Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Rencana James


__ADS_3

James menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kita sudah ditipu." ucap James sambil mengembalikan ponsel Alfin.


Alfin mengusap wajahnya dengan kasar, "Lalu aku harus bagaimana Jam." Alfin menunduk lesu.


James menepuk pundak Alfin, "Aku akan berusaha untuk membantumu, sekarang kamu jaga istrimu dan jangan sampai dia menerima sesuatu apapun dari Ellena atau orang lain." ucap James memberi solusi.


"Dan untuk saat ini...turuti kemauan Ellena dahulu, aku akan menyelidiki dengan siapa dia bekerja sama." tutur James.


penuturan James membuat Alfin mengangkat kepalanya, "Aku harus menuruti Ellena? gila kamu James!" Alfin tidak setuju dengan cara James.


"Kau ini! kalau pendapat orang itu didengerin dulu, itu semua untuk mengulur waktu..sampai aku bisa menemukan bukti dan orang yang sudah bekerja sama dengan Ellena Fin. Aku akan berusaha agar bisa menemukannya dengan cepat." ucap James.


Alfin terdiam dan mencerna kata-kata James, "Baiklah...aku setuju dengan caramu! tapi ingat jangan lama-lama! bisa gila aku!" ucap Alfin sambil mengacak rambutnya.


"Lebih baik kamu pulang sekarang dan kalau bisa kalian tinggalah dirumah orangtuamu atau mertuamu Fin, agar Sheila lebih aman dan Ellena tidak bisa menemui Sheila, sampai nanti kita bisa mengambil bukti dan membongkar semuanya. Kau mengerti kan maksudku kan?" James memberi rencana kepada Alfin.


Alfin terdiam setuju dengan rencana James, benar kata James kalau dirinya dan Sheila harus pindah terlebih dahulu agar Ellena tidak bisa menemui Sheila dan memberi tahu kesalahan yang tidak disengaja dia lakukan.


Alfin mengangguk lalu berdiri, "Baiklah James. Aku akan menuruti rencanamu, aku akan membawa Sheila untuk menginap dirumah orangtuanya nanti, kalau dirumahku dan dirumah kedua orangtuaku pasti Ellena sudah tahu." ucap Alfin dan berjalan kearah pintu.


"Fin." panggil James menghentikan langkah Alfin.


Alfin membalikan badan, "Ada apa lagi?" tanya Alfin.


"Jika kamu sudah tahu kalau Ellena itu Angel, berarti kamu tahu kalau..." James ragu untuk mengatakannya.


Alfin tahu apa yang akan james katakan, Alfin pun bingung keputusan apa yang harus dia ambil, Alfin maju selangkah untuk mendekat kepada James, "Apa Kau akan mengambil Inez dariku? adilkah ini untuk anak seusianya James? apa yang harus Aku jelaskan kepadanya? Kau tahu? selama ini aku menyayangi dan mencintainya dan pernyataan Ellena membuatku terpukul saat mengetahui jika dia bukan darah dagingku, jadi tolong beri aku waktu untuk memutuskan James." ucap Alfin dengan hati yang ngilu dan sekelibat mengenang masa-masa bersamanya dengan Inez yang ternyata bukan anaknya.


Alfin mendongakkan kepalanya menyembunyikan airmatanya yang ingin jatuh karena rasa sakit hati yang tidak bisa diungkapkan kata-kata, penghianatan,pembohongan,pembodohan membuat Alfin merasa bahwa selama ini hidupnya dipermainkan.


James terdiam, James pun tahu jika ini pasti berat untuk Alfin. James tidak tega melihat kesediham diwajah sahabatnya yang mengetahui hidupnya kini telah dipermainkan oleh seseorang yang sangat dia cintai dulu.


"Pergilah! aku akan mengambil Inez ketika dia sudah dewasa nanti, saat dia bisa berfikir dan mengerti." James memberikan keputusan yang sebenarnya juga berat untuknya karena James juga ingin membesarkan buah hatinya namun Alfin lebih berhak karena dialah yang merawatnya dari lahir.


Dengan berat hati Alfin keluar dari apartemen James tanpa mengiyakan apa yang James katakan, baginya kapanpun Inez akan diambil itu adalah suatu yang berat bagi Alfin, karena dialah yang selama ini merawat dan membesarkannya lalu apakah nanti dirinya yang bisa mengerti saat sudah tiba waktunya? hanya waktu yang akan bisa menjawabnya.


Alfin pulang dalam keadaan hati yang berkecamuk, pikirannya membayangkan masa lalunya dengan orang yang dulu dia cintai tapi kini? dia juga orang yang sangat dia benci.


"Kenapa Engkau mempermainkan hidupku Ya Allah." batin Alfin, airmatanya turun begitu saja.


Sampai didepan rumah ibunya, Alfin menghapus airmatanya lalu turun dari mobil, didepan pintu Alfin menarik dan membuang nafasnya mengusir kesedihan yang kini menimpanya.


Alfin ingin membuka pintu namun pintu sudah dibuka oleh Sheila, "Beby..." Alfin sedikit terkejut.

__ADS_1


"Mau berdiri disitu sampai kapan?" tanya Sheila yang melihat Alfin mematung didepan pintu.


Alfin terkekeh lalu mencium kening istrinya, Alfin menutup pintu dan menguncinya, "Inez sudah tidur?" tanya Alfin.


Sheila menganggukan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Alfin, sebenarnya hati Sheila sedang kesal saat ini karena suaminya akhir-akhir ini keluar malam dan pulang larut malam.


Sampai dikamar Alfin merasa bahwa Sheila sedang marah kepadanya, "Beby..." panggil Alfin yang tidak mendengar Sheila berbicara dari tadi.


"Hem." Sheila hanya bergumam.


"Kamu marah Beb?"


"Tidak."


"Tidak, tapi kok jawabnya begitu?"


"Memang jawabnya harus bagaimana?" Sheila membelakangi Alfin lalu memgambil pakaian untuk suaminya.


Walaupun Sheila sedang marah tapi dia selalu menjalankan kewajibannya walau itu hal kecil, Alfin memeluk Sheila dari belakang, Alfin rasanya ingin menangis dipelukan istrinya, sedang marah saja Alfin tidak bisa melihatnya apalagi jika Sheila pergi dari hidupnya, "Mandilah." ucap Sheila.


"Tidak mau, kalau Kamu masih marah."


"Aku tidak marah."


"Buktinya?"


"Memang apa bedanya kesal dengan marah Beby?" ucap Alfin lalu mencium pipi kanan Sheila.


"Hurufnya yang bebeda, lepas." Sheila memukul tangan Alfin yang brerada diperutnya.


Alfin tertawa mendengar perkataan istrinya, "Maafkan aku Beby...Mas pulang malem karena ada urusan." Alfin membalikan badan istrinya untuk menghadapnya.


"Bukan urusan dengan wanita kan?" ucap Sheila asal menebak.


"Tidak, urusanku dengan James."


Sheila terdiam tak menjawab apapun, entah mengapa hatinya saat itu sedang kesal sekali atau mungkin rasa takut bila suaminya bermacam-macam diluar sana seperti film dan sinetron yang tadi Sheila tonton.


Alfin memperhatikan wajah istrinya, Alfin menggerakan jari telunjuknya untuk menyentuh pipi istrinya, "Jika suatu saat nanti Kau mendengar tentang keburukanku tentang kesalahanku bisakah Kau percaya kepada suamimu? dan jangan percaya orang lain."


Sheila hanya diam mendengar apa yang Alfin katakan, matanya menatap mata suaminya.


"Kenapa kok diam? bicaralah Beby...Mas sungguh tidak bisa melihatmu marah seperti ini." Alfin memeluk istrinya dengan erat.

__ADS_1


"Jika Kamu ada masalah, bisakah Kamu bercerita kepadaku? agar Aku tidak seperti istri yang bodoh tidak tahu permasalahan suaminya." ucapan Sheila sukses membuat jantung Alfin ingin lepas dari tempatnya.


Alfin mengeratkan pelukannya, "Mas tidak punya masalah apapun Beby, percayalah." ucap Alfin berbohong.


"Tapi Aku merasa kalau Kamu mempunyai masalah, hingga selalu meninggalkanku setiap malam."


Alfin mengendurkan pelukannya dan menatap istrinya dengan penuh rasa haru, "Mas tidak apa-apa Sayang, terimakasih." Alfin lalu mencium bibir Sheila sekilas.


"Hem...baiklah." Sheila membuang wajahnya tidak melihat kearah suaminya.


"Masih marah?"


"Enggak."


"Tapi kaya masih marah."


"Enggak." jawab Sheila tanpa memandang wajah suaminya.


"Tuh kan? bicara saja tidak mau menatap Mas sekarang."


"Terserah Aku lah."


Alfin tersenyum lalu mempunyai ide untuk membuat istrinya tertawa lagi, "Yakin gak marah lagi? beneran nih?" Alfin lalu menggelitiki tubuh Sheila.


Sheila tertawa dan meminta ampun kepada suaminya, Sheila berlari untuk menghindari Alfin yang tidak mau berhenti untuk menggelitikinya.


"Berjanji dulu untuk tidak marah-marah lagi." ucap Alfin tidak mau berhenti mengerjai istrinya.


"Aku bilang aku tidak marah." Sheila berusaha menghalangi tangan Alfin, namun Alfin sangat cerdik hingga Sheila tidak bisa menghindar.


Sheila terjatuh diatas kasur, tawanya dua orang itu memenuhi ruangan kamar pasangan suami istri itu.


"Aku lelah Mas...sudah ku mohon." Alfin langsung berhenti dari aksinya.


"Jangan marah lagi ya," Sheila mengangguk, Alfin mencium wajah istrinya dan berakhir dibibirnya.


Wajah Sheila merah karena malu, Alfin selalu bisa membuat dirinya merasakan di istimewakan membuat hatinya selalu bergetar ketika mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


"Mas mencintamu." bisik Alfin ditelinga Sheila.


#Telat lagi 😂😂😂😂


*abis ngapain sih thor? telat mulu dari kemarin 😑

__ADS_1


#abis tidur 😄😄😄


*sial lu thor 😕😕😕


__ADS_2