
Sheila berdiri dan menghampiri Ellena dam seketika mereka beradu pandang, mata Ellena mengandung kebencian dan sedangkan Sheila mengandung pertanyaan yang membutuhkan jawaban "Maksudmu apa!" tegas Sheila.
Ellena tertawa keci, tangannya melipat diatas perutnya "Kamu tahu? istrinya dulu lebih cantik darimu bahkan tidak ada apa-apanya darimu! kamu menggunakan pelet apa? sampai Alfin bisa nikah sama wanita kampungan sepertimu!" hina Ellena.
Pakkkkk tamparan mendarat dipipi Ellena "Jaga mulut anda nona!" geram Sheila, wajah Sheila merah menahan marah.
Ellena kaget dengan apa yang dilakukan Sheila, tangannya menyentuh pipinya yang telah ditampar Sheila, Ellena menatap tajam Sheila "Beraninya kau menamparku!" geram Ellena.
"Itu karena anda tidak bisa menjaga mulut anda!" ucap Sheila lalu Sheila ingin meninggalkan wanita itu, baru beberapa langkah Sheila melewati tangga, langkahnya terhenti mendengar ucapan Ellena.
"Aku yakin jika Angel masih ada, Alfin akan lebih memilih Angel daripada wanita kampungan sepertimu!" ucap Ellena dengan sinis.
Sheila menghembuskan nafasnya kasar lalu berbalik badan dan menatap Ellena "Kalau begitu hidupkan dia kembali!" ucap Sheila penuh keyakinan.
Ellena tidak menyangka bila itu yang akan Sheila katakan, namun Ellena segera menormalkan dirinya lalu melangkah naik ketangga dan mendekati Sheila "Kamu lihat nanti! suamimu itu akan kembali kepada yang pantas menyandingnya!" bisik Ellena dengan tegas lalu menyenggol bahu Sheila dan meninggalkan Sheila yang masih diam mematung ditangga.
Sheila mendongakkan kepalanya karena sebenarnya Sheila ingin sekali menangis mendengar kata-kata Ellena, namun sekuat tenaga Sheila menahannya "Jangan kabulkan perkataan wanita itu Ya Allah," gumam Sheila lalu melanjutkan langkahnya untuk kekamar.
Sheila membuka pintu kamarnya dengan pelan karena takut akan membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas, Sheila merangkak keatas kasur dan berbaring disebalah suaminya, tangannya menyentuh pipi Alfin dan menatap suaminya dalam-dalam, banyak pertanyaan yang ingin Sheil tanyakan kepada suaminya, namun tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.
Akhirnya Sheila menenggelamkan kepalanya didada sang suami dan memeluknya, Sheila pun berusaha memejamkan matanya dan tak mau peduli dengan perkataan wanita yang sudah menghinanya tadi, walaupun sebenarnya Sheila merasa sakit hati dan ingin menangis saat itu, namun Sheila berusaha untuk menjadi wanita yang kuat.
^
Ellena masuk kedalam kamar dengan perasaan marah dan muak, ingin rasanya saat itu Ellena berteriak dengan kencang "Beraninya dia menamparku tadi! kurang ajar!" umpat Ellena dengan sangat marah.
"Aku akan memberikan pelajaran kepadamu nanti! lihat saja!" gumam Ellena dengan sinis.
"Siapa yang akan kamu beri pelajaran?" tanya James yang sebenarnya dirinya sudah bangun dan James pun tahu jika Ellena dan Sheila bertengkar, karena saat melihat Ellena tidak ada disampingnya, James pun mencari Ellena dan melihat Ellena dan Sheila yang sedang bertengkar.
Ellena terkejut mendengar suara James "Lupakan! aku hanya mengigau," Ellena ingin berbaring namun dihalau oleh James.
Tangan James menarik tangan Ellena dengan kuat "Jangan cari masalah! dan jangan kamu ganggu rumah tangga Alfin! kau mengerti!" ancam James.
__ADS_1
Ellena kesal mendengar ancaman James "Lepaskan! aku akan membuat mereka menderita! kau dengar!" Ellena tidak menghiraukan ancaman James.
"Sudah cukup kau menipu mereka! lebih baik tinggalkan dendammu itu El!" ucap James tegas.
Ellena tersenyum simpul "Aku tidak akan meninggalkan dendamku!" ucap Ellena tanpa rasa takut.
James menghembuskan nafasnya kasar "Terserah!" James kembali membaringkan badannya dikasur dan membelakangi Ellena karena kesal dengan wanita itu.
Ellena pun melakukan hal yang sama dengan James, dirinya membaringkan badannya dan membelakangi James dengan perasaan yang kesal karena selama ini James tidak pernah membentaknya, tapi sekarang senang sekali bila berdebat dengannya.
^
Tengah malam hari dirumah Dani, sepasang suami istri masih asyik bercengkrama didalam kamar pengantin baru ini "Yang...kok aku pingin nasi goreng ya?" ucap Dani sambil membayangkan betapa enaknya jika memakan nasi goreng.
"Beli lah sana!" suruh Hevi.
"Sudah malem," Dani melunakkan suaranya.
"Coba telepon satpam didepan, siapa tahu didepan perumahan kita ada yang masih jualan, kasihan nanti bayinya ileran loh kalau gak diturutin," ancam Hevi.
Dani sangat kegirangan ketika mendengar jika penjual nasi gorenganya masih ada, Hevi yang melihat tingkah suaminya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau ikut kebawah Yang?" ajak Dani, Hevi pun mengangguk.
Mereka pun kebawah untuk memakan nasi goreng yang sudah satpam Dani belikan. Hevi menyiapkan piring untuk sang suami "Ini..." Hevi mendekatkan nasi goreng kehadapan sang suami.
"Makasih Yang," ucap Dani.
Tanpa menunggu lama Dani memakan nasi goreng itu dengan lahap dengan mulut yang tak henti-hentinya terus berbicara kalau nasi gorengnya sangat enak, Hevi terkekeh melihat tingkah suaminya yang sedang mengidam tersebut.
"Astaga Dan! kayak gak pernah makan aja kamu!" tiba-tiba suara ibunya Dani yang bernama Lala menggema dimeja makan.
Sebelum Dani menjawab Dani meminum terlebih dahulu karena saat ini nasi gorengnya sudah ludes dimakan "Hehe..." Dani hanya terkekeh.
__ADS_1
Lala menggelengkan kepalanya "Harusnya kan istrimu yang mengidam dan makan itu! ini malah kebalik," Lala tertawa bila mengingat Dani mengidam segala sesuatu.
"Iya mah! sebenarnya Dani juga tersiksa dengan ini, tapi tidak apa-apa untuk calon jagoanku, Dani akan siap menanggungnya!" ucap Dani dengan semangat, tangannya memegang perut Hevi dan mengelusnya.
"Mamah doakan agar anak itu perempuan!" ucap Mamah dengan semangat.
"Kenapa Mamah pingin perempuan sih! Laki-laki dulu dong Mah!" debat Dani.
"Ya karena Mamah gak punya anak perempuan, lagian laki-laki itu bandel kalau kecil kaya kamu itu!" ucap Lala.
"Ih Mamah nih!" Dani langusng cemberut.
Hevi dan Lala tertawa melihat wajah Dani yang sedang kesal "Sudah ayo kita istirahat!" ajak Hevi dan diangguki oleh Dani.
"Mah kita istirahat dulu ya," ucap Hevi kepada mertuanya.
"Iya sayang..." saut Lala.
^
Alfin terbangun saat fajar sudah mulai muncul, Alfin melihat Sheila masih tertidur pulas didekapannya "Tumben belum bangun? pasti lelah ya Beb?" gumam Alfin, tangannya menyentuh pipi Sheila dan mengusapnya dengan lembut.
Alfin menciumi wajah Sheila dan berakhir dibibirnya membuat Sheila menggeliat dan terbangun, Alfin tersenyum dan menatap Sheila dengan cinta, jari telunjuknya menyentuh hidung Sheila "Capek?" tanya Alfin ketika melihat mata Sheila terbuka.
"He'em." gumam Sheila.
Alfin lalu mendekapnya lagi "Kalau begitu tidurlah lagi," pinta Alfin.
"Mas gak kekantor?" tanya Sheila tidak melepaskan pelukkannya.
"Hari ini untukmu dan Inez," tutur Alfin semakin mengeratkan pelukannya.
"Serius?" tanya Sheila senang, Alfin menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Daddy..." teriak seorang ana kecil dan berlari lalu merangkak keatas kasur.