Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Memaafkan


__ADS_3

Sekarang mereka berada diruangan, jauh dari keramaian. Alfin menyiapkan kursi untuk duduk "Aku bantu ya Pak?" Alfin melototkan matanya mendengar panggilan Sheila yang masih menyebutnya Pak.


"Aku bantu ya Mas?" Sheila yang tau maksud dari tatapan Alfin langsung mengganti panggilanya.


Alfin tersenyum "Em...em!" Alex berdehem membuat Alfin dan Sheila salah tingkah.


"Mba..kamu ngerasa gak sih kalau Pak Alfin itu suka sama Sheila? dilihat dari tingkahnya juga kelihatan begitu," Santi berbisik ditelinga Hevi.


"Ntar konfirmasi aja langsung sama Sheila, aku juga penasaran," bisik Hevi.


"Kalia bisikin apaan sih, kok aku gak diajak!" Yeni menimbrung.


"Rese!" Santi mendelik.


Saat semua selesai Alfin menyuruh calon mertua (ciahhh kali 😂 kepedean babang Alfin 😂😂) dan yang lain untuk duduk, sedangkan yang tidak berkepentingan dan tidak tersangkut dalam masalah duduk disofa tidak jauh dari kursi meeting.


"Oke sekarang kita selesaikan masalahnya disini, kita omongin baik-baik," Alfin membuka suara.


Sheila mengernyitkan dahinya "Mas...perasaan ini masalah keluargaku, harusnya Mas duduk sana!" Sheila menunjuk sofa yang sudah ada teman-temannya.


"Ini tempat punya siapa?" ledek Alfin tidak mau pergi.


"Iya baginda, berlakulah sesuka hatimu!" gumam Sheila namun masih terdengar ditelinga Alfin. Membuat Alfin terkekeh.


"Sekarang kamu bicara Pak, apa maksud dari semua ucapan wanita itu benar!" Tini menunjuk Mayang dengan jari telunjuknya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Aku bilang jangan menunjuk Ibuku seperti itu!" Sheila menghalau tangan Bi Tini dari hadapan orangtuanya.


Tini menatap Sheila dengan tatapan benci "Bibi kira kamu adalah anak yang baik Sheil, tapi ternyata kamu sama saja dengan wanita yang suka menggoda lelaki, pasti Ibumu dulu yang menggoda suamiku hingga dia mau menikah dengan Ibumu!" Tini berbicara dengan nada kesal.


"Tini cukup! apa kamu tidak mengaca sama dirimu sendiri apa yang kamu lakukan dulu pada suamimu dulu?" Alex berbicara dengan nada dingin namun tegas.


"Apa ketika kamu mempunyai suami, kamu bisa menjaga perasaan suamimu? apa yang tidak dilakukan suamimu untukmu? tapi kamu masih saja menyimpan masa lalumu, lalu kenapa kamu menghina wanita yang disakiti suamimu! pendek sekali pikiranmu!" Alex berbicara sambil menatap Tini dengan tatapan tajam.


"Bahkan kamu meninggalkan suamimu ketika dia dalam keadaan sekarat!" lanjut Alex.


Alfin dan yang lain kaget dengan ucapan Alex yang sepertinya Alex tau hubungan Tini dengan suaminya.


"Alfin fikir Bibi adalah orang yang baik Bi, tapi Bibi juga mempunyai masa lalu yang buruk menjadi seorang wanita!" hardik Alfin.

__ADS_1


"Tapi kenapa Bibi menghina Sheila dan Ibunya!" lanjut Alfin.


Bi Tini bungkam dengan perkataan-perkataan yang dilontarkan Alex yang tertuju kepadanya ditambah Alfin sang majikan yang membela Sheila dan Ibunya.


"Aku tidak menghina mereka, tapi kenyataan bahwa dua wanita ini adalah penggoda, buktinya Sheila juga menggoda Aden kan?" Tini berbicara tanpa rasa bersalah.


Sheila terkejut dengan ucapan Bi Tini yang selama ini sudah dia anggap sebagai Ibu disini, tapi sungguh Sheila tidak menyangka bahwa yang berbicara seperti itu terlontar dari mulut Bi Tini.


Alfin menahan amarahnya ketika mendengar Sheila dihina "Sheila tidak pernah menggodaku seperti yang anak Bibi lakukan kepadaku!" Alfin berucap dengan tegas.


"Bahkan anak Bibi menggodaku dengan cara menjijikan! apa Bibi ingat!" lanjut Alfin membuat Tini bungkam seketika.


"Sudahlah... ini hanya masa lalu," Mayang akhirnya buka suara.


"Mba...aku dan Mas Sunari adalah masa lalu, dan aku sudah melupakannya, jadi ku mohon jangan hina anak saya seperti itu, dia sudah cukup menderita setelah ditinggal Bapaknya sendiri, bahkan sepersen nafkahpun dia tak terima dari bapaknya, kami berjuang sendiri hingga anakku harus bekerja sambil sekolah seperti saat ini!" Mayang berucap sambil menahan kesedihannya.


"Dan kamu Mas, jujurlah pada pasanganmu, belajarlah dari masa lalu saat kau menyembunyikan sesuatu, semua takkan berakhir baik bila kamu bermula dengan kebohongan Mas!" tutur Mayang, airmata yang tertahan kini tumpah mengingat masa lalu.


Sheila terharu dengan kebesaran hati sang Ibu, Sheila langsung memeluk sang Ibu dengan deraian airmata "Terimakasih sudah menjadi Mamah yang tangguh untuk Sheila dan Fiko Mah," ucap Sheila dengan suara serak karna menangis.


Alex merasa kagum dengan Mayang, mempunyai pemikiran yang jarang dimiliki setiap wanita. Mata Alex tak pernah beralih dari memperhatikan Mayang yang juga penyelamat saat dirinya mengalami kecelakaan dulu "Wanita hebat!" puji Alex dalam hati.


"Maafkan aku Mayang," ucap Sunari lirih namun masih terdengar.


"Aku minta maaf untuk semuanya, aku minta maaf aku meninggalkanmu disaat kamu hamil anak keduaku, aku minta maaf!" Sunari mulai menangis mengucapkan apa yang seharusnya dia ucapkan dari dulu.


"Bahkan aku tidak memberi nafkah untuk anak-anakku selama ini," Sunari semakin merasa malu mengingat kelakuannya selama ini.


"Kamu pantas untuk menghukum dan membenciku Mayang setelah apa yang aku lakukan terhadapmu dulu," Sunari tak kuasa lagi memendam rasa bersalahnya, airmata penyesalan pun jatuh membasahi pipinya.


Sheila melihat Bapak kandungnya "Sudah lah Pak, mungkin ini sudah menjadi jalan takdir Allah, semoga Bapak bisa hidup lebih baik lagi bersama istri Bapak sekarang, semoga kalian selalu bahagia," ucap Sheila memegang tangan Bapak kandungnya.


Sunari mendongak dan menatap anaknya yang dulu dia tinggalkan dengan perasaan bersalah yang sangat besar "Maafkan Bapak Nak, kamu pantas membenci Bapakmu ini!" Sunari menunduk.


"Mamah tidak pernah mengajarkanku untuk membenci seseorang termasuk Bapak, walaupun Sheila kecewa sama Bapak, tapi Sheila tidak bisa membenci Bapak kandung Sheila sendiri Pak!" airmata Sheila kembali mengalir.


Sunari terharu dan langsung memeluk Sheila dengan erat "Terimakasih Nak...terimakasih kamu sudah mau memaafkan Bapak!" Sunari menangis memeluk Sheila.


Mayang yang melihat pemandangan didepannya terharu "Jadilah kepala rumahtangga yang menyayangi keluarga karna Allah Mas, jangan mengaharapkan sesuatu yang sebenarnya itu salah, karna sejatinya setiap rumahtangga mempunyai ujian, dan ketika kamu mencintai seseorang yang bukan istrimu itu adalah suatu dosa dan salah!" tutur Mayang membuat Sunari semakin menangis karna rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Dan belajarlah untuk menghargai suami istri, bukan selalu mengharapkan masa lalu!" timpal Alex menatap Tini dengan tajam.


Tini menunduk "Maafkan aku Mas Alex," suara Tini membuat semua terkejut termasuk Sunari.


Alex tersenyum tipis "Sudah lah semua sudah berlalu, jangan melakukan kesalahan yang sama lagi!" tutur Alex.


"Apa dia mantan suamimu?" tanya Sunari yang sedari tadi penasaran.


Tini menatap Sunari dan menganggukan kepalanya, membuat yang ada disitu terkejut.


"Ini serius! kebetulan sekali mereka dipertemukan seperti ini!" Yeni berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kan Allah yang mempunyai rencana, jadi pasti mungkin!" timpal Hevi, Santi dan Yeni hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan perkataan Hevi.


"Dimana Tia sekarang Tin?" tanya Alex ingin tau.


"Dia ada dirumah Mas," jawab Tini lirih.


"Tolong jangan ambil Tia dariku Mas, aku mohon," Tini menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Jika dia bahagia bersamamu aku tak kan mengambinya, tapi jika dia tidak bahagia denganmu, aku berhak mengambilnya! dia pasti sudah besar sekarang dan dia pasti bisa memilih!" ucap Alex menatap Tini dengan tajam.


Tiba-tiba Tini bersimpuh dikaki Alex "Mas, aku yakin dia akan memilihmu karna kamu mempunyai banyak uang, aku tau sifat Tia dari dulu dia ingin menjadi orang kaya, tapi aku mohon Mas jangan bawa Tia pergi, aku tidak mempunyai anak lagi selain Tia Mas, aku mohon!" Tini bersimpuh dikaki Alex sambil menangis.


(besok lagi ya 😂😂😂)


.


.


.


.


.


.


salam sahabat 😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2