Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Bapak??


__ADS_3

Seketika Alfin tersenyum dan memundurkan badanya dan segera menyalakan mesin mobilnya. dan mereka segera pulang benar kata Sheila ada Inez dirumah yang sedang menunggunya, Alfin sampai lupa akan hal itu.


Akhirnya Sheila bisa bernafas dengan lega karna tadi hampir saja jantungnya mau copot saat Alfin semakin mendekatkan wajahnya..


"Oh iya Pak Alfin, sebentar lagi kan liburan panjang tuh anak sekolah, apa boleh nanti keluargaku datang kesini? mereka ingin menjengukku?" ijin Sheila ragu-ragu.


"Datang saja, asal tidak mengganggu pekerjaanmu," jawab Alfin tetap fokus menyetir.


"Serius Pak? makasih ya Pak Mamah dan adikku pasti senang," Sheila tersenyum lebar merasa sangat senang.


"*B*egitu saja girang" batin Alfin


ยค


mobil Alfin sudah berhenti didepan rumah Alfin, Alfin turun dari mobil dan diikuti oleh Sheila. tiba-tiba Sheila menabrak punggung Alfin karna Alfin tiba-tiba berhenti "Astagfirullah". kaget Sheila karna tiba-tiba menabrak punggung Alfin.


"Kalau punya mata itu buat lihat jalan!" seru Alfin


"Lagian Bapak kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Sheila.


Alfin tak mengubris pertanyaan Sheila karna Alfin memang sengaja mengerjai Sheila dan rencanaya berhasil, Alfin berjalan sambil tersenyum merasa senang karna telah mengerjai Sheila tadi.


"*D*asar menyebalkan, aku sumpahin jodohnya orang kampung Pak!" sumpah Sheila dalam hati.


Alfin berjalan kearah dapur karna ingin mengambil airminum saat sampai didapur Alfin melihat Bi Tini sedang bercengkrama dengan suaminya yang baru pulang dari tempatnya bekerja.


Suami Bi Tini bekerja disalah satu cabang kantor Alfin dan kerjanya cukup baik.


"Pak Sunari? kapan Bapak pulang?" sapa Alfin mendekat kearah suami Bi Tini dan ikut duduk di kursi yang kosong "Tolong bikinin aku kopi ya Bi!" pinta Alfin kepada Bi Tini.


Bi Tini segera berdiri dan membuatkan kopi untuk sang majikannya.


"Sudah 1jam lebih lah Den, Aden sendiri tumben sudah pulang?" tanya Pak Sunari.


"Bentar lagi kekantor Pak, tadi saya mengajar sebagai guru ujian kejar paket," jawab Alfin mengambil kopi yang sudah dibuatkan Bi Tini dan meminumnya.


"Loh ko Aden jadi guru lagi?" tanya pak Sunari lagi.


"Kangen aja Pak, tapi cuman seminggu ko lagian aku mengajar buat anak-anak yang telat sekolah, jadi cuman sebentar," jelas Alfin


"Oh... seperti itu," Pak Sunari menganggukan kepala tanda mengerti dengan alasan bosnya.


Sheila pergi kedapur untuk mencuci tangannya sebelum memegang baby Inez, biasanya Sheila langsung kekamar dan mencuci tangannya dikamar baby Inez sekalian, tapi kali ini Sheila ingin kedapur sekalian untuk minum karna dirinya sangat haus sekali.


"Seperti berpuasa aja aku merasa kehausan begini," gumam lirih Sheila.


Saat Sheila telah sampai didapur Sheila tiba-tiba berhenti dan mematungkan diri tidak jauh dari Alfin dan Pak Sunari yang sedang berbincang dimeja makan.

__ADS_1


Sheila merasa dunianya runtuh tatkala Sheila melihat orang yang ada didepannya. ingin rasanya Sheila mendekat dan menamparnya tapi Sheila hanya diam mematung memikirkan apa yang dilihatnya adalah benar adanya.


Sheila masih berdiri dan tak terasa airmata jatuh membasahi pipi putihnya Sheila.


Sheila mencoba meredam keadaan hatinya dia tidak mau gegabah siapa tau dia bukan Bapaknya yang sudah tega meninggalkannya dan ibu beserta adiknya.


Sheila tersadar saat ada yang menepuk pundaknya ternyata Bi Tini "Kamu kenapa berdiri dan melamun disini Nak, ayo ikut Bibi duduk nanti Bibi buatkan teh anget mau?" Bi Tini menggandeng Sheila mendekati Alfin dan suaminya.


"Ini loh Sheila yang sering ibu critain sama Bapak dia anaknya baik dan pintar!" Bi Tini memperkenalkan Sheila kepada suaminya.


"Oh... ini toh anaknya selain baik dan pintar anaknya cantik juga ya Bu," jawab Pak Sunari tak mengenali Sheila adalah anaknya.


"*A*pa bapak ini bukan bapakku? tapi mukanya sungguh mirip sekali walaupun sekarang dia jauh lebih tua dari yang kulihat terakhir dulu" tanya dalam hati Sheila.


Pak Sunari mengulurkan tangannya kepada Sheila , Sheila memandang tangan pak Sunari dengan penuh tanda tanya dan kebingungan.


Sheila terdiam sejenak memikirkan sesuatu namun akhirnya Sheila menjabat tangan pak Sunari "Siapa nama Bapak?" tanya Sheila sedikit parau karna menahan tangis.


"Nama saya Pak Sunari Nak," jawab Pak Sunari dengan tersenyum melepas jabatan tangannya.


Seketika Sheila berpamitan kepada semua orang yang ada didapur termasuk Alfin, Sheila segera berlalu kekamar Inez Sheila berlari agar cepat sampai kekamar Inez karna airmatanya sudah tak terbendung lagi.


Alfin yang merasa heran dengan perubahan sikap Sheila tadi segera beranjak dari duduknya dan berjalan keatas menyusul Sheila " *K*aya ada yang tidak beres dengan Sheila, tapi kenapa?" tanya Alfin dalam hati.


didapur Bi Tini maupun Pak Sunari hanya saling pandang bingung dengan sikap Sheila tiba-tiba seperti itu.


ยค


Alfin masuk kekamar Sheila melalui pintu yang ada dikamar Inez, Alfin membuka pintu dan masuk kedalam kamar Inez. Alfin kaget saat melihat Sheila terduduk disebelah tempat tidur memeluk lututnya dan menunduk dan Alfin lebih kaget mendengar Sheila ternyata sedang menangis.


"*K*enapa dia tiba-tiba menangis seperti ini?". tanya Alfin dalam hati.


Alfin mendekat kearah Sheila dan menjatuhkan dirinya kelantai, Alfin duduk dengan posisi lutut yang menjadi tumpuan lantainya.


"Sheil..." panggil Alfin dengan suara lembut, Alfin juga tidak tahu mengapa Alfin merasa sedih melihat Sheila menangis seperti itu.


Sheila mendongakan kepalanya saat mendengar Alfin memanggilnya " Pak Alfin?" Sheila segera menghapus airmatanya dengan jari-jarinya.


"Apa bapak perlu sesuatu, atau Inez bangun Pak, maaf saya tidak mendengarnya biar saya kekamar Inez dulu Pak," Sheila berdiri dan ingin berjalan kekamar Inez namun langkahnya terhenti saat Alfin memegang tangan Sheila.


Sheila berhenti dan berbalik menghadap Alfin mereka beradu pandang sedikit lama namun Sheila segera menunduk karna dirinya sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Alfin mendekat dan memegang dagu Sheila untuk menatapnya.


Sheila menatap Alfin dan mata mereka bertemu Sheila berusaha untuk tidak menangis namun airmatanya tetap jatuh juga kepipinya.


Alfin yang menyadari airmata Sheila jatuh segera menghapus airmata Sheila dengan ibu jarinya. ada yang gemuruh didalam hati saat Alfin melihat Sheila menangis seperti ini padahal Alfin selalu melihat Sheila ceria dan tersenyum walaupun terkadang menyebalkan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Alfin lagi.


Sheila hanya menggelengkan kepalanya sambil menundukan kepalanya membuat Alfin semakin penasaran olehnya.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa tapi kamu menangis seperti ini!" kata Alfin menangkup pipi Sheila dan mengangkat wajah Sheila lagi.


bukan jawaban yang keluar dari mulut Sheila namun airmata yang justru mengalir deras.


Alfin semakin bingung dengan Sheila Alfin yang melihat Sheila menangis lagi langsung menarik tangannya dan memeluknya. Alfin membenamkan wajah Sheila kedadanya.


Alfin tahu pasti Sheila sedang mengalami masalah yang berat sampai membuat Sheila menangis seperti ini. dan Alfin hanya mengelus kepala Sheila dengan lembut Alfin membiarkan Sheila menangis untuk melepaskan masalahnya sejenak.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


#selamat membaca jangan lupa untuk dukung author ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


semoga kalian selalu bahagia ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2