
Alfin bersimpuh disamping keranjang tempat tidur dimana Sheila berbaring, tangan Alfin menyentuh kening Sheila "Tidak panas," gumam Alfin.
Alfin bernafas sejenak lalu membuangnya perlahan "Apanya yang sakit Beby? Mas panggilkan dokter ya?" tanya Alfin.
Sheila cemberut "Ih! kamu yang benar saja Mas, masa masalah kaya gini manggil dokter? aku malu lah!" Sheila memukul lengan Alfin.
"Malu gimana sih Beb? tadi katanya sakit? mana yang sakit?" Alfin bingung tidak mengerti apa yang Sheila maksud.
Sheila menghela nafasnya berat "Yang sakit ini..." Alfin mengikuti arah Sheila, Alfin mengangkat keningnya heran.
Alfin membuka selimut yang menutupi tubuh Sheila, Alfin terkejut ketika ada darah diseprei "Darah Beby?" panik Alfin.
"Kan aku bilang sakit!" kesal Sheila.
"Lalu Mas harus gimana Beby?" Alfin membelai kepala Sheila karena panik.
Sheila menghembuskan nafasnya "Ya ampun Mas...kamu sudah menikah 2kali masa tidak tahu?" Sheila mencubit lengan Alfin karena kesal dengan suaminya.
"Aku tidak mengerti maksudmu Beby," Alfin mengaduh lalu menggeleng pelan.
"Sudahlah...aku mau kekamar mandi!" Sheila merentangkan tangannya memberikan kode untuk digendong.
Alfin pun mengerti dan langsung menggendong Sheila kekamar mandi "Apa kamu yakin tidak apa-apa Beby?" ucap Alfin saat menurunkan Sheila.
Sheila mengangguk dan menyuruh Alfin keluar, Alfin enggan untuk keluar namun karena Sheila memaksa, Alfin pun keluar dengan perasaan khawatir "Menyebalkan sekali! sudah menikah 2kali saja tidak tahu!" batin Sheila.
Alfin mendekati kasur, melihat seprei ada noda darah Alfin segera mengganti sepreinya dengan yang baru "Kenapa bisa ada darah?" gumam Alfin cemas, Alfin duduk disisi ranjang menunggu Sheila keluar dari kamar mandi.
Alfin tersenyum melihat Sheila keluar dari kamar mandi, Alfin pun segera menghampiri Sheila "Apa masih sakit Beby?" tanya Alfin cemas.
Sheila menggeleng pelan "Beneran?" tanya Alfin lagi, Sheila mengangguk.
__ADS_1
"Sudah diganti?" tanya Sheila yang melihat warna seprei berubah, yang tadinya putih menjadi hijau. Alfin mengangguk.
Sheila berjalan kesofa dan duduk bersandar, Alfin pun mengikuti istrinya, saat Sheila melihat kearah Alfin, Alfin langsung mencium bibir Sheila sekilas lalu meminta maaf atas perbuatannya tadi.
Sheila pun dibuat penasaran karena kebodohan suaminya yang tidak tahu akan hal itu "Memang waktu dengan Mba Angel gak seperti itu?" Alfin menggeleng pelan.
Sheila mengangkat alisnya "Mba Angel gak merasakan sakit gitu?" Alfin kembali menggeleng.
"Kok bisa? kalau aku baca dinovel kalau malam pertama itu pasti sakit! sakit banget malah!" batin Sheila.
Sheila terdiam "Memang kenapa?" tanya Alfin penasaran.
"Kalau wanita baru berhubungan itu pasti sakit Mas, aku baca dinovel begitu," tutur Sheila.
"Masa sih?" tanya Alfin penasaran. Sheila hanya mengangguk pelan.
"Aku mau kebawah dulu ya Mas, aku haus," ijin Sheila.
"Aku sendiri aja!" Alfin pasrah dan mengiyakan kemauan Sheila.
Sheila turun kebawah untuk mengambil minuman, saat ditangga Sheila melihat Kakak tirinya sedang duduk dimeja makan sambil bermain laptap, Sheila pun berjalan pelan agar tidak mengganggu.
Sheila mendekat kearah Tia, Sheila dapat melihat Tia sedang memandangi fofo-foto saat masih SMP, yang Sheila penasaran foto-foto itu hanya berdua Tia dan seorang lelaki, tapi Sheila tidak tahu itu siapa.
"Kakak." panggilan Sheila membuat Tia terkejut.
"Ya ampun Sheil! ngagetin aja!" Tia memegangi dadanya karena kaget.
Sheila terkekeh dan langsung meminta maaf "Itu foto Kakak sama siapa? pacar atau temen masa SMP?" tanya Sheila yang dibuat penasaran, Sheila pun duduk disamping Tia.
Tia tersenyum "Kamu tidak tau ini siapa?" Sheila pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ini foto Kakak sama Alfin dulu Sheil," Kata Tia sedih.
Sheila terdiam dan menatap Sheila dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, Tia pun terkekeh melihat ekpresi adik tirinya tersebut "Tenang Sheil...Kakak beneran sudah tidak ada perasaan kepada suamimu, Kakak hanya kangen saja dengan persahabatan Kakak dengan Alfin dulu," ucap Tia sedih.
"Sahabat?" Tia mengangguk pelan.
"Kakak sahabatan sama Mas Alfin? tapi kenapa sekarang Mas Alfin benci sama Kakak?" tanya Sheila penasaran.
Tia tersenyum kecut "Karena ada wanita yang benci dengan persahabatan kita, dan lebih sayangnga lagi Alfin selalu percaya wanita itu ketimbang Kakak yang sudah lama dia kenal," ada raut kesedihan dari wajah Tia.
"Kamu tahu Sheil kenapa Kakak selama ini selalu bilang kalau Alfin itu calon suami Kakak? itu karena Kakak tidak mau Alfin salah memilih wanita lagi Sheil," Sheila terkesiap dengan cerita Tia.
"Dulu Kakak pernah memergoki wanita itu jalan dengan lelaki lain, dan Kakak pun mengadu kepada Alfin, tapi justru Alfin marah besar kepada Kakak dan bilang kalau semua hanya akal-akalan Kakak saja, apa yang dikatakan oleh wanita itu Alfin pasti selalu dengar dan percaya," Tia memberi jeda ceritanya.
"Karena Kakak sudah tahu dia selingkuh, dia cari cara agar Kakak bisa keluar dari rumah ini," Tia tersenyum kecut "Dan cara itu berhasil membuat Kakak keluar dari rumah ini, bukan hanya keluar tapi juga dibenci sama Alfin sampai sekarang," Sheila tersentuh dengan penjelasan Tia, Sheila mengusap pundak Tia memberikan kekuatan.
"Memang waktu itu apa yang terjadi Kak?" Sheila semakin penasaran dengan cerita Tia.
"Waktu itu kita seperti biasa makan bersama, tapi ibuku waktu itu sedang ijin untuk menemui Bapak, sedangkan wanita itu keluar negeri, entah apa yang dia lakukan jadi hanya aku dan Alfin," Tia menarik nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya kembali.
"Entah mengapa setelah makan tiba-tiba aku merasa sangat pusing dan mengantuk sekali, Kakak juga gak tahu apa yang terjadi, saat bangun Kakak dan Alfin tidur dengan satu ranjang dan tanpa memakai pakaian," mata Tia berkaca-kaca saat mengenang kembali masalahnya.
"Dan wanita itu sedang menangis disisi ranjang, mendengar wanita itu menangis Alfin pun bangun dan terkejut dengan keadaan kami, wanita itu lalu meminta pisah dari Alfin, namun Alfin tidak mau dan memohon-mohon agar tidak pisah dengan wanita itu, wanita itupun tidak jadi meminta pisah jika syarat yang dia beri akan dilakukan Alfin," Sheila masih setia mendengar cerita Tia.
"Wanita itu meminta Alfin agar Kakak keluar dari rumah ini, dan Alfin menuduh Kakak kalau kejadian itu adalah ide Kakak untuk membuat Alfin dan wanita itu pisah, padahal Kakak saja tidak tahu mengapa Kakak bisa tidur berdua dengan Alfin dalam keadaan seperti itu," kata Tia lagi.
"Kakak bukan hanya keluar dari rumah ini tapi Kakak juga dipermalukan didepan ibu Kaka sendiri, dan parahnya ibu Kakak percaya kalau Kakak yang melakukan itu semua," Tia tersenyum kecut.
Mata Sheila berkaca-kaca dan langsung memeluk Tia, memeberikan kekuatan untuk Kakak tirinya tersebut "Percayalah Kak, kalau kebenaran nanti pasti akan menang, kita hanya tinggal menunggu waktu," Sheila tersenyum dan mengusap airmatanya karena terharu dengan cerita Tia. Tia pun tersenyum dan mengangguk "Makasih sudah percaya sama Kakak, sekarang Kakak lega kalau Alfin memiliki wanita yang baik sepertimu," ucap Tia tulus.
*besok lagi 😊😊
__ADS_1