Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Kecurigaan Tia


__ADS_3

Alfin menggendong Inez dan menidurkan dikamarnya, sedangkan Sheila masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah sangat tidak enak sekali.


Saat Sheila sedang asyik mengguyur badannya dibawah sower, Alfin tiba-tiba datang tanpa disadari oleh Sheila, Alfin tersenyum penuh arti dan berjalan pelan menghampiri istrinya.


Sheila terkejut ketika ada sebuah tangan melingkar diperutnya, "Mas!" seru Sheila karena kaget.


Alfin membalikkan badan Sheila dan tersenyum manis kepada istrinya, tanpa meminta ijin kepada Sheila, Alfin langsung mencium bibir Sheila dengan gerakan lembut.


"Beby..." jari telunjuk Alfin bermain diwajah Sheila.


Sheila membuka matanya perlahan dan melihat suaminya tengah tersenyum manis kepadanya membuat jantungnya berpacu dengan cepat, "Kau ini, sudah berapa tahun kita menikah? wajahmu selalu merah seperti ini jika Mas sedang menatapmu, hem." goda Alfin.


"Mas ih!" Sheila memalingkan wajahnya karena malu.


Alfin tertawa kecil, guyuran air membuat keadaan mereka semakin romantis, Alfin tak henti-hentinya menatap memperhatikan istrinya, jari telunjuknya setia bermain diwajah Sheila, "Kamu adalah satu cintaku, cinta pertama dan terakhirku, impianku, dan juga semangat dalam hidupku." bisik Alfin ditelinga Sheila lalu memeluknya dengan penuh perasaan, da perasaan itu hanya Alfin yang tahu.


Yang pasti saat ini hatinya merasa lega dan dirinya terbebas dari orang-orang yang tidak berakal dan sejak tahu kebenaran yang membuat hatinya begitu terluka, membuat berpikir bahwa istrinya yang saat ini menjadi cinta pertama dan terakhirnya.


"Cinta pertamamu bukannya Angel?" ucapan Sheila membuat Alfin melepaskan pelukannya.


Suara gemericik air dari sower menjadi teman untuk pasangan suami-istri itu, Alfin menyentuh leher Sheila dengan kedua tangannya, "Itu bukan cinta, bagi Mas, Kamu adalah cinta pertama dan terakhir sekarang." ucap Alfin lalu mencium bibir Sheila sekilas.


"Sekarang? kalau besok? lusa? nanti? berbeda lagi?" Alfin tertawa mendengar pertanyaan konyol istrinya.


Alfin mencubit hidung Sheila, "Selamanya Beby..." Alfin mencium kening istrinya.


Sheila merasa senang karena itu juga yang dirasakan oleh Sheila, "Mas juga, cinta pertama dan terakhirku, impianku dan juga semangatku." Sheila tersenyum sambil mengedipkan satu matanya membuat Alfin tergoda.


"Berani ya sekarang menggoda Mas seperti itu." Alfin langsung mengeratkan pelukannya lalu mencumbui istrinya. (jangan dilanjutin author tidak sanggup πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)


^


Ellena keluar dari rumah sakit dengan wajah sumringah karena berhasil mendapatkan sesuatu yang membuat dirinya merasa senang saat itu.


"Bagaimana?" Adit langsung bertanya kepada Ellena.


Ellena melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya membuat Adit tersenyum seketika, "Kerja yang bagus!" seru Adit.


Mereka akhirnya pergi dari rumah sakit itu, Ellena meminta kepada Adit untuk mengantarkan dirinya ke mall karena Ellena ingin berbelanja disana.


Adit mengiyakan namun dia mengatakan bahwa hanya bisa mengantarnya dan tidak bisa menemani ataupun menunggunya, Ellena pun mengiyakan perkataan Adit.


Sampai di mall, Ellena turun lalu melambaikan tangannya kepada Adit, Ellena masuk kedalam mall saat mobil Adit sudah berjalan meninggalkan mall.


Saat tengah berbelanja Ellena tiba-tiba menabrak seseorang, "Aduhhh." Ellena dan wanita yang ditabraknya kompak mengaduh.


"Maaf Nona...maaf!" wanita itu mengulurkan tangannya kepada Ellena."

__ADS_1


Ellena menerima uluran tangan wanita itu, "Maafkan Aku juga." ucap Ellena lalu menatap wanita yang ditabraknya.


"Kamu!" teriak wanita itu yang tak lain Tia.


"Cih ternyata Kamu, Aku cabut permintaan maafku!" seru Ellena membuat Tia geram.


"He! memangnya Aku mau meminta maaf sama wanita sepertimu!" ucap Tia melirik Ellena dengan sinis.


"Berani sekali." Ellena ingin melayangkan tangannya kepada Tia namun tangannya ditahan oleh seseorang.


"Aldo!" seru Ellena.


Aldo langsung melepaskna tangan Ellena, "Apa yang ingin Kamu lakukan kepada istriku!" tanya Aldo dingin.


"Maafkan Aku, Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada istrimu ini!" Ellena menunjuk Tia, Tia mendelik kepada Ellena.


"Sejak kapan Kamu jadi kasar seperti ini?" tanya Aldo yang tidak mengerti dengan sikap Ellena, seperti bukan Ellena yang dia kenal di Perancis dulu.


"Sejak bertemu denga istrimu ini! lagian Aku heran kenapa Kamu bisa nikah sama dia? yang Aku tahu dia itu dari dulu mencintai Alfin!" Tia sangat terkejut dengan perkataan yang terlontar dari wanita asing menurut Tia.


Dengan keberanian Tia menghadap Ellena, "Kamu bilang apa tadi? sepertinya Kamu tahu banyak tentangku ya?" tanya Tia menyelidik, namun tatatapan Tia membunuh Ellena.


Ellena menutup mulutnya karena lagi-lagi Ellena keceplosan dalam berbicara dan kali ini Ellena yakin Tia pasti curiga sekali dengannya.


"Ikut Aku!" Tia menarik tangan Ellena, Aldo juga merasa ada yang tidak beres dengan Ellena, diapun mengikuti kemana istrinya membawa Ellena pergi.


Hati Ellena harap-harap cemas, tidak ada lagi alasannya untuk berbohong kali ini, lagian Alfin juga sudah mengetahuinya. pikir Ellena.


"Cepat katakan!" ucap Tia dengan tajam.


"Katakan apa?" tanya Ellena pura-pura tidak tahu maksud Tia.


"Katakan siapa dirimu!" Tia menatap Ellena dengan tatapan membunuh.


"Sayang..." Aldo menggenggam tangan istrinya agar tidak terlalu emosi.


"Aku yakin banget Yank, kalau dia ini! pasti menyembunyikan sesuatu!" Tia menunjuk Ellena.


Ellena tertawa melihat Tia begitu kesal dan emosi saat itu, "Kamu benar." Ellena melipatkan kedua tangannya diatas perutnya.


Tia dan Aldo terperangah, Aldo yang lebih terkejut karena Aldo mengenal baik Ellena di Perancis dulu, "Maksud Kamu?" tanya Aldo.


"Aku..."


"Aku Angel." Tia memundurkan badannya hingga punggungnya terbentur kursi karena terkejut dengan pengakuan Ellena.


"Masih kurang jelas? atau perlu bukti?" ucap Ellena menatap Tia dengan tatapan meledek.

__ADS_1


Tangan Tia tiba-tiba terangkat dan "PLAAAAAKKKK." Tia menampar Ellena dengan keras, Ellena tidak menyangka bila akan mendapatkan tamparan dari Tia.


"Brengsek! berani sekali Kau menamparku!" Ellena ingin membalas Tia namun tangan Aldo menghalanginya.


"Cukup!" teriak Aldo.


"Kamu dengar kan apa yang dia katakan?" Tia menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tia tidak menyangka bila Ellena itu adalah Angel, persis dugaannya selama ini, sorot matanya yang saat melihatnya membuat Tia yakin bila wanita itu mengenalnya dan ternyata benar, wanita itu adalah Angel.


"Aku harus beri tahu Alfin dan Sheila." Tia ingin beranjal dari duduknya namun suaran Ellena membuat Tia mengurungkan niatnya.


"Alfin sudah tahu!" Tia menatap Ellena dengan penuh selidik.


"Dia sudah tahu jika Aku ini adalah...An-gel!" tekan Ellena sambil menatap Tia dengan tatapan menghina.


Tia menggelengkan kepalanya tidak percaya, dan pikirannya pun menjadi berpikir negatif kepada Alfin juga Ellena, "Tidak mungkin." ucap Tia.


"Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepadanya!" seru Ellena, Ellena merasa puas melihat raut wajah kecemasan diwajah Tia.


Tiba-tiba Aldo mendapatkan telepon dari mertuanya, "Baik, Pah." jawab Aldo ketika mendengarkan perintah mertuanya.


"Sayang...Aku disuruh ke kantor, ada hal penting yang harus diselesaikan kata Papah." kata Aldo.


"Kamu pergi dulu saja, Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan wanita ini!" Aldo memandang istrinya lalu berganti memandang Ellena yang menjadi sahabatnya di Perancis saat itu.


"Aku tidak akan macam-macam." ucap Ellena yang seakan mengarti akan tatapan Aldo.


" Aku baik-baik saja." ujar Tia meyakinkan.


Aldo akhirnya meninggalkan istrinya bersama Ellena, walaupun hatinya tidak tenang namun pekerjaannya menuntutnya untuk Aldo turun tangan langsung.


"Apa Sheila juga sudah tahu?" tanya Tia yang dijawab gelak tawa oleh Ellena.


"Sebentar lagi mungkin akan tahu, bahkan akan tahu jika Aku dan Alfin..." Ellena sengaja memotong perkataannya untuk membuat Tia penasaran.


"Jangan bilang kalau Kamu berselingkuh!" tekan Tia.


Ellena tersenyum penuh arti kepada Tia, Ellena juga mengelus perutnya dan menunjukannya kepada Tia, Tia melirik arah mata Ellena.


Tia membelalakan matanya sambil menutup mulutnya, dia menggelengkan kepalanya dan berharap apa yang dipikirkannya saat ini tidaklah benar.


#author lembur loh ini, karena tadi ketiduran terus bangun malam dan melanjutkan nukis ini dan Hasan Alfatar😴😴


*bagus dong thor πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


#jangan bagus-bagus aja....kasih semangat jangan lupa 😑😑😑😑

__ADS_1


*itumah siap πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2