Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Berduet


__ADS_3

Alfin menyentil hidung Sheila "Lain kali saja aku ceritakan," ucap Alfin tersenyum.


Sheila mendongak dan mengusap hidungnya sambil mengaduh "Kenapa tidak sekarang?" Sheila memasang wajah cemberut.


Terserah aku dong maunya kapan? kok maksa?" Alfin menjulurkan lidahnya dan tertawa.


Sheila kesal "Ih! gak lucu!" Sheila melipatkan kedua tanganny diatas perut.


Alfin terkekeh karna Sheila mulai kesal "Kalau aku ceritain, mau dikasih apa?" ucap Alfin dengan suara menggoda.


"Maunya apa!" Sheila menantang.


"lni..selama satu jam," telunjuk jari Alfin menyentuh bibir Sheila, Sheila terlonjak kebelakang dan kesal.


"Ih! ya sudah lain kali saja!" Sheila kesal mendengar permintaan Alfin.


Alfin terkekeh lalu mengusap pipi Sheila yang sudah bersemu merah, Sheila yang kesal ingin pergi dari tempat itu "Aku mau tidur!" ucap Sheila mau melangkah pergi namun tangan Alfin menahan perut Sheila membuat badan Sheila berbalik dan kini Sheila dan Alfin menghadap arah yang sama.


Alfin memeluk Sheila dari belakang dan menaruh dagunya dipundak Sheila "Jangan marah-marah nanti cepat tua," Alfin berucap lirih.


"Yang sudah tua itu kamu Mas," timpal Sheila.


Alfin memperbaiki kepalanya "Eh berani ya mengataiku tua! mau dihukum?" Alfin menggelitik perut Sheila dan Sheila pun tertawa sambil meminta ampun.


Alfin pun berhenti "Ih!" Sheila memukul lengan Alfin.


Alfin mencium aroma rambut Sheila "Sheil..." panggil Alfin dengan suara yang menggoda.


"Hem..." Sheila menjawab dengan berdehem.


"Apa keinginanmu didunia ini?" Alfin menatap kearah yang sama.


"Ingin impianku terwujud," jawab Sheila tersenyum dan melihat hamparan dunia yang kini terlihat didepan matanya.


"Apa impianmu?" Alfin mengusap pipi Sheila.


Sheila terdiam sejenak "Aku ingin kuliah sampai tuntas, aku juga ingin menjadi penyanyi dan satu lagi aku juga ingin menjadi penulis, karna aku suka menulis dan membaca," Sheila tersenyum membayangkan impian yang dia tulis dibuku hariannya.


"Kenapa jadi penyanyi dan penulis?" Alfin menangkat kedua alisnya.


Sheila melihat Alfin sekilas lalu kembali melihat hamparan dunia.


"Karna...kita bisa mengekpresikan apa yang kita rasakan lewat lagu dan juga tulisan, kadang juga kita bisa menghibur dan mengerti perasaan orang lewat lagu dan tulisan," jawaban Sheila membuat Alfin tersenyum.


"Coba sekarang menyanyi, aku ingin dengar," tantang Alfin.


"Ih...gak mau! malu lah nanyi didepanmu," Alfin terkekeh dengan jawaban Sheila.


"Bagaimana kamu mau jadi penyanyi kalau kamu aja malu nyanyi didepan orang, seorang penyanyi itu harus berani bernyanyi didepan semua orang," Alfin menyentil kening Sheila, karna gemas.

__ADS_1


Sheila terdiam mencerna kata-kata Alfin tadi, dalam hatinya mengiyakan semua yang dikatakannya "Iya juga ya," Sheila terkekeh sendiri mengingat kebodohannya.


"Ya sudah sekarang nanyi coba, aku ingin mendengar Sheilaku menanyi," Alfin melirik Sheila.


Sheila terdiam sejenak "Kalau gak mau nanyi aku cium nih!" goda Alfin.


Sheila memukul lengan Alfin "Dengarlah cinta hatiku remuk redam


Jika tak ada kamu


Menemani aku


Dengarlah cinta ku memanggil namamu


Disetiap malamku


Ku memikirkan kamuΒ 


Aku sepi sepi sepi sepi


Jika tak ada kamu


Aku mati mati mati mati


Jika engkau pergiΒ 


Dengarlah kesayanganku Jangan tinggalkan aku


Dengarlah kesayanganku Hidup matiku untukmu


Kumohon pertahankan aku."


bukan hanya Sheila yang bernyanyi tapi Alfin juga, karna Alfin pun hafal dengan lagu itu, jadilah mereka berduet menanyikan lagu itu.


Mereka menghayati isi lagu, Sheila terkejut karna Alfin juga hafal dengan lagu itu dan yang lebih Sheila heran Alfin suaranya bagus "Kenapa dia begitu sempurna, bagaimana aku bisa melupakannya." batin Sheila.


Alfin mengeratkan pelukannya karna gemas tidak menyangka jika suara Sheila merdu ditelinganya "Cih sial! dengar suaranya saja imanku hampir runtuh! Sheil..Sheil aku bis gila kalau begini terus!" batin Alfin.


"Beb..." panggil Alfin.


"Hem.."


"Aku ingin kerumah Mamah, apa kamu mau ikut?" tanya Alfin.


Sheila mengangkat kedua alisnya dan menatap Alfin dengan penuh tanda tanya, Alfin pun mengerti ekpresi wajah Sheila.


"Mau minta bantuan Mamah, untuk membujuk ibumu, aku bisa gila kalau begini terus! kalau perlu besok aku akan menculik pengantin prianya..lalu aku yang menggantikannya untuk menikah denganmu," Alfin membalikan badan Sheila hingga kini mereka berhadapan.


Sheila mengerti dan menganggukan kepalanya, Sheila pun merasakan hal yang sama "Mas..." panggil Sheila.

__ADS_1


"Hem.." saut Alfin.


"Kalau aku nikah nanti, berarti aku tinggal disini dong sama suamiku, kan kontrak kerjaku belum selesai," Sheila menunduk takut Alfin marah dengan pertanyaannya.


Alfin mengangkat dagu Sheila "Ganti rugi 6M, dan kalau suamimu itu gak bisa, kamu jaminannya, aku gak mau melihatmu bersama pria lain dirumah ini! kamu mau buat aku gila?" ucap Alfin tegas.


Sheila terdiam tidak tau harus berkata apa lagi "Aku juga." batin Sheila.


Alfin memeluk Sheila untuk beberapa saat "Berdoalah agar semua itu tak terjadi," Alfin memejamkan matanya dan Sheila menganggukan kepalanya.


Alfin melepaskan pelukannya "Aku mau pergi sekarang, doakan aku," Sheila menganggukan kepalanya, matanya ingin menangia namun Alfin melarangnya.


Alfin pun pergi kerumah orangtuanya dan Sheila mengantar sampai didepan pintu, saat Alfin ingin pergi Alfin menatap Sheila sesaat lalu tiba-tiba Alfin mencium kening Sheila, Sheila tak mampu menghindar karna Alfin begitu tiba-tiba.


Alfin masuk kedalam mobil dia menurunkan kaca mobilnya lalu melambaikan tangannya kepada Sheilan Sheila pun membalas lambaian tangan Alfin. Saat mobil Alfin sudah tak lagi terlihat, Sheila masuk kedalam rumah kembali dan duduk termenung dimeja makan, Sheila menyandarkan dagunya diatas meja.


^


Sampai dirumah orangtuanya Alfin segera turun lalu masuk kedalam rumahnya yang tidak dikunci "Assalamualaikum...Mah! Pah!Fino!" teriak Alfin saat masuk kedalam rumahnya.


"Apaan sih anak Mamah dateng-dateng teriak-teriak begitu!" ucap Novi yang sudah berada ditangga.


Alfin langsung memeluk ibunya manja "Cucu Mamah gak ikut?" Novi mengajak Alfin untuk duduk disofa ruang keluarga yang disana sudah ada Purnomo dan Fino.


"Gak Mah," Alfin berbaring, kepalanya berada dipaha Novi.


Purnomo dan Fino geleng-geleng kepala melihat kemanjaan Alfin "Cih! dasar bayi tua! umpat Fino kepada kakaknya.


Alfin menjulurkan lidahnya kearah Fino "Syirik aja!" balas Alfin, Fino membuang mukanya karna kesal.


"Mah..." Alfin memanggil dengan suara manja.


"Kenapa?" tanya Novi, yang sudah tahu maksud kedatangan anaknya.


"Katanya mau bantuin Alfin...tapi sekarang Sheila malah mau dinikahin sama orang lain," ucap Alfin.


Novi dan yang lain tertawa "Kasihan!" ledek Fino.


"Ih!" Alfin melempar bantal sofa kearah Fino.


"Memang Sheila mau dinikahkah sama siapa?" tanya Novi pura-pura tidak tahu.


"Alfin juga gak tahu Mah, katanya anak sahabat ibunya," wajah Alfin redup saat berbicara.


"Mang kamu gak tau sahabat ibunya Sheila itu siapa?" timpal Purnomo.


Alfin melihat kearah papahnya dan menggelengkan kepalanya. Novi dan yang lain tertawa membuat wajah Alfin bingung karnanya.


(besok lagi 😁😁)

__ADS_1


#Maaf tadi nyanyinya fales πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… selamat berpuasa semoga sehat selalu 😊😊


__ADS_2