
Ellena dan James sampai di Indonesia dan langsung pergi ke apartemen milik James yang ada di Indonesia. James maupun Ellena sudah tidak memiliki orangtua, orangtua James meninggal saat James masih kecil, sedangkan orangtua Ellena meninggal karena serangan jantung saat perusahaannya jatuh bangkrut.
"Aku lelah Honey," Ellena merebahkan tubuhnya dikasur saat sampai dikamar apartemen.
James pun ikut merebahkan diri lalu memeluk kekasihnya "Apa kau masih mencintainya?" tanya James tiba-tiba.
Ellena tersenyum simpul "Jangan tanyakan itu! engkau lebih tahu perasaanku James," Ellena menyentuh pipi James dan tersenyum manja.
"Siapa tahu perasaanmu berubah ketika melihatnya nanti," tanya James ragu dengan perasaan Ellena.
Ellena terkekeh "Perasaanku hanya sebatas balas dendam Honey, dan engkau pun tahu itu!" Ellena tertawa ketika selesai berbicara.
"Jangan begitu membencinya, siapa tahu nanti kamu jatuh cinta kepadanya!" ucap James serius.
"Jangan katakan itu! aku jijik!" kesal Ellena.
James menghembuskan nafasnya dengan kasar "Aku akan mandi! setelah itu kerumah Alfin," James pergi kekamar mandi meninggalkan kekesalan Ellena.
Ellena berdecak kesal "Aku tidak akan jatuh cinta sama dia! tugasku hanya balas dendam dan pastika dia akan merasakan apa yang aku rasakan!" ucap Ellena berapi-api.
^
"Tumben pulang sore? gak lembur?" tanya Sheila ketika menyambut suaminya pulang.
Alfin mencium kening Sheila "Suami pulang sore salah! malem apalagi! maunya apa sih Beby hem?" Alfin mencubit hidung Sheila karena gemas dengan pertanyaan Sheila.
Sheila terkekeh lalu mengantar Alfin kekamarnya "Mas mandi dulu, aku mau siapkan makanan," ucap Sheila saat membuka dasi sang suami.
Mata Alfin setia memandang wajah Sheila yang tengah fokus membuka dasi dan kancing kemejanya, saat selesai pandangan mereka pun bertemu, Sheila merasa malu karena ternyata Alfin memperhatikannya sedaritadi.
"Apaan sih lihatin aku kaya gitu, kaya gak pernah lihat aku aja!" Sheila menutup kedua mata Alfin menggunakan satu tangannya.
Alfin tertawa dan menggenggam tangan Sheila yang menutup matanya lalu menurunkannya, Sheila memalingkan wajahnya karena malu "Karena Mas selalu suka bila melihat wajahmu yang merah-merah seperti itu," goda Alfin.
"Ih! apaan sih!" Sheila memukul lengan Alfin sambil menaham senyumnya karena digoda Alfin.
"Mas mandi dulu ya, nanti ada teman Mas mau dateng. Oh iya Inez mana? Kok enggak menyambutku tadi?" tanya Alfin yang tidak melihat keberadaan Inez.
"Inez main kerumah Neneknya, tadi Mamah dan Fino kesini main sebentar lalu membawa Inez kerumah, Mamah pingin tidur sama Inez katanya," tutur Sheila.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Mas lebih dulu?" kata Alfin.
Sheila berkacak pinggang dan menatap suaminya dengan tajam "Coba lihat handphone Mas aktif enggak?" kata Sheila.
__ADS_1
Alfin pun segera mengambil handphonenya yang ada disaku celananya "Shit! aku lupa mengecesnya!" umpat Alfin.
Alfin pun segera mengecas handphonenya dan kembali menghampiri Sheila lalu memeluknya dengan manja "Berarti malam ini tidak ada yang mengganggunya kan Beby," bisik Alfin ditelinga Sheila.
Wajah Sheila merah merona mendengar kata-kata suaminya "Sudah sana mandi!" Sheila mendorong Alfin pelan.
Alfin terkekeh dan berjalan kekamar mandi "Bikin ya Beby biar cepat jadi," Alfin mengedipkan satu matanya, membuat Sheila ingin tertawa karena ulah sang suami.
^
"Pah..." panggil Novi kepada suaminya.
"Hem." jawab Purnomo.
"Kamu lihat Inez baik-baik," ucap Novi, Purnomo pun melihat cucunya yang sedang asyik bermain bersama Fino.
"Memang kenapa dengan Inez Mah, dia baik-baik saja!" ucap Purnomo yang merasa heran dengan arah bicara istrinya.
"Bukan itu Pah! kok Inez gak mirip sama Alfin ya Pah?" kata Novi membuat Purnomo menatap istrinya dengan tajam.
"Jangan berfikiran yang aneh-aneh!" ucap Purnomo dengan tegas.
"Enggak Pah, cuman Mamah heran aja, gak usah marah-marah begitu dong!" ucap Novi.
Purnomo menghembuskan nafasnya pelan "Papah gak marah Mah...cuman ngingetin Mamah aja," suara Purnomo langsung melunak.
^
Saat Sheila tengah asyik menyiapkan makanan bersama Sita, Sita adalah teman Sheila yang dulu bekerja dikantin dan bekerja dengan Sheila 2tahun lalu, Sheila pun tidak menyangka bila Sita yang akan bekerja, itu membuat Sheila dan Sita semakin dekat lagi.
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi membuat Sheila dan Sita berhenti sejenak "Biar aku aja Sit, kamu lanjutin aja," ucap Sheila lalu berjalan kepintu dan membuka pintu.
Tampak seorang wanita dan lelaki berdiri didepan pintu rumah "Maaf cari siapa?" tanya Sheila.
"Tuan Alfin ada?" tanya seorang wanita.
Sheila melihat kearah wanita "Siapa?" batin Sheila.
Sheila mengangguk dan mempersilahkan para tamu untuk masuk "Silakan duduk saya akan panggilkan Mas Alfin sebentar," ucap Sheila lalu pergi keatas untuk memanggil Alfin.
"Mas..." panggil Sheila saat masuk kedalam kamar.
"Iya Beby," Alfin merentangkan tangannya menyuruh Sheila untuk memeluknya.
__ADS_1
Sheila berdiri disisi ranjang, Alfin langsung memeluk pinggang Sheila "Ada tamu Mas." ucap Sheila tangannya memainkan rambut Alfin.
Alfin melepaskan pelukannya "James?" tanya Alfin lalu turun dari ranjang.
Sheila mengangkat bahunya "Sheila lupa tanya, ada wanita cantiknya juga," ucap Sheila lirih.
"Cemburu?" Alfin menaik-turunkan alisnya.
Sheila menggelengkan kepalanya, Alfin pun terkekeh lalu menggandeng Sheila untuk bersama-sama turun kebawah.
"James." panggil Alfin saat sampai diruang tamu.
James dan Ellena melihat kearah Alfin, Ellena menatap tidak suka kepada Sheila yang saat ini tengah digandeng oleh Alfin, James langsung berdiri dan memeluk Alfin "Apa kabarmu bro!" tanya James.
"Seperti yang kamu lihat," timpal Alfin.
James melirik Sheila matanya bertanya kepada Alfin siapa gerangan, Alfin pun mengerti dengan kode James "Dia istriku. Sheila," James menjabat tangan Sheila.
"James, dan ini Ellena kekasihku," James memperkenalkan Ellena kepada Alfin dan Sheila.
"Ellena." ucap Ellena sambil menjabat tangan Alfin dan Sheila bergantian.
Sheila meminta ijin untuk kedapur membuat minuman untuk suami dan tamunya, Alfin pun menganggukkan kepalanya dan mencium pipi Sheila membuat Sheila malu karena dilihatin James dan Ellena.
"Kapan kamu menikah lagi?" tanya James.
"3tahun lalu." jawab Alfin tersenyum.
James membulatkan mulutnya, sedangkan Ellena terlihat kesal sebab rencananya untuk membuat Alfin menderita dengan kepergiannya justru tidak berhasil "Shit!" umpat Ellena dalam hati.
"Kamu sudah menikah?" giliran Alfin bertanya.
James tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya "Tidak. Tapi kita tinggal serumah," ucap James memeluk pinggang Ellena.
Alfin acuh dengan sikap James "Menikahlah agar kebersamaan kalian itu berarti," nasehat Alfin.
"Kayanya istrimu masih bocah Fin," tanya James mengalihkan pembicaraan.
"Baru memasuki umur 22tahun, tapi sifatnya lebih dewasa dari umurnya," James terkekeh mendengar perkataan Alfin.
Sheila datang membawa beberapa gelas minuman dan beberapa potongan kue "Sini," Alfin menepuk sofa agar Sheila duduk disampingnya, Sheila pun menuruti perintah Alfin.
Ellena menatap tajam Sheila, Sheila yang mendapatkan dari Ellena memalingkan wajahnya karena Sheila tahu itu tatapan tak suka kepadanya "Wanita itu menyeramkan sekali!" umpat Sheila dalam hati.
__ADS_1
(besok lagi 😂😂)
yang berbaik hati tolong Vot author dong 😅😅 biar author semangat 😂😂😂