Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Kepanikan Alfin


__ADS_3

Alfin menggandeng tangan Sheila untuk naik keatas "Kamu mau mandi dulu ata Mas yang mandi? atau...kita berdua bareng mandi?" Alfin mengedipkan satu matanya.


Wajah Sheila bersemu merah "Ih! aku yang mandi dulu," Sheila langsung masuk kedalam kamar mandi karena hatinya sudah tidak karuan lagi rasanya.


Saat didalam kamar mandi Sheila merasa kesal karna tidak bisa membuka kancing yang berada dibelakang "Hais...kenapa susah sekali sih!" kesal Sheila.


Sudah beberapa menitpun Sheila tetap tidak bisa membukanya, Sheila pun akhirnya pasrah dan keluar dari kamar mandi "Mas..." panggil Sheila manja.


Alfin yang sedang duduk disofa sambil melihat laptop langsung melihat kearah Sheila "Sudah mandinya Beby?" Alfin mengernyitkan keningnya karna Sheila keluar kamar mandi masih menggunakan gaun pengantinnya.


"Kenapa masih belum mandi?" tanya Alfin langsung berdiri dan menghampiri Sheila.


"Ini...Tolong," Sheila memunggungi Alfin, Alfin pun tersenyum, paham dengan apa yang Sheila maksudkan.


"Kenapa gak bilang daritadi hem?" tanya Alfin sambil membuka satu-persatu kancing baju pengantin Sheila.


"Aku mana tahu kalau ternyata susah begini," wajah Sheila terlihat sangat kesal.


"Sudah! gak usah semua," Alfin langsung berhenti lalu memeluk Sheila dari belakang.


"Beb..." panggil Alfin manja didekat telinga Sheila.


"Hem..." gumam Sheila sambil berusaha melepaskan tangan Alfin dari perutnya, namun Alfin tidak mau melepaskan pelukannya.


"Gimana kalau mandinya abis..." ucap Alfin sambil menghirup aroma tubuh Sheila.


Sheila tertawa karna merasa geli dilehernya "Ih...geli tau Mas, awas ah aku mau mandi!" seru Sheila.


Mendengar Sheila tertawa bukannya membuat Alfin berhenti namun justru semakin membuat Alfin hilang kendali, tangannya kini justru mengusap punggung Sheila yang terbuka "Gak usah iseng deh Mas!" Sheila mencoba kabur namun tenaganya kalah dengan Alfin.


"Mandinya entar aja Beb," bisik Alfin ditelinga Sheila.


Sheila menggelinjang karna perbuatan Alfin "Mas...stop!" ucap Sheila lirih namun tegas.


Alfin membalikan badan Sheila untuk menghadapanya, jari telunjuknya menyentuh kening lalu menggeser turun kebibirnya, seketika mata Sheila terpejam karnanya dan jantungnya kini tidak karuan lagi rasanya.


Tangan kiri Alfin kini memegang tengkuk leher Sheila, bibir Alfin mendekat kebibir Sheila tanpa butuh waktu yang lama bibir mereka mereka bersentuhan, Sheila hanya diam karna dia tidak pernah melakukannya "Manis." batin Alfin.

__ADS_1


Alfin melepaskan bibir Sheila lalu tersenyum, Sheila pun membuka matanya perlahan, Alfin mengusap pipi Sheila dengan lembut "Ikutin gerakannya Beb," suara Alfin yang lembut membuat Sheila dapat merasakan nafasnya.


Sheila menggelengkan kepalanya "Aku tidak bisa," ucap Sheila ingin menunduk namun dihalau oleh jari telunjuk Alfin yang kini berada didagu Sheila.


"Mas ajarin," Alfin tersenyum nakal, lalu mencium kembali bibir Sheila, tanpa melepaskan pelukan dan ciumannya, Alfin menggiring Sheila keranjang dan membaringkannya dengan pakaian Sheila yang sudah terlepas dari badannya tanpa Sheila sadari, Alfin sudah tidak bisa terkendali lagi hasratnya ingin segera diselesaikan.


(Bayangin sendiri-sendiri ya kaka-kaka, author gak sanggup wkwkwkwkw)


Dibawah keluarga Alfin dan Sheila sedang asyik berkumpul dan mengobrol, Alex dan Tia pun ikut menginap dirumah Alfin.


"Mayang apa kamu tidak mau menikah lagi?" pertanyaan Novi membuat semua orang melihat kearah Novi dan Mayang termasuk Alex yang hatinya kini ada nama Mayang didalamnya.


"Kamu itu apaan sih Nov aku sudah tua, sudah gak pantas buat nikah lagi," ujar Mayang.


"Sudah tua apanya! orang masih cantik begini kok," Novi mencolek dagu Mayang.


"Ih... kamu itu iseng banget sih Nov!" Mayang memukul pelan paha Novi, Novi dan yang lain tertawa.


"Kalau ada lelaki yang mau?" tanya Alex, membuat semua orang kini beralih melihat ke arah Alex.


"Cie...jangan-jangan laki-laki itu Paman Alex lagi," cuitan Andri membuat ruang tamu itu riuh seketika, Mayang menunduk karna malu menjadi bahan omongan malam ini.


"Kalau beneran ada rasa, katakan saja," bisik Purnomo yang sedang berada disampinginya.


Alex tersenyum kepada Purnomo "Aku takut ditolak," ucap Alex melirik kearah Mayang.


Ruang tamu kini riuh karna kode Alex "Tuh Yang, kode itu!" ucap Novi antusias.


"Iya Bu, terima aja!" timpal Dani.


Mayang tersenyum malu karena diledekin sahabatnya dan yang lain, Sunari yang sedang duduk disebelah Tini melihat ke arah Mayang dalam hatinya merasa bersalah karena belum pernah memberikan kebahagiaan selama hidup bersamanya "Terima saja May, Alex pasti bisa membuatmu bahagia," ucapan Sunari membuat ruang keluarga mendadak sunyi.


Mayang menarik nafasnya lalu membuangnya secara perlahan "Kebahagiaanku itu ada pada anak-anakku," tutur Mayang menunduk sedih.


Novi merangkul pundak sahabatnya "Anakmu kini sudah bahagia bersama anakku Yang," tutur Novi lalu tersenyum.


"Ya sudah aku keatas dulu ya mau menengok Inez," Mayang ingin menghindar agar dirinya tidak menjadi bahan bicara malam itu.

__ADS_1


"Kalau Inez bangun pasti nangis, sudah sini dulu, kita berhenti membicarakan kamu," Novi menghalau Mayang untuk pergi.


"Mah...kita mau pulang apa mau menginap disini?" tanya Fino yang sepertinya sudah sangat mengantuk.


"Menginap disini aja sayang, kamu sudah mengantuk ya? naik keatas sana sama Kak Andri dan Kak Dani," perintah Novi kepada anaknya.


Fino pun menurut dan pergi keatas diikuti Andri dan Dani yang sebelumnya suda berpamitan kepada semua orang yang berada diruangtamu.


"Aku juga permisi ya Nyonya mau pulang sudah malem," ijin Tini kepada Novi mantan majikannya.


"Menginap saja disini semalam Bi, ini kan sudah malem," ucap Novi.


Tini berfikir sejenak dan memandang Sunari "Memang gak Papa Nya kalau kita menginap disini?" ucap Tini ragu.


"Ya gak papa lah Bi, menginap saja," Novi tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, makasih ya Nya, kami permisi dulu mau kekamar," Tini dan Sunari pergi meninggalkan Novi dan yang lain diruangtamu.


"Tia tidur sama siapa?" tanya Tia tiba-tiba.


"Ya sama Papah lah sayang," ucap Alex.


"Ih...Tia kan sudah gede Pah, masa tidur sama Papah," Tia cemberut, Alex tertawa melihat wajah anaknya yang sangat lucu.


"Tidur sama tante aja mau?" ajak Mayang, Tia pun tersenyum dan menganggukan kepalanya. Mereka pun meninggalkan ruang tamu dan kini ruang tamu kosong tidak ada siapa-siapa.


^


Dikamar Alfin


Setelah melakukan olahraga malam bersama Sheila, Alfin mencium bibir Sheila dengan lembut "Makasih Beb, aku tidak pernah merasakan kenikmatan seperti tadi," bisik Alfin.


Sheila tidak menjawab justru dirinya menangis tanpa suara, Alfin yang melihat istrinya menangis langsung panik "Kok nangis Beb? kamu gak suka ya?" Alfin langsung mendekap Sheila dan menghapus airmatanya "Maafkan Mas, Mas tadi bener-bener tidak tahan," ucap Alfin merasa bersalah lalu mencium tangan Sheila yang dia genggam.


Sheila menggelengkan kepalanya "Sakit Mas," Sheila berucap lirih namun masih terdengar ditelinga Alfin.


Alfin langsung duduk karna panik "Sakit? mana yang sakit Beb? Mas panggilkan dokter ya?" Alfin turun dari ranjang dan memakai baju dan celananya dengan cepat karna panik.

__ADS_1


(besok lagiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)


Terimakasih yang sudah baca dan like, semoga bahagia selalu apalagi yang Vot author doain biar cepet ketemu jodohnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜


__ADS_2