Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Rencana Cantika


__ADS_3

Sheila, Santi dan Yeni keluar dari kampus, "Sheil...kita kekantor suamimu yuk?" ajak Yeni dengan wajah sumringah.


Sheila dan Santi menatap Yeni bingung, "Kekasihku sedang ada disana." jawab Yeni malu-malu.


Santi membuang muka karena merasa jengah dengan gaya kemayu Yeni, "Bang Andri juga disana loh." Yeni menyenggol lengan Santi.


"Kamu kata siapa?" tanya Sheila.


"Ini." Yeni memperlihatkan pesan Fino diponselnya.


Sheila berpikir sejenak, "Em...oke deh, Aku bilang Pak Joni dulu ya, suruh dia pulang duluan."


"Oke." ujar Yeni begitu semangat.


Sheila berjalan mendahuli teman-temannya untuk menghampiri Pak Joni, "Maaf Pak Joni...Bapak pulang dulu ya, Aku mau main sama teman-teman sebentar." Sheila menunjuk teman-temannya.


"Baik Non." Pak Joni menganggukan kepalanya sedikit kepada Sheila.


Sheila melihat mobil Pak Joni sampai keluar dari gerbang kampus, saat Sheila akan kembali kepada teman-temannya suara panggilangl seseorang menghentikan niatnya, "Sheil." suara lelaki itu sangat dia kenal saat ini, Sheila menoleh kebelakang dan benar saja jika itu suara dari Adit.


"Kok supirnya disuruh pulang?" tanya Adit yang melihat supir Sheila pulang sendirian.


"Aku mau pulang bersama temanku."


"Oh...boleh aku antar?"


"Tidak perlu. terimakasih." Sheila langsung membalikan badannya dan pergi dari hadapan Adit.


Tidak jauh dari tempat Adit dan Sheila berbincang tadi terdapat 3wanita yang melihat kebersamaan mereka, "Adit ngapain sih Can? deket-deket sama anak kampungan itu?" kesal Gia.


"Tahu, selera Adit rendahan banget. ih!" saut Andin.


Cantika menatap Sheila penuh dengan kebencian, "Kita ikuti mereka!" perintah Cantika yang langsung disetujui oleh teman-temannya.


Didalam mobil Cantika fokus mengikuti mobil yang ditumpangi Sheila dan teman-temannya, "Can..ngapain kita ngikutin mereka?" tanya Gia yang terkadang keluar polosnya.


"Aku ingin tahu Sheila tinggal dimana?"


"Oh..." Gia dan Andin membulatkan mulutnya dengan kompak.


^


BRAAAAKKK Dani menggebrak mejanya setelah mendengar permasalahan temannya itu, "Aku gak nyangka Kamu bisa sebodoh itu Fin!" tekan Dani.


"Aduh Bos...kalau sampai Ellena hamil gimana Bos?" timpal Andri.


"Kalau Papah tahu? jantung Papah pasti kambuh Kak!" saut Fino menambah pikiran Alfin semakin buntu.


"Makanya aku minta bantuan kalian buat mengurus wanita licik ini." Alfin menatap satu-persatu teman-temannya.


"Ini musibah dan kesalahan yang tidak sengaja Alfin lakukan jadi mengertilah, kita harus cari cara agar Ellena tidak memiliki bukti apapun." James berusaha meyakinkan teman-temannya untuk membantu Alfin.


"Terus rencana kita apa James?" tanya Dani.

__ADS_1


"Kita bagi tugas, karena Ellena tidak bekerja sendiri disini, Andri dan Fino tugasnya mengikuti Adit cari tahu dimana bukti itu disimpan, Aku dan Kamu ikuti Ellena." ujar James memberikan susunan rencananya.


Dani dan yang lain begitu serius mendengarkan susunan rencana dari James, Alfin menganggukan kepalanya saat mengerti dan yakin rencana James akan berhasil.


"Assalamualikum." Sheila membuka pintu ruangan Alfin.


"Hai..." muncul Santi dan Yeni dari belakang punggung Sheila.


Alfin langsung berdiri melihat istrinya datang kekantornya, "Beby..." Alfin memeluk Sheila dan mencium keningnya.


"Cih! kaya ABG saja!" umpat Dani.


"Diam!" seru Alfin sambil menatap Dani dengan meledek.


"Ada apa kesini Sayang? kangen ya?" gombal Alfin yang membuat wajah Sheila merah karena malu digombalin didepan teman-temannya.


Sheila mencubit perut Alfin "Yeni yang mengajak kesini, katanya kalian sedang berkumpul disini." mendengar alasan istrinya membuat Alfin menatap Yeni bingung.


Yeni menjadi salah tingkah, "Aku yang bilang kalau kita sedang berkumpul disini." ujar Fino yang mengerti akan arti tatapan kakaknya.


"Ha! suasanya sudah sangat menyebalkan, lebih baik Aku pulang menemui istriku tercinta." ucap Dani langsung berdiri dan pergi dari ruangan Alfin.


"Ha! dasar bucin!" teriak Andri.


"Memang Kamu enggak?" tanya Santi membuat Andri terkejut.


Andri terkekeh, "Bucin kok Sayang." Santi membuang mukanya mendengar jawaban kekasihnya.


James, Alfin dan yang lain tertawa melihat tingkah Andri dihadapan kekasihnya, "Ya sudah Aku pulang dulu ya Fin." James berdiri dan berpamitan kepada semua orang yang berada diruangan Alfin saat ini.


Sheila jadi merasa bersalah karena berpikir bahwa Dani dan James pergi karena kedatangannya, "Mas...maaf ya gara-gara kita datang, teman-temanmu jadi pergi." ucap Sheila merasa bersalah.


Alfin mencium pipi Sheila, "Tidak apa-apa Beby...mereka memang sudah waktunya untuk pulang." Alfin mengusap pipi istrinya sambil tersenyum.


"Ha! kita masih disini Kak. yang sopan dong!" kesal Fino yang sebenarnya iri.


"Kalau begitu, pergilah! harus pengertian jadi adik." Sheila menepuk dada Alfin karena ucapannya kepada Fino.


"Ha! dasar menyebalkan!" umpat Fino.


"Ayo Yank..kita pergi, lama-lama disini bisa bikin pikiran rusak." umpat Fino sebelum pergi.


Setelah pergi Alfin memandang Andri yang masih duduk santai bersama Santi, Alfin menatap Andri dengan tajam.


"Aku juga suruh pergi Bos?" tanya Andri yang dijawab dengan tatapan yang semakin membuat Andri ngeri.


"Baiklah...baiklah, selamat bersenang-senang bos, Aku pergi dulu, sampai jumpa." Andri menggandeng tangan Santi untuk keluar dari ruangan Alfin.


"Kamu itu apaan sih Mas? masa menyuruh mereka pergi." protes Sheila.


Alfin memeluk Sheila dari belakang, "Memang kenapa? ini kan kantorku..lagian Kamu tidak sabar menunggu Mas pulang hem." Alfin merasa ketenangan ketika bisa memeluk istrinya seperti sekarang, pikiran yang sedari tadi buntu kini bisa terobati dengan kedatangan Sheila.


"Kamu selalau bisa membuat pikiran dan hatiku tenang Beby, walaupun dengan cara seperti ini." Alfin semakin mengeratkan pekukannya.

__ADS_1


"Itu memang hakikinya suami-istri akan selalu bisa menenangkan satu sama lain." Sheila mengusap pipi Alfin.


Alfin menyentuh tangan istrinya yang berada dipipinya, matanya menelisik wajah istrinya yang begitu meneduhkan ketika Alfin memandangnya.


"Jangan memandangku seperti itu." Sheila mencubit hidung suaminya membuat Alfin mengaduh sekaligus bahagia bisa memiliki istri seperti Sheila dalam hidupnya.


^


Cantika dan teman-temannya masih setia didalam mobil menunggu Sheila dan teman-temannya keluar.


"Waw! lihat itu Can!" Andin yang berada disamping Cantika langsung berteriak heboh melihat kenyataan didepannya.


Cantika dan Gia membelalakan matanya melihat apa yang mereka lihat, "Jangan-jangan mereka simpanan om-om Can!" ucap Gia begitu semangat.


Cantika tersenyum sinis, "Ambil gambarnya! ini bisa menjadi berita heboh dikampus nanti." perintah Cantika.


Andin segera mengambil gambar Yeni dan Fino yang sedang bergandengan tangan melewati tangga depan kantor, disusul dengan Santi dan Andri yang jauh lebih mesra ketimbang Yeni dan Fino.


Apa yang Cantika dan teman-temannya lihat membuat mereka tertawa didalam mobil karena berhasil mengambil gambar Santi dan Yeni yang sedang bersama kekasihnya masing-masing.


"Tapi Sheila kok gak keluar-keluar ya Can? dah bosen nih!" gerutu Gia yang berada dibelakang Cantika.


"Sabar kenapa sih!" seru Andin.


"Ha! Ya ampun Sheila?" ucap Gia sangat terkejut ketika Sheila keluar bersama suaminya dengan begitu mesra.


"Menjijikan! cepat ambil gambarnya!" perintah Cantika yang langsung dilakukam oleh Andin.


"Dasar wanita-wanita murahan! berlagak sok dikampus padahal simpanan om-om! menjijikan!" umpat Cantika merasa jijik dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Tapi tunggu! mereka sangat pintar sekali ya cari mangsanya, lihat pria-pria tadi? tampan-tampan banget!" ucap Andin tidak menyangka.


"Pria-pria seperti itu memang suka sama anak yang masih kuliahan." ucap sinis Cantika.


"Kita pergi sekarang dan besok kita bikin kehebohan dikampus." Cantika dan teman-temannya lalu tertawa senang.


^


"Beby...kita makan berdua ya? sudah lama kita tidak makan berdua kan?" Sheila melirik suaminya yang sedang menyetir.


"Kalau begitu Sheila kabarin Mamah dulu ya Mas." ucapan Sheila diangguki oleh Alfin.


Sheila mengambil ponselnya dan mengetikan pesan kepada ibunya.


"Mah...Sheila makan bersama Mas Alfin diluar ya?" pesan Sheila kepada ibunya.


"Iya Sayang. selamat bersenang-senang." jawab Mayang membuat Sheila tersenyum.


"Boleh Mas." ucap Sheila tersenyum kepada suaminya.


#Ayo tidur! jangan ganggu Alfin dan Sheila yang mau makan romantis berdua 😂😂😂


*Ah elah bilang aja bersambung thor (besok lagi) 😈😈😈😈

__ADS_1


#hahhahahah kok tahu 😄😄😄😄


__ADS_2