Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Bagaimana kejutanku? menyenangkan bukan?


__ADS_3

Tia langsung pergi ke kantor Alfin setelah selesai berbicara dengan wanita yang sangat menyebalkan menurut Tia, bagaimana tidak, dia mengaku Angel dan pergi ke Paris bersama James lalu kembali kesini dan ingin menghancurkan rumah tangga adiknya? sungguh bagi Tia, dia tetap wanita ular yang sangat licik, jika tidak ada hukum dinegeri ini mungkin Tia sudah memberi pelajaran kepada wanita ular itu.


Tanpa permisi Tia langsung membuka pintu ruangan Alfin, Alfin terkejut mendengar suara pintu terbuka dengan suara keras, "Tia." Alfin berdiri dari duduknya.


PLAAAAAKKKK Tia menampar Alfin dengan sangat keras. Alfin memegangi pipinya yang sudah ditampar Tia, "Kenapa menamparku?" tanya Alfin sambil menatap Tia bingung.


Tia menunjuk Alfin, "Masih berani Kamu bertanya kenapa!" teriak Tia membuat Alfin semakin bingung.


"Apa yang Kamu lakukan dengan Ellena dibelakang Sheila!" Tia masih menunjuk Alfin dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.


Alfin terkejut dengan apa yang dikatakan Tia, tubuhnya seketika bergetar karena merasakan ketakutan didalam hatinya, bagaimana Tia bisa tahu? ya ampun, sekarang apa yang harus dia katakan sekarang dan bagaimana caranya agar Tia percaya dengan kata-katanya.


"A-pa mak-sudmu?" Alfin bertanya dengan gugup.


"Tidak usah berpura-pura bodoh, Fin!" Tia memukul Alfin dengan tasnya karena merasa kecewa dengan Alfin yang sudah mempermainkan Sheila.


Alfin mencoba melindungi dirinya dengan tangannya, "Stop Ti..sakit!" teriak Alfin.


Tia berhenti dan menatap Alfin dengan tajam, "Duduklah! Aku akan menjelaskan sesuatu kepadamu." Alfin mempersilahkan Tia untuk duduk, dengan perasaan masih kesal dan marah tetapi Tia menuruti perkataan Alfin.


"Cepat katakan!" kemarahan Tia membuat hati Alfin teriris dan menyesal, mengapa tidak dari dulu dia percaya dengan perkataan Tia kalau Angel bukanlah wanita baik-baik.


Alfin mengusap wajah dan mengusap rambutnya kebelakang, "A-ku..." Alfin berasa tidak sanggup bila harus membahas malam itu lagi.


"Kamu sudah tidur dengan Angel kan?" Alfin menoleh kearah Tia.


"Dan sekarang dia hamil!" Alfin memundurkan badannya karena terkejut.


"Apa yang Kamu katakan!" teriak Alfin tidak percaya.


"Aku tadi bertemu dia disupermarket dan Aku merasa curiga dengan kata-kata Ellena yang sepertinya tahu banyak tentangku, dan dugaanku benar, dia wanita yang tahu banyak tentangku dan sangat membenciku!"


"Dan Kamu tahu apa yang dia katakan, dia bilang sudah tidur denganmu dan sekarang? dia hamil, Fin!" Tia berkata sambil menangis.


"Aku tidak menyangka Kamu bisa setega ini, Fin! apa salah Sheila sampai Kamu bisa melakukan hal menjijikan seperti ini! bagaimana perasaan Sheila, Fin!" Tia menarik kerah Alfin karena marah.


Alfin menunduk lesu, rasanya tidak sanggup mendengar setiap perkataan Tia, hatinya sudah hancur seketika ketika mendengar kabar buruk ini.


"Tia..." Alfin melepaskan genggaman tangan Tia yang sedang menarik kerahnya, Tia melepaskan tangannya lalu mengusap wajahnya dan menangis.


"Maafkan Aku..."


"Aku memang melakukan kesalahan tapi itu tanpa disengaja, Ti." Tia menoleh kearah Alfin.

__ADS_1


"Alasan macam apa itu!"


"Aku berani bersumpah." Alfin mengangkat jarinya keatas membentuk huruf V.


"Aku melakukan itu tanpa sadar, Aku dijebak sama mereka!" Alfin berusaha menjelaskan permasalahannya.


"Apa maksudmu, mereka!" tanya Tia.


"Ellena dan Adit!" ucap Alfin menunduk karena menyesal telah bertemu dengan orang-orang itu.


"Adit? adik iparku!" Tia menggelengkan kepalanya tidak percaya.


^


Ditempat lain, dirumah Alfin.


Sheila mendengar ketukan pintu dari luar, Sheila pun membuka pintunya, "Ca..." Sheila tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat wanita yang dia kenal sedang berdiri didepan pintu rumah suaminya, wanita itu adalah Ellena.


Ellena tersenyum kepada Sheila, Sheila merasa aneh dengan kedatangan Ellena yang menurutnya tiba-tiba, "Mau cari siapa?" tanya Sheila yang sebetulanya jengah melihat wanita yang ada didepannya kini.


"Cari Kamu." Ellena tersenyum miring.


Sheila mempersilahkan Ellena masuk, dirinya juga membuatkan minuman dan membawakan cemilan, walau bagaimana pun Ellena adalah tamu dan harus dihormati.


"Ada apa mencariku?" tanya Sheila yang tidak ingin berbasa-basi.


Ellena tersenyum sinis, "Aku juga tidak ingin berbasa-basi denganmu." ucapan Ellena mulai menunjukkan aslinya.


Ellena membuka tasnya dan mengambil amplop putih didalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Sheila, "Coba baca!" pinta Ellena.


Sheila mengambil amplop itu dengan perasaan ragu namun juga penasaran, dengan perlahan Sheila membuka amplop itu dan membacanya, "Apa mak-sudmu menun-jukkan ini kepadaku?" tanya Sheila yang tiba-tiba hatinya merasakan sesuatu yang buruk.


Ellena tertawa mendengar perkataan Sheila, "Kamu pikir?"


"Jangan berbelit-belit!"


"Oh ya ampun, Sheila yang malang...sebentar lagi Alfin akan menjadi milikku!" ledek Ellena.


"Karena Aku...hamil anaknya." bisik Ellena.


"Ha." Sheila begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Ellena katakan.


"Tidak mungkin!" Sheila memegangi dadanya yang saat ini terasa sakit dari dalam.

__ADS_1


"Apa yang tidak mungkin! mungkin dia bosa denganmu! karena kamu tidak bisa memberikan keturunan sampai saat ini bukan? jadi tidak salah kan? bila suamimu mencari tempat yang lain untuk menaruh benihnya? dan wanita itu Aku." ucapan Ellena tambah membuat hati Sheila terasa sesak.


"Aku tidak percaya denganmu!" ucap Sheipa berusaha mempercayai suaminya.


"Kamu tanyakan saja pada suamimu itu! dan perlu Kamu tahu, waktu acara kampus kemarin, sebenarnya Adit ingin memutar rekaman percintaanku dan suamimu, tapi...entah mengapa ada yang menukarnya dan Aku yakin itu perbuatan suamimu yang takut bila semuanya terbongkar." telinga Sheila semakin panas mendengar setiap perkataan Ellena.


"Keluar dari rumahku sekarang!" Sheila menunjuk pintu.


Ellena berdiri lalu tersenyum sinis melihat Sheila kini tengah menunduk sambil menangis, mendengar suara pintu tertutup, Sheila mendongakkan kepalanya, "Ya Allah...apa benar semua ini?" Sheila memandangi surat pemeriksaan hasil Lab Ellena.


Sheila langsung berlari kekamarnya, Sheila terduduk lemas disisi ranjang, perkataan Ellena masih teringang jelas ditelinganya.


"Kenapa Kau melakukan ini, Mas." ucap Sheila sambil menangis.


^


Alfin langsung keluar dari kantor saat Tia menyuruhnya untuk segera pulang, karena Tia yakin kalau Ellena akan segera memberitahu Sheila kalau dirinya hamil.


"Bos! mau kemana!" teriak Andri yang melihat Alfin berlari keluar.


Alfin tidak menghiraukan panggilan Andri yang ada didalam pikirannya saat ini adalah istrinya, istrinya dan istrinya.


Alfin segera menjalan mobilnha dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan umpatan orang yanv dilayangkan kepadanya, baginya saat ini itu tidak penting sama sekali.


Sampai dirumanya, Alfin segera berlari masuk kedalam, Alfin mengucapakan salam namun tidak ada jawaban, Alfin memandang meja ruang tamu yang masih ada bekas minuman dan makanan yang Sheila buat untuk Ellena tadi.


AKKKHHHH Alfin berteriak sambil mencambak rambutnya sendiri karena Alfin berpikir buruk jika tadi Ellena sudah datang dan menceritakan semuanya kepada istrinya.


Ponsel Alfin tiba-tiba berbunyi menandakan pesan masuk kedalam ponselnya.


"Bagaimana kejutanku! menyenangkan bukan!" pesan Ellena.


"Brengsekkkk!" teriak Alfin.


Alfin langsung pergi kekamarnya, didepan pintu Alfin terdiam dan mencoba memprsiakan dirinya untuk kuat dan sabar menghadapi kemarahan Sheila nanti karena memang sudah sepantasnya istrinya itu marah.


Alfin membuka pintu, "Beby..."


#eng ing eng 😂😂😂😂


*sial lu thor dibikin nanggung 😠😠😠😠


#biar tambah kangen aing 😄😄😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2