Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Pesan Alfin


__ADS_3

Alfin sangat kesal karna keluarganya menertawakan, Alfin bangun dari baringannya lalu melipatkan kedua tangannya diatas perut dan menatap ibunya meminta jawaban, Novi pun tahu isyarat wajah Alfin.


"Sahabat Mayang itu..." Novi memberi jeda membuat Alfin dibuat penasaran olehnya.


"Ma-mah." Alfin terkejut dengan jawaban ibunya, mana mungkin pikirnya.


"Bercanda kan! gak lucu Mah!" Alfin mebuang muka kesal.


"Ya sudah kalau gak percaya! Mamah akan bilang ke ibunya Sheila untuk membatalkan pernikahan kalian," Novi mengambil handphonenya yang berada dimeja.


Mendengar perkataan ibunya Alfin langsung mencegahnya "Jangan Mah! Alfin percaya kalau begitu!" Alfin menahan tangan Novi yang sudah ingin menghubungi Mayang.


"Nah gitu dong!" Novi tersenyum kemenangan.


Alfin kesal dan mendengus "Berarti Mamah mengerjaiku kan? gak lucu Mah! jantung Alfin itu rasanya sudah mau copot tahu Mah, takut kalau Sheila benar-benar dijodohkan sama orang lain," ucap Alfin lalu berbaring lagi dipaha ibunya.


Perkataan Alfin membuat Fino muak "Cih! lebay!" umpat Fino yang mendapat lirikan tajam dari sang kakak.


"Awas kau!" Alfin mengepalkan tangannya mengancam Alfin.


"Cih! aku juga bisa nih!" Fino menirukan gaya sang kakak.


Purnomo dan Novi geleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya "Sudah..." ucap Purnomo, seketika Alfin dan Fino berhenti saling ejek.


Alfin kembali melihat ibunya "Kok bisa Mamah sahabatan sama ibunya Sheila?" tanya Alfin yang masih belum percaya.


Novi tersenyum dan membelai kepala anaknya dengan kasih sayang "Mamah sama ibunya Sheila itu dulu tinggal satu desa, dan kami sekolah ditempat yang sama, sejak saat itu Mamah dan ibunya Sheila menjadi berteman dan bersahabat," Novi memberi jeda ceritanya.


"Terus kami terpisah karna Mamah harus pergi meninggalkan kota itu karna orangtua Mamah kerjanya harus pindah kota, jadi Mamah sudah lama tidak bertemu dengan Mayang sahabat Mamah,"


"Pas waktu Mamah kerumahmu dan melihat Sheila, Mamah ngerasa wajahnya sekilas mirip dengan Mayang, makanya Mamah menyuruh kamu buat mengundang keluarganya Sheila, dan ternyata benar kalau Sheila anak dari sahabat Mamah,"

__ADS_1


"Jadi kita membicarakan dan merencanakan perjodohan itu, dan ibunya Sheila pun setuju dengan ide Mamah itu, karna Mamah tahu kalau anak Mamah ini sudah jatuh cinta sama wanita yang bernama Sheila itu," Novi tersenyum dan menaik-turunkan alisnya, meledek Alfin.


"Sial! kenapa Alfin sampai gak tau?" umpat Alfin merasa dirinya bodoh karna bisa dikerjai oleh ibunya.


Perkataan Alfin membuat gelak tawa keluarganya "Kan Kakak bodoh!" ledek Fino lalu tertawa lagi.


"Cih! sial kau!" Alfin melempar bantal sofa kearah Fino.


"Shit!" umpat Fino yang wajahnya terkena lemparan bantal dari Alfin. Alfin tertawa karena bantal yang dia lempar tepat sasaran.


"Hi...kalian ini!" Purnomo menghalau Fino dengan tatapannya yang tajam yang ingin membalas perbuatan kakaknya. Fino pun tidak jadi membalas perbuatan sang kakak karna mata ayahnya yang sangat menakutkan baginya.


"Jangan-jangan ucapan Andri dipesta Fino itu suruhan Mamah ya?" ucap Alfin menatap ibunya menyelidik.


Novi tertawa lalu menganggukan kepalanya, membuat Alfin mendengus kesal "Sial! Alfin sampai berantem sama Andri, ternyata semua ini ulah Mamah," Alfin melipatkan kedua tangannya diatas perutnya.


"Bucin sih jadi orang!" timpal Fino, Alfin melirik Fino dan mendengus kesal.


"Jangan kasih tahu Sheila dulu ya? biar kejutan nanti," Novi menaik-turunkan alisnya.


"Ya sudah..sana istirahat! Mamah juga capek mau istirahat," perintah Novi kepada anknya. Novi beranjak dari sofa dan pergi kekamar bersama suaminya.


"Kamu gak istirahat Fin?" Alfin menghampiri adiknya yang sekarang sedang asyik pegang handphone. Alfin mengintip Fino yang sedang asyik chattan entah dengan siapa.


"Cih! bilang kakak bucin tahunya kamu juga bucin!" Alfin tertawa melihat isi chat adiknya dengan temannya Sheila.


"Shit! kebiasaan deh ngintipin punya orang! pergi sana!" usir Fino, Alfin menipuk adiknya dengan sofa bantal lalu setelah itu dia lari sambil tertawa dan meninggalkan Fino yang saat ini sangat kesal kepadanya.


Alfin masuk kedalam kamar yang sudah lama tidak dia tempati, Alfin merebahkan tubuhnya dikasur yang sudah lama tidak dia tiduri "Ternyata pengantin prianya aku sendiri," Alfin tersenyum-senyum merasakan kebahagiaan didalam hatinya.


Alfin memegangi dadanya yang saat ini merasa kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan, dengan Angel pun Alfin tidak merasa seperti ini "Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan nanti, semoga kebahagiaan ini tak pernah usai." gumam Alfin sambil membayangkan wajah Sheila.

__ADS_1


Alfin mengambil handphonenya dari saku celananya, dia mencari sebuah nama dikontak saat nama itu ditemukan Alfin langsung mengetikkan sebuah pesan "Aku tidak pulang, jangan tunggu aku!" isi pesan singkat itu ditujukan kepada Sheila.


"Aku akan pulang setelah acara pernikahanmu selesai! maaf aku gagal!" Alfin kembali mengirim pesan dengan isi yang berbeda.


Alfin tersenyum dan memejamkan matanya dengan kedua tangan yang menjadi tumpu pada kepalanya "Maafkan aku." gumam Alfin merasa bersalah telah berbohong kepada Sheia.


"Pasti Sheila menangis saat membaca pesan itu," Alfin menerka-nerka keadaan Sheila.


^


Saat Sheila sedang asyik membaca buku handphonenya berbunyi, Sheila pun mengambil dan melihat pesan yang masuk, Sheila menghembuskan nafasnya lalu membuangnya pelan "Mungkin kita memang tak berjodoh." gumam Sheila.


Setelah membaca pesan Alfin, Sheila berhenti membaca dan meletakkan bukunya diatas meja dekat ranjang baby Inez. Sheila merebahkan dirinya disamping Inez, dia menatap langit-langit rumah dengan perasaan hampa, airmatanya pun tiba-tiba mengalir tanpa disuruh oleh tuan matanya.


Sheila sadar dirinya memang tidak pantas berada disisinya, terlalu berlebihan jika meminta dia menjadi miliknya, Sheila menghapus airmatanya dengan kedua tangannya "Aku harus kuat, sudah tidak ada lagi harapan." gumam Sheila.


^


Hari minggu tepatnya hari ini Sheila akan menjadi istri, saat ini Sheila berada dikamar dan duduk disisi ranjang merenung, menatap kosong matanya, pikiran yang berjalan kemana-mana, itu yang Sheila rasakan.


Pintu kamar terbuka, muncul lah ibu dan orang-orang yang akan membantu Sheila untuk make up, Mayang menghampiri Sheila anaknya yang sedang termenung disisi ranjang "Sheil..." panggil Mayang dengan suara lembut.


Sheila melihat ibunya dan tersenyum paksa "Jangan sedih sayang, Mamah yakin dia yang terbaik, kalau suatu saat nanti pilihan Mamah salah, kamu bisa hukum Mamah," tutur Mayang membujuk Sheila.


Sheila menunduk tidak tahu harus menjawab apa, menjawab pun percuma tidak akan merubah keputusaan ini.


Mayang mempersilahkan orang-orang make up untuk melakukan tugasnya, mereka pun menganggukan kepalanya dan menghampiri Sheila lalu menyiapkan segala keperluannya.


Mayang keluar dari kamar lalu turun kebawah untuk menemani Fiko dan Inez, setelah Tini keluar dari pekerjaannya Mayanglah yang menggantikkannya, walaupun dihalau oleh Alfin waktu ditelepon saat itu.


Namun Mayang tetap melakukannya sampai pengganti Tini datang. Mayang mempersiapkan segalankeperluan baby Inez dan juga Fiko untuk menghadiri pernikahan Sheila dan Alfin.

__ADS_1


(besok lagi 😊😊)


*semangat sahurnya semangat puasanya 😂😂😂


__ADS_2