Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
10.


__ADS_3

Alina membaca sebuah berkas yang ada di tangannya sambil berjalan. Wanita itu tampak fokus dengan setiap angka yang ada di berkas itu.


Dalam bulan ini sudah ada dua orang yang ia pecat karena telah melakukan penggelapan dana dan mereka berakhir di dalam penjara serta mengembalikan seluruh uang yang mereka ambil.


Meskipun fokusnya hanya pada berkas namun wanita itu tetap bisa jalan dengan baik. Alina menutup dokumen tersebut dan menatap ke arah depan.


"Alina" panggil seseorang dari arah belakang.


Alina menoleh. Dahi wanita itu mengkerut. Setelah satu minggu tidak bertemu ternyata dia kembali.


"Kenapa kau datang kemari" tanya Alina dengan bersedekap dada.


"Aku sudah melakukan apa yang kau minta" ucap Ansel


"What?"


"Menghilang"


"Hanya dalam waktu satu minggu?"


"Ya. Karena tidak ada batas waktu"


Alina memutar bola matanya malas. Sepertinya berbicara dengan Ansel harus menjelaskan secara detail.


"Sepertinya aku harus meralat ucapanku" ucap Alina dengan tatapan tajam menatap ke arah Ansel.


"Aku tidak mengijinkannya"


"Aku tidak perlu ijinmu"


"Aku tidak akan mendengarkan" Ingin rasanya Alina mencekek leher Ansel karena kesal dengan pria itu.

__ADS_1


"Beruntung kau berada di perusahaanku" ucap Alina


"Why?" tanya Ansel dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Jika tidak sudah ku habisi nyawamu" Alina membalikkan badannya dan pergi begitu saja. Secepat kilat Ansel langsung menahan lengan wanita itu. Mungkin dirinya akan sulit untuk menaklukan wanita di hadapannya ini.


Wanita bukan sembarang wanita. Yang hanya di beri rayuan sedikit sudah meleleh. Lain dengan Alina. Wanita itu jual mahal sekali. Bahkan menguji kesabaran Ansel berkali kali.


"Berikan waktu aku bicara denganmu" ucap Ansel


"Aku gak ada waktu" ketus Alina dan meninggalkan Ansel setelah menghempaskan tangan Ansel.


Ansel memejamkan sejenak untuk mengendalikan emosinya yang ingin sekali meledak. Dia ingin sekali marah. Hanya dengan Alina dia di tolak seperti ini.


Setelah merasa emosinya kembali stabil Ansel mengejar langkah Alina. Namun dirinya kalah cepat. Alina sudah sampai di lantai yang dia tuju.


Setelah pintu lift terbuka, Ansel langsung cepat cepat menyusul Alina ke lantai yang sama. Namun sial. Khusus lantai itu tidak bisa di akses sembarangan. Butuh kartu akses yang hanya di pegang oleh beberapa orang.


Ansel kembali keluar. Pria itu memutuskan masuk kembali ke dalam mobilnya. Namun tetap tidak meninggalkan area perusahaan Alina.


Ansel tetap menunggu sampai wanita itu keluar. Entah kapan Alina keluar dia akan tetap menunggu. Meskipun tak pasti Ansel tetap setia menunggu wanita itu.


Jenuh karena menunggu selama dua jam namun tak ada hasil. Wanita itu tak kunjung keluar juga. Ansel mengambil laptopnya yang ia letakkan di mobil bagian belakang dan bekerja.


Banyak pekerjaan yang harus ia tunda karena seorang Alina saja. Oh ayolah jika saja wanita itu tau perjuangannya setidaknya keluar dan temui dia.


Ansel melakukan meeting secara virtual saja. Selama dua jam meeting berlangsung konsentrasi Ansel masih tetap pada pintu lobby menanti kedatangan Alina.


Mata Ansel melirik kembali ke arah yang sama dan seorang wanita berjalan keluar dengan anggun. Tanpa menunggu lama Ansel langsung meninggalkan meeting nya dan menemui Alina.


"Alina" teriak Ansel

__ADS_1


"Astaga pria itu lagi" dengus Alina sebal.


Ansel berjalan mendekati Alina yang hanya berjarak beberapa meter saja darinya.


"Ada apa" tanya Alina datar


"Aku menunggu" ucap Ansel


"Aku gak peduli" balas Alina


Ansel mengusap wajahnya kasar. Kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Sedangkan Alina hanya melirik saja dengan tatapan tajam.


"Aku mau menikahimu" ucap Ansel to the poin.


Terlalu lama basa basi membuatnya kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Alina.


"Untuk?" tanya Alina dan menghadap ke arah Ansel sambil bersedekap dada


"Tanggung jawabku"


"Aku tidak memerlukan itu" ucap Alina dengan penuh penekanan.


Baru kali ini seorang wanita di nodai namun tidak mau di nikahi. Benar benar aneh. Ya itulah Alina. Biasanya seorang wanita yang akan mengemis ngemis untuk meminta pertanggung jawaban tapi kini Alina sebaliknya.


Alina berjalan begitu saja masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Ansel. Kebiasaan sekali wanita itu. Meninggalkan tanpa berpamitan.


Ansel menghembuskan nafas perlahan dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menuju perusahaannya untuk mengurus beberapa hal yang sempat ia tinggalkan untuk berurusan dengan Alina.


.


*Like dan Komen*

__ADS_1


__ADS_2