari mulai ada yang genit, mencoba mencari perhatiannya, tidak bisa menenangkan bayinya dan alasan lainnya.
dan ketika Alfin melihat Sheila entah kenapa Alfin yakin kalau Sheila mampu untuk bekerja dengannya merawat anaknya, ya walaupun dia masih sangat muda tapi kata temannya kemarin Sheila sudah pernah mengasuh adiknya sedari bayi.
Alfin membuka laci yang ada dimeja kerjanya, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah disiapkan oleh Alfin untuk Sheila.
Alfin sudah sangat lelah dengan mencari penjaga untuk anaknya. jadi terpaksa Alfin harus melakukan cara ini. agar Sheila tak mudah berhenti dari kerjaan ini.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
#semoga kalian selalu bahagia kaka kaka 😊😊
silahkan kritik dan berikan saran karna itu membantuku lebih bersemangat lagi.😊😊😊