Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
kepikiran


__ADS_3

Alfin tahu pasti Sheila sedang mengalami masalah yang berat sampai membuat Sheila menangis seperti ini. dan Alfin hanya mengelus kepala Sheila dengan lembut Alfin membiarkan Sheila menangis untuk melepaskan masalahnya sejenak.


Setelah suara tangisan Sheila berhenti Alfin bertanya kembali kepada Sheila "Kamu kenapa? cerita kepadaku!" pinta Alfin sambil mengangkat wajah Sheila untuk menatapnya.


Sheila menatap Alfin ia bingung harus menjelaskannya atau tidak tapi saat Sheila menatap mata Alfin, Sheila mulai luluh dan ingin berbagi cerita dengannya "Ta-di itu Bapak ku," jawab Sheila dengan terbata-bata.


Alfin kaget mendengar jawaban Sheila "Maksudmu pak Sunari?" tanya Alfin meyakinkan. Sheila hanya menganggukan kepalanya.


Alfin yang masih belum yakin bertanya kembali "Apa kamu yakin dia Bapakmu?" tanya Alfin lagi.


"Iya Pak, dia Bapakku, mungkin sekarang jauh berbeda karna ia sudah terlihat tua tapi aku yakin dia Bapakku yang meninggalkanku dan Ibuku," jawab Sheila sambil menangis.


Alfin terdiam tidak memberikan respon kepada Sheila karna Alfin pun kaget jika pak Sunari itu adalah bapaknya Sheila.


Alfin menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan mencoba mencari kata yang terbaik "Biar ku selidiki dulu siapa Pak Sunari dulu, kamu jangan sedih lagi," tutur Alfin sambil jarinya mengusap airmata Sheila.


Sheila hanya menganggukan kepalanya "Terimakasih Pak," ucap Sheila sambil berusaha tersenyum.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat temani Inez ya." suruh Alfin dan diangguki oleh Sheila.


Sheila pergi kekamar Inez dengan perasaan yang kacau bagaimana tidak setelah 10tahun lebih dia tak pernah bertemu dengan bapaknya, tapi sekarang dia bertemu bapaknya disini dan dia suami dari Bi Tini pula, padahal Bi Tini adalah orang yang baik tapi kenapa harus bapaknya yang menjadi suaminya.


¤


Alfin berjalan keluar kamar Sheila dan pergi ke kamar kerja, karna ada sesuatu yang ingin dia kerjakan terutama soal Pak Sunari yang katanya Bapaknya Sheila.


Didalam ruangan Alfin menelfon Andri asistennya "Hallo Ndri, ada kerjaan buatmu!" Alfin langsung berbicara ketika telfon diangkat oleh Andri.


"Kerjaan apaan bos?" tanya Andri penasaran.


"Selidiki kehidupan Pak Sunari dulu sebelum bersama Bi Tini, aku kasih waktu 1minggu dari sekarang" pinta Alfin


Andri kaget mendengar permintaan bosnya "Apa bos! pak Sunari? yang kerja dikantor cabang kita bos? memangnya kenapa bos? dia korupsi kah?" tanya Andri penasaran.


"Sudah jalani saja dulu, nanti gue critain dikantor, suruh anak buahmu menyelidikinya, jangan berikan informasi yang salah, mengerti!" perintah Alfin


"Oke oke bos siap laksanakan! kalau begitu sampai jumpa dikantor bos!" Andri segera mematikan telfon dan pergi menemui anak buahnya untuk pekerjaan yang menurutnya aneh ini "*A*da apa dengan sibos ini, biasanya kalau korupsi kan langsung pecat, kenapa ini repot-repot menyelidiki sudah kaya orang penting aja ini Pak Sunari" tanya Andri dalam hati.


¤


Alfin bergegas keluar rumah untuk pergi kekantor, karna pekerjaannya sedang menunggunya.

__ADS_1


Alfin memgendarai mobil sambil terus memikirkan perkataan Sheila tadi "*A*pa benar pak Sunari bapaknya Sheila?" tanya Alfin dalam hati.


"Pasti Sheila sangat terluka perasaanya tadi melihat Bapaknya, dari kecil dia tak pernah merasakan kasih sayang Bapaknya" gumam Alfin sambil menyetir.


tiba dikantor Alfin langsung pergi keruanganya, Alfin berjalan cukup cepat hingga tak sadar menabrak seseorang brukkkkk "Auh!" teriak wanita yang ditabrak Alfin.


"Maaf maaf!" Alfin membantu wanita itu berdiri.


"Tidak apa-apa Paķ, saya yang salah," ucap wanita yang bernama Dita.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Alfin khawatir


"Tidak Pak," Dita menatap Alfin sambil tersenyum.


Alfin tidak membalas senyuman Dita, dia segera berlalu dari tempat itu dan pergi keruangannya.


Dita terpaku melihat lelaki yang baru saja menabraknya "Perfect, dia harus jadi miliku agar aku bisa menjadi orang kaya!" Dita tersenyum sinis menatap punggung Alfin yang berlalu meninggalkannya.


Alfin masuk kedalam ruangannya, Alfin segera duduk dan memeriksa berkas-berkas yang sudah menumpuk diatas meja.


Alfin ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karna sekarang rasanya Alfin lebih betah berada dirumah, mungkin karna ada Sheila, tiba-tiba Alfin tersenyum sendiri memikirkan Sheila namun seketika senyuman itu hilang mengingat Sheila menangis, entah mengapa hatinya ikut merasakan ngilu.


¤


Sheila bangun dari tidur siangnya saat mendengar baby Inez berceloteh sendiri dan sedang duduk disamping Sheila.


Sheila tersenyum menatap baby Inez rasanya nyaman sekali seketika Sheila melupakan kejadian dimana dia melihat bapaknya tadi siang.


Sheila menggendong baby Inez dan menciumnya, saat Sheila menggendong baby Inez Sheila kembali menangis mengingat yang tadi siang dia lihat, Sheila harap semua yang tadi siang itu adalah mimpi tapi kenyataanya dia nyata "*A*pa bapak tak mengenaliku? sebegitu tidak pedulinya kah engkau Pak tidak dapat mengenali putrimu sendiri, atau engkau sudah lupa bahwa engkau pernah bersamaku dan ibu dulu, apa sebabnya engkau meninggalkanku dan Ibu Pak?" tanya Sheila dalam hati.


Sheila menghapus airmatanya dan mengajak baby Inez untuk makan, mereka turun kebawah dengan menuruni tangga Sheila sangat hati-hati saat menuruni tangga karna Sheila sedang menggendong baby Inez.


Sheila melewati kamar Bi Tini, Sheila melihat kearah pintu kamar Bi Tini "*K*enapa Bapakku bisa bersamamu Bi? kenapa engkau merebut suami milik orang lain untuk dijadikan suamimu?" batin Sheila saat melihat kearah kamar Bi Tini.


Sheila mendudukan baby Inez ditempat duduk yang biasa ia duduki, Sheila berjalan mengambil makanan yang tadi pagi ia masak untuk baby Inez, setelah Sheila mengambil makanan Sheila menyuapi baby Inez dengan perlahan-lahan. tubuh Sheila sedang bekerja namun hati Sheila pergi entah kemana banyak sekali beban yang dia pikirkan


"*B*agaimana kalau Mamah tau aku bertemu Bapak disini tapi Bapak tak mengenaliku, pasti Mamah sangat sedih" Sheila membayangkan ibunya yang sekarang entah sedang apa dan bagimana kondisinya.


¤


Cekreeeek pintu terbuka Andri masuk kedalam ruangan Alfin tanpa permisi "Bisa gak sih kamu itu kalau mau masuk permisi dulu jangan kaya maling main nylonong aja!" tutur Alfin.

__ADS_1


Andri terkekeh mendengar perkataan Alfin "Sudah kebiasaan bos hehe," Andri segera mendudukan dirinya disofa tidak jauh dari tempat kerja Alfin.


"Cih jangan dibiasin ****!" umpat Alfin jengah


"Bos memang kenapa kau ingin aku menyelidiki Pak Sunari itu, kaya orang penting aja dia bos!" tanya Andri tak menghiraukan umpatan bosnya tersebut karna bagi dirinya itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.


"Aku ingin tau dulu hasilnya baru aku kasih tau alasannya," jawab Alfin tak memandang Andri sama sekali dia terus memeriksa dokumen-dokumen yang harus diselesaikan.


"Cih kau ini bos selalu saja seperti itu, nih ya bos dimana-mana kasih tau alasannya dulu baru hasilnya!" Andri kesal dengan bosnya yang selalu memberi alasan saat hasilnya sudah ada.


"Sudah jangan banyak nanya nanti kalau hasilnya sudah ada kamu akan mengerti alasannya!" perintah Alfin masih setia memeriksa dokumennya.


"Cih.. baiklah.. baiklah". Andri menyerah dan membaringkan tubuhnya disofa.


Alfin yang melihat Andri merebahkan tubuhnya disofa segera melempar bolpoin yang sedang ia pegang ke arah Andri "Jangan tidur bodoh!" ucap Alfin sambil melempar bolpoin dan tepat mengenai pipi kanan Andri.


"Auhhh sakit bos!" tidur bentar aja gak boleh!" jawab Andri meringsut duduk lagi.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


# bantu like dan vot kaka biar author seneng hehehe 😊 jangan lupa bahagia 😊😊

__ADS_1


__ADS_2