Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Anakku!


__ADS_3

Tubuh Sita bergetar ketika mendapatkan pertanyaan yang tidak Sita bayangkan selama ini dari Nyonya besarnya "Aku tidak memberikan makanan yang beracun Nyonya." Sita membela dirinya karena memang Sita tidak melakukannya.


"Lalu kenapa menantuku bisa keracunan seperti itu?" tanya Novi meninggikan suaranya.


Sita menangis karena melihat Novi marah "Aku tidak tahu Nyonya." ucap Sita.


"Bereskan barang-barangmu. dan pergi dari sini! ini pesangonmu!" Novi menaruh amplop berwarna cokelat diatas meja.


Sita menggelengkan kepalanya "Demi Allah. Aku tidak melakukan apapun Nyonya...tolong jangan pecat aku." ucap Sita sambil menangis.


Novi menatap Sita dengan kesal "Aku tidak mau menantuku mengalami hal seperti ini lagi! jadi pergilah!" ucap Novi lalu pergi dan meninggalkan Sita yang sedang menangis.


"Ya Allah...aku tidak melakukan apapun." gumam Sita.


Dengan berat hati Sita pergi kekamarnya dan membereskan semua barang-barangnya, saat Sita keluar dari kamarnya Sita berpapasan dengan Ellena, Ellena melihat Sita dari atas sampai bawah "Mau pergi?" tanya Ellena dingin.


Sita mengangguk "Kenapa?" tanya Ellena berpura-pura.


"Aku dipecat karena kesalahan yang tidak pernah aku perbuat." ujar Sita lalu segera pergi meninggalkan Ellena yang masih diam mematung di tangga bawah.


Sita pergi keruang keluarga dimana ada Novi dan Purnomo "Aku permisi Nyonya..Tuan.." Sita menghadap Novi dan Purnomo dengan sedih.


Purnomo mengangkat alisnya "Kamu mau kemana?" tanya Purnomo heran melihat Sita membawa barang-barangnya.


Sita melihat kearah Novi, Novi melihat kearah suaminya "Mamah pecat karena kerjanya tidak benar!" ucap Novi dengan kesal.


Purnomo menghembuskan nafasnya "Maksud Mamah apa?" tanya Purnomo tidak mengerti.


"Gara-gara dia kan kita kehilangan calon cucu kita Pah!" teriak Novi sedih.


"Demi Allah...aku tidak melakuakan apapun apalagi sampai menyakiti Sheila Nyonya. Dia temanku Nyonya." ucap Sita bergetar.


Purnomo menggeleng-gelengkan kepalanya "Astahfirullah Mah...jangan mengambil keputusan tanpa bukti Mah," ucap Purnomo.


Novi menangis, Purnomo memeluk istrinya dan menenagkannya "Aku mengerti perasaanmu Mah, tapi tolong jangan menuduh orang tanpa bukti, kasihan Sita." ucap Purnomo.


"Kembalilah kekamarmu...tunggu Alfin dan Sheila pulang," ucap Purnomo membuat Sita bersyukur dan mengucapkan terimakasih kepada ayah Alfin tersebut.


Ellena melihat drama mereka, setelah Sita kembali kekamarnya Ellena menghampiri Novi dan Purnomo "Maaf Tante...Om..." sopan Ellena.


Novi melepaskan pelukannya dan menghapus airmatanya "Ada apa?" tanya Purnomo.


Ellena tersenyum manis "Pembantu itu pantas untuk keluar dari sini Om." ucap Ellena enteng.


Purnomo mengerutkan keningnya "Apa hakmu berbicara seperti itu?" tanya Purnomo.

__ADS_1


Novi menatap Ellena dengan seksama, Ellena tersenyum tipis lalu duduk berhadapan dengan Purnomo dan Novi "Maling itu tidak ada yang mau mengaku Om..Tante," ucap Ellena.


Purnomo dan Novi saling pandang mendengar perkataan Ellena "Biar Alfin yang mengurusnya nanti." ucap dingin Purnomo.


"Kita pergi kerumah sakit sekarang Mah." perintah Purnomo kepada istrinya tidak mau bila istrinya mendapatkan hasutan.


Purnomo dan Novi meninggalkan Ellena yang masih duduk, Ellena menatap kepergian Purnomo dan Novi dengam senyuman sinis "Kita lihat Om..Tante.. apa kalian akan bertahan! atau mati!" sinis Ellena.


Didalam mobil Purnomo memikirkan wanita yang berada dirumah anaknya tersebut "Mah..." panggil Purnomo kepada istrinya.


"Ada apa?" Novi melirik suaminya sekilas.


"Apa wanita itu terlihat aneh?" tanya Purnomo.


"Ellena maksudmu?" tanya Novi, Purnomo menganggukan kepalanya.


"Mamah juga merasakan apa yang Papah rasakan," ucap Novi menatap lurus kedepan.


^


Alfin keluar dari ruangan Sheila "Dani?" panggil Alfin yang melihat Dani dan istrinya sedan duduk bersama Fino.


Dani, Hevi dan Fino menoleh "Sudah bangun?" tanya Dani sambil melipatkan kedua tangannya diatas perutnya.


Alfin mengerutkan keningnya lalu terkekeh "Masuklah." perintah Alfin kepada Dani dan yang lain.


Sheila menoleh kesumber suara "Mba Hevi..." Sheila tersenyum melihat sahabatnya datang.


Hevi langsung duduk disis ranjang "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Hevi khawatir.


"Sudah baik-baik saja Mba, mungkin hanya kecapaian aja. gak usah khawatir," Hevi mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sheila, Hevi melirik kearah Alfin.


Alfin menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan arti tatapan Hevi, Hevi menoleh lagi kepada Sheila lalu tersenyum "Syukurlah kalau begiti...aku lega sekarang," ujar Hevi sambil memeluk Sheila.


"Kamu katanya lagi hamil Mba?" tanya Sheila.


Hevi tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya, Sheila tersenyum "Selamat ya Mba, semoga anak dan ibunya sehat selalu," doa Sheila untuk sahabatnya.


"Makasih Yem...Aku doakan semoga kamu juga akan segera hamil lagi." doa Hevi untuk Sheila.


Sheila sedikit terkejut mendengar doa sabahatnya "Hamil lagi?" tanya Sheila membuat Hevi menutup mulutnya karena sadar salah bicara.


Alfin menghembuskan nafasnya melihat Sheila mulai curiga, Hevi melirik kepada Alfin menatapnya dengan penuh rasa bersalah.


"Maksudnya hamil lagi apa?" tanya Sheila lagi.

__ADS_1


Hevi menjadi tidak enak kepada Alfin karena ucapannya "Sudah lupakan...tadi aku hanya salah bicara." ucap Hevi.


Sheila melihat raut wajah sahabatnya berubah seketika saat dirinya bertanya "Jangan berbohong kepadaku Mba?" tanya Sheila serius.


Alfin mendekat kearah istrinya "Beby..." panggil Alfin dengan lembut.


Sheila menoleh kearah suaminya "Apa yang kamu sembunyikan?" Sheila menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


Alfin menggenggam tangan istrinya "Mas akan memberitahumu ketika kamu sudah sembuh." ucap Alfin berharap Sheila menurut dan tidak banyak lagi.


Sheila menggelengkan kepalanya "Aku mau sekarang!" tegas Sheila.


"Alfin maafkan aku." ucap Hevi merasa bersalah, Dani menghampiri sang istri dan memeluknya.


"Kalian keluarlah dulu!" perintah Alfin.


"Kenapa menyuruh mereka keluar?" tanya Sheila semakin penasaran.


"Biarkan mereka disini," ucap Sheila.


Alfin memejamkan matanya dan menarik nafasnya "Berjanjilah untuk baik-baik saja." pinta Alfin.


"Ada apa sih Mas?" tanya Sheila khawatir.


"Berjanji?" ulang Alfin, Sheila menatap suaminya dengan rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, Sheila menganggukan kepalanya.


Alfin berdiam sejenak "Kamu...mengalami keguguran." Alfin menundukkan kepalanya sedih.


Sheila terperanjat dengan penjelasan Alfin "Keguguran?" tanya Sheila tidak percaya namun airmatanya keluar dari pelupuk matanya.


Hevi menangis melihat sahabatnya menangis "Yem..." Hevi menyentuh tangan Sheila.


Sheila menoleh kearah sahabatnya "Maksudnya apa?" tanya Sheila.


Alfin memeluk istrinya dan menangis "Maafkan aku yang lalai untuk menjaga kalian," Sheila melepaskan pelukan suaminya dan menatapnya dengan tatapan ingin jawaban.


Alfin menggenggam tanya istrinya lalu menciumnya "Kamu keguguran karena keracunan makanan waktu itu Sayang..." penjelasan Alfin membuat tubuh Sheila lemas, airmatanya semakin deras mengalir dari matanya.


"Kenapa kamu berbohong!" ucap Sheila sedikit meninggikan suaranya.


"Maafkan Mas...Mas hanya tidak ingin kamu berpikir berat seperti anjuran dokter Sayang..." Sheila menangis karena tahu kenyataannya.


Alfin segera memeluk Sheila dan menenagkannya "Anakku..." rintih Sheila dipelukan Alfin.


(besok lagiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

__ADS_1


jangan lupa bahagia kaka-kaak 😏😚😚😚


__ADS_2