Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Hamil?


__ADS_3

Alfin menggendong Sheila dan berlari kemobil, Alfin begitu panik begitu juga dengan yang lain.


"Mommy!" teriak Inez sambil menangis.


"Mommy kenapa Omah?" tanya Inez kepada Novi sambil menangis.


"Tenang sayang, Mommy tidak apa-apa," ucap Novi menenangkan cucunya.


"Yang lain naik mobil saya," James langsung berlari kekamar dan mengambil kunci mobil lalu turun kembali, James begitu panik dan terburu-buru.


"Ayo tante, Fin!" ajak James.


"Iya Kak!" ucap Fino langsung berjalan kemobil bersama Novi dan Ellena.


Inez tak henti-hentinya menangis, James merasa terpukul hatinya melihat Inez menangis seperti itu "Fin...kamu yang bawa mobil ya?" ucap James dan diangguki Fino.


"Inez...sama Om ya?" James merentangkan tangannya kepada Inez.


Inez pun mau digendong sama James, James duduk didepan sambil memangku dan menenangkan Inez yang masih menangis dan memanggil Sheila.


"Ya Allah...Sheila kenapa ya?" ucap Sita cemas.


"Semoga Sheila tidak apa-apa Ya Allah." doa Sita.


^


Mayang sedang bermain bersama Fatih anaknya yang baru berumur 1tahun, Tia dan Alex sedang duduk disofa tidak jauh dari Mayang dan Fatih.


Mayang menggendong Fatih dan memberikan kepada Alex karena Mayang mendengar ponselnya berbunyi "Novi." gumam Mayang sambil tersenyum karena yang menghubunginya adalah sahabatnya.


"Assalamualaikum Nov?" salam Mayang ketika mengangkat teleponnya.


"Wa'alaikumsalam Yang, Sheila Yang..." jawab Novi sambil memangis.


"Sheila? Sheila kenapa Nov?" Mayang panik karena Novi berbicara sambil menangis membuat hati Mayang menjadi tidak enak.


Tia dan Alex langsung berdiri dari duduknya melihat Mayang panik "Apa! dibawa kerumah sakit? kenapa? apa yang terjadi!" Mayang langsung menangis mendengar anaknya sedang dibawa kerumah sakit.


"Aku akan kesana!" Mayang langsung mematikan teleponnya dan menghampiri Alex dan Tia.


"Sheila kenapa Sayang?" tanya Alex.


"Sheila kenapa Mah?" tanya Tia.


Mayang menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu Mas, tadi kata Novi dia sakit perut dan pingsan habis makan dan sekarang dia dibawa kerumah sakit, kita kerumah sakit ya,"

__ADS_1


Mayang menjelaskan sambil menangis.


"Ya sudah. kamu kasih Fatih sama suster dulu, tidak baik bawa anak kerumah sakit," tutur Alex sambil memberikan Fatih kepada Mayang.


Mayang berjalan sambil memanggil suster Ina untuk menjaga Fatih "Aku akan pergi sebentar, tolong jaga Fatih ya Sus?" Mayang menyerahkan Fatih kepada Ina.


"Baik bu." Ina menundukkan kepalanya.


"Aku ikut ya Mah?" pinta Tia.


"Iya sayang...ayo!" Mayang, Alex dan Tia langsung pergi kerumah sakit.


^


Kini Sheila berada diruangan UGD dan sedang ditangani oleh dokter, Alfin tak henti-hentinya menangis sambil mengusap wajahnya.


Alfin berjalan mondar-mandir didepan ruangan UGD, Purnomo yang melihat anaknya seperti itu merasa kasihan "Duduklah Fin!" perintah Purnomo kepada anaknya.


"Gak Pah! Alfin gak tenang!" tolak Alfin.


Novi dan Fino berlari kedalam rumah sakit, mereka berlari menghapiri Alfin dan Purnomo yang berada didepan ruangan UGD.


"Bagaimana Sheila Fin?" tanya Novi saat sudah berada didepan anaknya.


"Masih didalam Mah." jawab Alfin lemas.


"Kak celanamu basah?" ajar Fino yang melihat celana yang dipakai Alfin terlihat basah.


Alfin memperhatikan celananya dan mengusapnya, tangan Alfin bergetar ketika melihat noda merah ditangannya "Darah?" ucap Alfin bingung.


Novi dan Purnomo bangkit berdiri "Darah?" ucap Novi mengulang perkataan Alfin.


"Jangan-jangan darah Sheila!" teriak Purnomo, Alfin menatap ayahnya penuh maksud.


"Kamu kan tadi memangkunya Fin," ucap Purnomo yang mengerti dengan tatapan anaknya.


James dan Ellena duduk "Ada apa?" tanya James yang melihat kebingungan diwajah mereka.


Semu terdiam tidak menjawab pertanyaan James, karena pikiran mereka sedang melayang-layang tentang Sheila, apalagi Alfin dia terlihat sangat takut.


James pun mengerti keadaan mereka, dia menyandarkan tubuhnya dikursi karena saat ini James masih menggendong Inez yang sedang tertidur.


"Rasain! hidup kalian akan menderita!" batin Ellena sambil tersenyum sinis.


Pintu ruangan terbuka, seorang dokter perempuan yang bernama Dewi keluar dari ruangan, Alfin langsung menghapnya "Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Alfin.

__ADS_1


Wajah dokter tersebut tidak menampakan senyuman "Istri anda mengalami keracunan makanan," tutur Dewi.


"Keracunan?" kaget Alfin.


"Iya Pak, karena itu juga istri anda..."


"Istri saya kenapa Dok!" teriak Alfin yang perasaannya menjadi tidak enak.


"Keguguran Pak." pernyataan dokter Dewi membuat Alfin terhuyung kebelakang karena syok, Fino segera menahan tubuh Alfin agar tidak terjatuh.


"Keguguran? maksud dokter istri saya hamil?" tanya Alfin lemas.


Dokter Dewi menganggukan kepalanya "Iya Pak, usianya masih sangat muda jadi tidak bisa bertahan, janin itu masih berumur 2minggu jadi mungkin Bapak tidak tahu kalau ibu sedang hamil," tutur dokter Dewi membuat Alfin bersimpuh dilantai.


Novi syok mendengar penuturan dokter Dewi, bukan hanya Novi namun juga yang lain merasa syok karena berita itu, kecuali Ellena yang kini sedang berbahagia karena berhasil membuat keluarga itu menderita.


"Yang sabar ya Pak, istri anda belum siuman karena saat ini kondisinya sangat lemah, kalian boleh menengoknya tapi tidak boleh lebih dari 2orang," kata dokter Dewi.


"Istri anda akan dipindahkan diruang perawatan, kalian bisa menengoknya disana. Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa panggil saya," dokter dewi meninggalkan ruangan UGD.


Alfin menangis tanpa suara, dadanya terasa sangat sesak menerima kenyataan yang ada, Alfin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Fino sedih melihat kakaknya kini terpuruk lagi "Kak..." Fino mengusap-usap punggu Alfin memberikan ketenangan untuk kakaknya.


Novi dan Purnomo bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri anaknya "Sayang..." Novi mengusap kepala Alfin.


Alfin memeluk ibunya sambil menangis, tidak ada kata yang keluar dari mulut Alfin, hanya airmata yang menjadi saksi betapa terlukanya kini, Novi juga terdiam dan hanya memberikan simpatinya dengan memeluk anaknya.


"Sabar Fin...ini ujian." tutur Purnomo dengan sedih.


"Kamu harus kuat untuk istrimu, pergilah temani istrimu, dia pasti akan sangat terpukul bila tahu kenyataan ini, kamu harus berada disisnya dan kuat untuknya," ucap Purnomo memberikan nasehat kepada anaknya.


Alfin melepaskan pelukannya dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan "Papah benar! aku harus kuat untuk istriku! dia yang lebih terluka." ucap Alfin berusaha untuk kuat.


Alfin berjalan kearah James "Jam...tolong jaga Inez sebentar," ucap Alfin.


James menangguk "Kamu temani saja istrimu, Inez biar aku yang menjaganya, percaya padaku!" saut James.


Alfin mengangguk dan membungkukan badannya untuk mencium Inez sebelum Alfin pergi "Tetaplah dirumahku sampai Sheila bisa kembali kerumah, temani Inez!" pinta Alfin dan segera diangguki oleh James.


Alfin berjalan meninggalkan keluarga dan sahabatnya, sampai didepan kamar perawatan Alfin masuk kedalam dan berjalan pelan menghampiri istrinya yang masih terbaring lemas.


Infus dan selang oksigen telah terpasang ditubuh Sheila, melihat istrinya terbaring lemah dihadapannya membuat Alfin tidak kuasa menahan airmatanya.


Alfin mencium kening Sheila dengan airmata yang tak henti-hentinya mengalir dari matanya, Alfin mendekatkan bibirnya ketelinga Sheila "Bangun Sayang...Mas disini." bisik Alfin telinga Sheila..


Alfin duduk disebalah ranjang Sheila lalu menggenggam tangan istrinya meletakkannya dipipi Alfin "Bangun sayang..." ucap lirih Alfin sambil menangis merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya hingga kini dia harus kehilangan calon anaknya.

__ADS_1


(besok lagiπŸ˜„)


Jangan lupa Vot biar author semangat πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2