
"Siapa Luna" tanya Ansel yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Luna sedang asik telfonan menggunakan ponsel miliknya.
"Chen, asisten kamu" ucap Luna ketus dan memberikan ponsel itu pada pemiliknya
"Ada apa Chen" tanya Ansel
"Kau habis mati berapa lama" tanya Chen langsung
"Apa maksudmu"
"Kemana kau selama beberapa hari ini" tanya Chen
"Aku sibuk"
"Sibuk soal apa? Kau melupakan Alina yang mencarimu" ucap Chen
"Ah iya nanti aku akan menghubunginya" ucap Ansel santai
"Lagi pula kau tidak perlu emosi seperti itu" ucap Ansel
"Kau tidak tau kau hampir saja kehilangan anakmu Ansel" teriak Chen
"Apa? Apa maksudmu? Kenapa kau tidak memberi tahuku" tanya Ansel
"Tanyakan saja pada dirimu sendiri puluhan kali aku menghubungi kamu Ansel dan tidak ada satupun yang kau jawab" ucap Chen kesal
"Aku mematikan ponselku"
"Sesibuk itu?" tanya Chen
"Ya"
"Hingga melupakan anak dan istrimu" ucap Chen seketika membungkam mulut Ansel
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan memang hingga sesibuk itu dan untuk menanyakan kabar istri sendiri saja seolah tak ada waktu" ucap Chen semakin membuat Ansel skakmat
"Segeralah pulang jangan sampai Alina yang pergi saat kau sudah datang nanti" Chen memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Mangusap wajahnya dengan kasar kemudian duduk di ranjang. Bersandar pada headboard ranjang dan menatap ke arah depan dengan tatapan nanar.
.
Alina terbangun karena suara ponselnya yang berdering. Mengernyit menatap sinar matahari yang sudah terik. Menggapai ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Ya halo" ucap Alina dengan suara serak khas bangun tidur
"Nona Alina"
Suara itu seketika langsung membuat Alina bangun dari posisinya. Mata yang semula masih ngantuk seketika membulat sempurna.
"Ada informasi apa di Sydney" tanya Alina
Deg
"Apa kau tau hubungan mereka apa" tanya Alina
"Saya belum menyelidiki soal itu"
"Kau sempat mengambil foto mereka?" tanya Alina penuh harap
"Maafkan saya nona tapi mereka menghilang dengan cepat"
Alina memejamkan matanya dan mengguyur rambutnya ke belakang.
"Yasudah" Alina mematikan sambungan telepon secara sepihak
"Bersama wanita lain? Siapa dia?" ucap Alina penuh tanya
__ADS_1
Alina mencoba menghubungi Ansel namun masih tetap tidak bisa. Melihat status online Ansel terakhir kali adalah tengah malam membuat Alina mendengus sebal.
"Kau sempat online tetapi tidak menghubungiku" ucap Alina dan meletakkan ponselnya dengan kasar.
Alina beranjak dari posisinya dan keluar dari kamar. Kepalanya menyembul keluar menatap ke arah sekeliling. Kemudian beralih pada camera cctv yang terpasang di sudut ruangan.
Dor
Alina melesatkan pelurunya ke arah camera pemantau dan berhasil membuat camera itu padam seketika.
Dor
Dor
Dor
Alina juga menembak pada camera di sudut lain. Melihat ke arah bawah tentu saja Butler Frans terkejut dengan suara suara itu.
"Tenanglah Butler Frans aku hanya sedang berlatih menembak" ucap Alina
"Syukurlah tapi nyonya tidak apa?" tanya Butler Frans dan Alina hanya mengangguk.
Berjalan ke arah ruang kerja Ansel. Ia yakin sekali jika ada sesuatu yang di sembunyikan suaminya di ruang kerjanya itu.
"Astaga apa aku harus membobolnya" gumam Alina dengan menggigit kukunya
Dengan mudah dia bisa membobol itu tapi tentu saja itu akan di ketahui oleh Ansel nantinya.
Alina mengacak rambutnya frustasi. Dia butuh bukti. Ada sebuah rahasia yang harus ia ungkap. Alina yakin Ansel berani bermain api dengannya saat ini.
.
*Like dan Komen*
__ADS_1