
Setalah mengobrol dengan James dan Dani, Alfin kembali kerumah sakit lagi karena keluarga Sheila dan keluarganya sudah datang untuk menjenguk istrinya.
"Assalamualaikum." salam Alfin ketika membukan pintu.
"Wa'alaikumsalam." mereka serempak menjawab dan menoleh kearah Alfin.
"Kamu dari mana sih!" tegur Novi kepada anaknya.
"Alfin habis ketemu dengan James, Mah dicafe depan." jawab Alfin.
"Ha. Kamu ini! jangan tinggalkan istrimu dalam kondisi seperti ini." kesal Novi.
"Iya, Mah. Alfin minta maaf."
"Jangan marahin Mas Alfin Mah, tadi Mas Alfin sudah bilang kok sama Sheila." Sheila membela sang suami.
Novi kembali menghampiri Sheila dan berdiri disamping Mayang, "Mulai detik ini, jangan mengerjakan sesuatu ya Sayang, harus jaga kesehatan dan tidak boleh kecapaian." pesan Novi.
"Papah juga akan mengirimkan asisten rumahtangga buatmu, 2sekaligus agar anak papah ini tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah." Mayang tersenyum melihat perhatian suaminya kepada anaknya.
Sheila menghembuskan nafasnya, "Kalian itu terlalu berlebihan, Mah, Pah."
"Ini tidak berlebihan Sayang, tapi tanda kasih kita kepadamu, apalagi Kamu pernah keguguran, jadi Kami ingin yang terbaik untukmu." ucap Mayang sambil mengusap kepala anaknya.
"Alfin! Kamu harus jadi suami yang siap siaga. mengerti!" ucap Purnomo.
"Iya Pah." jawab Alfin, rasanya lucu sekali karena Alfin sudah mengalaminya saat dengan Angel dulu.
"Mommy! mana dedek bayinya? Inez pingin lihat." teriak Inez membuat semua memandang kearah Inez.
Sheila merentangkan tangannya kearah Inez dan mendudukkan Inez disampingnya, "Dedeknya masih didalam perut Mommy sayang." Sheila memeluk Inez dari samping karena sangat rindu dengannya.
"Terus dedeknya keluarnya kapan Mommy." tanya Inez sambil mendongak kearah Sheila.
"Em...mungkin 9bulan lagi sayang." jawab Sheila sambil tersenyum.
"Itu lama ya Mommy?" tanya Inez lagi.
"Anak Daddy ini kenapa begitu crewet sekali hem?" Alfin mencubit pipi Inez dengan gemas.
Inez mengerucutkan bibirnya dan melirik ayahnya dengan tatapan tak suka, semua tertawa melihat tingkah Inez.
^
Setelah beberapa hari Sheila dirawat dirumah sakit, kini Sheila pulang bersama suaminya dan keluarganya, Alfin sesekali menoleh kearah istrinya dan tersenyum, "Mas..." panggil Sheila tanpa menoleh kearah Alfin.
"Kenapa Beby?" tanya Alfin.
"Ell..."
"Jangan membahas wanita itu!" sergah Alfin yang sudah tahu Sheila akan berbicara apa.
"Tapi Mas..."
"Mas akan tunjukkan sesuatu kepadamu bahkan kepada semua orang siapa wanita itu sebenarnya." ucapan Alfin membuat Sheila mengangkat alisnya.
Sampai dirumah Alfin, Sheila begitu bingung dengan banyaknya mobil dirumahnya, "Mas ini kenapa banyak mobil begini?" tanya Sheila.
Alfin tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya, "Mereka semua ada disini." ucap Alfin menambah kebingungan Sheila.
"Aku disambut lagi?" tebak Sheila.
Alfin hanya menjawab pertanyaan Shiela dengan senyuman membuat Sheila menghembuskan nafasnya kesal.
"Hai..." Ellena membuka pintu dan melambaikan tangannya lalu tersenyum lebar kearah Sheila dan Alfin.
Alfin membuang mukanya jengah melihat wanita yang ada didepan pintu, Sheila menahan airmatanya dan memaksa tersenyum kearah Ellena, "Hai..Kak." Alfin menoleh kearah istrinya tidak percaya dengan apa yang Sheila lakukan.
"Tidak usah menyapanya, ayo masuk!" Alfin menggandeng istrinya agar masuk kedalam.
__ADS_1
Saat Alfin dan Sheila masuk kedalam semua menatap Alfin dan Sheila dengan tatapan tajam, "Sheil..." Mayang merentangkan tangannya kearah anaknya, Sheila bingung namun tetap menghampiri ibunya dan memeluknya.
Mayang menangis, "Kenapa Mamah menangis?" tiba-tiba hati Sheila merasa tidak enak.
"Alfin!" Purnomo menatap tajam anaknya.
Ellena tersenyum sinis, Ellena sangat senang karena sebentar lagi akan ada tontonan yang sangat menarik baginya.
"Lelaki macam apa Kamu ini!" geram Purnomo.
"Sabar Pah." Novi mengelus lengan suaminya.
Alfin mengerti apa maksud kemarahan ayahnya, Alfin melirik Ellena yang berada dibelakangnya, "Apa yang sudah Kamu katakan kepada keluargaku!" geram Alfin.
"Aku mengatakan apa yang seharusnya mereka ketahui." ucap Ellena tersenyum sinis.
"Oh begitu...Aku juga akan memperlihatkan kepada mereka siapa dirimu itu!" Alfin membalikkan badannya dan menatap Ellena dengan tajam.
Alfin berbalik badan lagi dan menatap semua orang yang ada didepannya kini, "Dia Angel, Pah!" ucap Alfin membuat semua terkejut.
"Jangan bercanda Fin!" ucap Novi.
"Jasad yang kita kuburkan itu bukan jasad Angel tapi orang lain yang saat itu meninggal dalam persalinan, dia pergi bersama James ke Paris dan hidup bersama disana, dia pulang untuk melihat keadaan Alfin yang dia pikir akan menyedihkan setelah dia tinggal." Sheila tak kuasa menahan airmatanya mendengar penuturan suaminya.
"Saat tahu Alfin berbahagia bersama istri Alfin, dia begitu tidak rela karena tujuan dia mau menikah dengan Alfin adalah untuk balas dendam karena kematian orangtuanya karena bangkrut yang disebabkan oleh perusahaan Papah."
"Papah tidak percaya ini, Fin!" ucap Purnomo.
"Dia menjebak Alfin untuk tidur dengannya dan dia bekerja sama dengan Adit lelaki yang mencintai istriku."
"Itu tidak benar!" teriak Ellena.
"Dan dia juga berpura-pura hamil!" lanjut Alfin.
"Aku memang hamil! dan ini anakmu!" tunjuk Ellena kepa Alfin.
"Oh ya? bagaimana seseorang itu akan hamil jika rahim orang itu sudah diangkat?" wajah Ellena pucat pasi.
Novi merebut amplop cokelat itu dari tangan suaminya dan membacanya, "Ini surat pernyataan operasi pengangkatan rahim dirumah sakit Perancis." ucapan Novi membuat terkejut orang-orang yang berada dirumah Alfin.
"Dan satu lagi, Inez bukan anak Alfin tapi James! dia berselingkuh dibelakang Alfin dari awal pernikahan." Alfin menunduk sedih karena harus mengatakan siapa sebenarnya Inez, Alfin merasa berat karena dirinya lah yang sudah merawat dan menjaganya selama ini.
"Mas..." Alfin langsung memeluk istrinya dan mengucapkan kata maaf berulang-ulang, Mayang tak kuasa menahan airmatanya, Mayang sungguh tidak tahu bila selama ini anaknya mendapatkan masalah besar seperti ini.
"Mas mencintaimu, dan selamanya Mas akan selalu mencintaimu, sekarang percayakan bila Mas ini sangat-sangat mencintaimu, saat Mas tahu kebenaran ini, hati Mas sangat terluka Beby, sangat terluka apalagi mengetahui bahwa Inez bukanlah anak kandung Mas, anak yang selama ini Mas rawat dan Mas sayangi dengan sepenuh hati ternyata hanya alat pembalasan dendam." Sheila tidak mampu berkata-kata sepatah katapun, yang dia lakukan adalah menenangkan suaminya dan menjadi pendengar yang baik.
"Angel! Kamu benar-benar wanita tidak punya hati!" teriak Novi. Ingin sekali rasanya Novi menampar wajah mantan menantunya itu namun Mayang dengan cepat mencegahnya.
"Nona Ellena bisa Anda pergi dan tolong jangan ganggu rumahtangga anakku." ucap Mayang.
"Jangan biarkan dia pergi begitu saja Mayang! wanita ini harus dikasih pelajaran, dia sudah ingin menghancurkan rumahtangga anak kita dan kita hampir percaya kepadanya." ucap Novi dengan geram.
"Mah..." Purnomo menenangkan istrinya.
Ellena ingin pergi namun suara Alfin menghentikkannya, "Jika setelah ini Kau menggangguku kembali, akan Aku pastikan Kau takkan bisa menghirup udara didunia ini lagi..Angel!" Ellena menatap benci Alfin lalu dia pergi tanpa menoleh.
Alfin menatap istrinya dengan tatapan cinta, "Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita, Beby." Alfin mencium kening Sheila lalu beralih kebibir.
"Kak disini banyak orang! gak sopan!" kesal Fino.
Semua tertawa dan saling berpelukan (seperti teletubies 😂) Sheila merasa bahagia karena dalam kondisinya yang sedang berbadan dua ini, masalah yang selama ini membuat hati nya resah dapat diselesaikan.
^
9bulan kemudian, Alfin sedang mondar-mandir didepan ruangan persalinan karena sedang menunggu istrinya yang sedang melakukan operasi persalinan, hati Alfin harap-harap cemas menantikan persalinan istrinya, "Kok lama ya Mah?" tanya Alfin dengan cemas.
"Sabar Fin." ucap Novi.
Alfin tercengang mendengar suara tangisan bayi, Alfin bersujud syukur, "Mah..anak Alfin!"
__ADS_1
"Iya Sayang, cucu Mamah sudah lahir." ucap Novi dengan wajah yang bahagia.
Seorang dokter perempuan keluar dari ruang operasi, "Selamar Tuan, anak Anda laki-laki." Alfin begitu bahagia mendengarnya.
Setelah Sheila dipindahkan keruang perawatan, Alfin dan keluarga Alfin masuk kedalam, Alfin menggendong bayi laki-laki, "Sayang...lihat anak kita, sangat tampan sekali sepertiku." ucap Alfin.
Keluarga Sheila masuk kedalam, "Maaf Mamah lama sayang." ucap Mayang dan langsung menghampiri Alfin yang sedang menggendong bayi.
"Ini cucu Mamah? tampan sekali." Mayang mencium pipi bayi laki-laki itu.
"Kan Daddynya juga tampan, Mah." saut Alfin.
"Jangan lupa, Opahnya juga tampan." timpal Purnomo dan Alex bersamaan.
Ruang perawatan Sheila langsung ramai dengan tingkah Alfin yang sangat senang sekali karena bisa memiliki anak yang benar-benar anak kandungnya.
"Selamat ya Bos, Aku bahagia melihat Kau bahagia Bos." ucap Andri memeluk Alfin.
"Selamat ya Sheil." ucap Santi da Yeni saat menjenguk Sheila.
"Makasih ya, cepatlah menyusul jangan pacaran lama-lama." wajah Santi dan Yeni seketika merah karena malu.
"Selamag Yem, akhirnya kita sama-sama punya anak dan kelak mereka akan menjadi sahabat." ucap Hevi yang sudah melahirkan lebih dulu dan anaknya juga laki-laki.
"Iya Mbak, Aku tidak menyangka bila kehidupanku bisa sempurna seperti ini." ucap Sheila.
^
Setelah keadaan Sheila pulih dan diijikan pulang oleh dokter, senyum Sheila dan Alfin tak henti-hentinya pudar dari bibirnya, mereka bahagia bisa memiliki anak, dan kali ini Alfin sangat yakin bila anak itu adalah anaknya, "Mas...bagaimana kabar Inez?" tanya Sheila yang tiba-tiba teringat dengan Inez.
"Dia sudah bahagia bersama James, Beby. kalau anak kita sudah bisa diajak pergi-pergi, Mas janji akan membawamu ke Perancis dan bertemu dengan Inez." janji Alfin kepada Sheila.
"Janji ya Mas." ucap Sheila, Alfin menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Makasih Sayang, sudah memberikan impian dalam hidup Mas, Mas bahagia bisa memiliki impian bersamamu." Alfin mencium tangan Sheila.
"Aku juga bahagia Mas." ucap Sheila.
impian adalah harapan setiap manusia
karena impian kita menjalani hidup ini dengan semangat
akan selalu banyak rintangan dalam menggapai impian itu
dan mungkin akan banyak airmata yang akan menjadi saksi
bahkan keringat yang menjadi saksi pengorbanan
impianku bisa merasakan pendidikan yang tinggi dan bonusnya kini memiliki keluarga bersama Alfin lelaki yang sangat Aku cintai.
Terimakasih Allah terimakasih semua 😊😊😊😊 End 😊😊
*Apaan sih thor? kenapa tamat 😡😡😡
#Ya karena memang harus tamat kakak-kakak Zeyeng 😚😚
*Gak lucu thor 😡😡😡
#Lucu ah 😂😂😂
* thoooooorrrrrrr jangan becanda 😈😈😈😈
#Gak bercanda zeyeng 😍😍😘
*😭😭😭😭
#Jangan nangis, kalian bisa menyapa author di novel "Hasan Alfatar" 😊😊😊
#Sudah buruan langsung klik novel author itu dan jadilah pendamping author biar author semangat 45😊😊😊
__ADS_1
*Kamu kejem thor 😣😣😣
#Author Zeyeng kok sama kalian semua 😚😚😚😚