
Alfin melihat Ellena dengan tajam, "Jangan pernah mengancamku!" tegas Alfin.
Ellena berdiri dan menghadap Alfin, "Aku tidak mengancammu! hanya saja...aku menantangmu! seberapa beraninya kamu nanti ketika melihat istrimu melihat video dan foto-foto kita pada saat malam itu." bisik Ellena diteling Alfin.
Wajah Alfin merah padam karena menahan marah, tangannya sudah terkepal dan ingin sekali menghabisi wanita yang ada didepannya kini, namun Alfin sadar jika dia adalah manusia dan Alfin tidak punyak hak untuk mencabut nyawa orang lain.
"Apa maumu!" geram Alfin.
"Aku sudah bilang, aku hanya ingin dirimu."
Alfin mengatup kedua rahang Ellena dengan tangannya, "Kamu fikir aku mau? tidak sama sekali!" Alfin melepaskan cengkramannya dengan sedikit keras.
Ellena menyentuh rahangnya yang sedikit terasa sakit karena ulah Alfin, "Bukankah dulu kau sangat mencintaiku?" ucap Ellena.
Alfin tertawa dengan pertanyaan konyol Ellena, "Aku saja tidak pernah melihatmu sebelumnya!" ucap Alfin saat berhenti ketawa.
"Kita pernah menikah!"
Mendengar perkataan Ellena, Alfin langsung menajamkan matanya kepada Ellena, "Aku Angel!" Ellena mengakui siapa dirinya.
Alfin memundurkan langkahnya sambil menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ellena, Ellena menarik tangan Alfin untuk ikut dengannya.
Alfin menolak namun dengan alasan ingin menjelaskan semuanya, Alfin pun ikut dengan Ellena, Ellena membawa Alfin ketempat yang lumayan sepi yang jauh dari keramaian namun Adit selalu berada dibelakangnya untuk mengambil gambar-gambar antara Ellena dengan Alfin.
Ellena mempersilahkan Alfin untuk duduk walaupun awalnya Alfin menolak namun dengan ancaman Ellena sukses membuat Alfin menurut seperti kucing.
"Aku Angel!" ucap Ellena.
Alfin menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Tidak mungkin!" ucap Alfin yakin.
Ellena tersenyum simpul, "Karena wajahku? aku sengaja pergi meninggalkanmu dan mengoperasi wajahku agar tidak terlihat seperti Angel." tutur Ellena.
"Itu tidak bisa dijadikan bukti! dan satu lagi, Angel sudah tidak ada." ucap Alfin.
Ellena mengeluarkan sesuatu ditas, setelah menemukan Ellena mengambil dan memperlihatkan kepada Alfin, Alfin terkejut dengan apa yang Ellena tunjukan, "Bagaimana bisa ini ada padamu!" ucap Alfin dengan sedikit emosi.
"Karena itu memang punyaku, disaat kita menikah dulu kan?" ucap Ellena berusaha membuat Alfin percaya.
Alfin menggengam cincin kawin itu dengan begitu emosi, "Jika niatmu meninggalkanku lalu untuk apa kau kembali kesini!" entah apa yang harus Alfin rasakan mengetahui kebenaran ini, rasa benci, marah apa sebaliknya, Alfin pun belum bisa menyimpulkannya.
"Aku ingin kau menderita." ucap Ellena sambil menatap kosong kedepan.
Alfin menatap Ellena dengan penuh pertanyaan, Ellena pun tahu jika Alfin meminta penjelasannya.
"Kamu tahu? kedua orangtuaku jatuh bangkrut dan kedua orangtuamu lah yang membuat kebangkrutan itu terjadi. Dan disaat itu aku ingin membalas dendam kepadamu makanya aku mau menikah denganmu." penjelasan Ellena membuat Alfin tidak percaya bila istrinya yang dulu sangat dia banggakan ternyata hanya menjadikan dirinya alat pembalasan dendaman.
"Aku pergi keparis dengan James bahkan aku berselingkuh dengannya sebelum aku mengenalmu! dan anak itu...bukan anakmu!" tegas Ellena tanpa rasa bersalah.
BBBRRAAAKKK Alfin menggebrak meja yang ada didepannya karena rasa marah yang menyelimuti hati dan jiwanya mendengar pengakuan Ellena yang membuat hatinya sungguh terluka.
__ADS_1
Ellena tidak merespon kemarahan Alfin, "Aku kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan sahabatku dan sekaligus ingin melihat kondisimu."
"Tapi apa yang aku lihat tidak seperti apa yang aku bayangkan, kamu sudah bahagia lagi bersama wanita lain? dan aku semakin merasa ingin menghancurkanmu!" Ellena menatap Alfin dengan tajam.
"Kalian berdua memang brengsek!" geram Alfin.
"Aku memang brengsek tapi kedua orangtuamu jauh lebih brengsek!" teriak Ellena.
"Kamu tidak tahu kan bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa kedua orangtua yang selalu menyayangimu ha! kamu tidak tahu bagaimana jadi aku pada saat itu!" teriak Ellena mencoba menahan airmatanya.
Alfin melihat kemarahan Ellena ada sedikit rasa iba namun lebih banyak rasa benci itu, "Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan orang yang kita cintai itu sakit bukan?"
"Lalu apa sekarang kau sudah puas dengan balas dendammu itu? apa sekarang kau puas bisa menyakiti seseorang yang tidak bersalah! apa sekarang kau puas ha!"
Ellena tertunduk sebentar lalu mendongakan kembali kepalanya, "Rasa dendamku berubah menjadi rasa cinta, dan aku ingin kau kembali kepadaku lagi." ucap Ellena tanpa rasa malu.
"Ha! apa kau bilang? cinta? ingin kembali? semua sudah terlambat!" tegas Alfin.
"Jika wanita kampungan itu pergi meninggalkanmu apa kamu akan kembali kepadaku lagi?" tanya Ellena.
Alfin membuang nafasnya kasar, "Jangan menghina istriku! dia lebih baik darimu!" Alfin menunjuk Ellena dengan tatapan tajam.
"Dan aku tidak akan pernah kembali dengan dirimu! cam kan itu!" Alfin berdiri dan pergi meninggalkan Ellena sendiri disitu.
Alfin berbalik badan menoleh kearah Ellena, "Apa kamu juga yang mencelakakan Sheila waktu itu?" tanya Alfin ingin tahu.
Ellena menganggukan kepalanya, "PLAAAAKKK" Alfin menampar Ellena karena merasa kesal dengan ulah Ellena.
Alfin masuk kedalam mobil dan memukul stir mobil dengan cukup keras, Alfin berteriak didalam mobil lalu kemudian Alfin menangis layaknya anak kecil.
Alfin lebih sakit lagi saat mengetahui jika anak yang selama ini dia asuh dan dia rawat dengan baik bukan anaknya...bukan anak kandungnya. Alfin begitu merasa terpukul dengan pengakuan Ellena, andai Alfin dulu percaya padanya mungkin Alfin tidak akan merasa sesakit ini namun cintanya menutup semua kebenaran yang ada hingga kini dia lah yang paling terluka disini.
Dalam keadaan hancur Alfin mengemudikan mobilnya menuju Apartemen James, Alfin ingin memberikan pelajaran untuknya yang sudah menjadi penghianat dalam hidupnya.
^
"Kau baik-baik saja?" Adit memeriksa pipi Ellena yang tadi ditampar Alfin.
Ellena menghindari tangan Adit, "Coba lihat hasil kerjamu!" Adit memberikan ponselnya kepada Ellena.
Ellena melihat hasil karya Adit yang akan membuat Alfin dan Sheila berpisah nanti, "Bagus!" Ellena tersenyum memuji hasil karya Adit.
"Kapan ini akan dikirim kepada Sheila? aku sudah tidak sabar melihat mereka berpisah." Ellena dan Adit tertawa.
"Tunggu perintah dariku! bersabarlah sedikit!" ucap Ellena.
^
Sheila tidak bisa tidur padahal Inez sudah tidur dari tadi, "Ya Allah...buat aku ngantuk." gumam Sheila terkekeh sendiri.
__ADS_1
Sheila kebawah untuk menonton tivi, Sheila duduk lalu menyalakan tivi. Merasa ada yang kuranga Sheila mengambil makanan dan minuman untuk teman menonton.
Sheila berusaha mengusir kebosannya namun tetap saja Sheila merasa kesepian, Sheila melihat jam dinding dan menunjukan angka 10, Sheila menghela nafasnya berat, Sheila sebenarnya mulai merasa curiga kepada Alfin karena sekarang Alfin begitu giat keluar malam membuat hati Sheila tidak tenang dan berfikir macam-macam.
Namun Sheila berusaha mengusir pemikiran itu dan mencoba menumpuk kepercayaan kepada suaminya, Sheila ingin rumah tangganya dibangun dengan kepercayaan yang tinggi dan Sheila yakin jika suaminya itu adalah lelaki yang setia.
Sheila berbaring disofa depan tivi dan menonton film yang entah apa judulnya karena Sheila hanya asal menonton.
^
Alfin menghampiri James diapartemennya, saat pintu kamar James terbuka "BUKKKKK." Alfin langsung memukul James.
James tersungkur kelantai lalu bangun dan menatap Alfin dengan bingung, "Kenapa memukulku?" tanya James yang tidak mengerti maksud Alfin.
"Kau sahabat terbrengsek Jam!" teriak Alfin sambil menunjuk wajah James dengan jari telunjuknya.
James diam membisu dan berpikiran bahwa mungkin Alfin sudah tahu segalanya tentang hubungannya dengan Angel dulu, diamnya James membuat Alfin semakin marah, "Kenapa kalian melakukan ini kepadaku! harusnya kalian tidak usah kembali lagi kesini jika hanya untuk menghancurkan hidupku!" Alfin berucap dengan geram, tangannya sudah mengepal namun Alfin berusaha untuk tidak memukul James lagi walaupun dalam hatinya ingin sekali Alfin menghabisi sahabat dan mantan istrinya itu.
"Maafkan aku Fin...Kamu pantas untuk untuk memukul dan membenciku." James merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan kepada Alfin dulu.
Alfin berdecak kesal dan membuang mukanya, "Minta maaf! setelah menjebakku dengan Angel untuk menghancurkan rumahtanggaku? Kau memang brengsek Jam!" Alfin mengangkat kerah baju James.
"Apa maksudmu? aku tidak pernah menjebakmu dengan Angel! dan sekarang aku pun sudah tidak berhubungan lagi dengannya." Alfin melepaskan cengkramannya.
"Jangan berbohong kepadaku lagi! dan cepat berikan bukti itu padaku!" Alfin menunjuk wajah James kembali.
"Aku benar-benar tidak memiliki bukti apapaun Fin! apa yang sudah dia lakukan?" tanya James.
Alfin mengambil ponselnya dan memperlihatkan pesan yang waktu itu dikirim James kepadanya.
Wajah James bingung karena James tidak pernah mengirim pesan apapun kepada Alfin. Alfin dan James saling pandang karena telah dibodohi oleh Ellena alias Angel.
(Lanjut kakkkakakaka 😂😂)
*gaje lu thor 😄😄
#memang gaje aing 😂😂😂
#Karena kehaluan aing kasih visual nih, tapi ingat semua copy rigt ya 😄😄
#imut kan kaya author yang cewe 😂😂😂
*Halu lu thor 😅😅😅
Sheila
Alfin
__ADS_1