
Dalam dua bulan ini Ansel memang menghindar. Bukan menghindar tapi lebih tepatnya dia menghilang. Kemanapun aku pergi, aku tidak pernah menjumpai Ansel. Dia seolah menghilang di telan bumi. Tidak pernah berada di hadapanku lagi.
Ya memang itu yang aku mau. Aku tidak ingin ada yang menganggu kehidupanku. Dalam ikatan pernikahan aku tidak pernah memikirkan hal itu. Bagiku itu seperti sebuah sangkar yang membatasi kebebasanku.
Namun meski begitu dalam dua bulan ini teror yang sama selalu menyerangku. Pembunuhan nona M? Siapa dia?
Aku tidak pernah membunuh nona M. Ataupun wanita yang berinisial M. Minggu lalu hampir saja aku celaka. Bahkan nyawaku seperti sudah berada di ujung tanduk.
Saat yang menyerangku menabrakkan mobilku hingga hampir terjerumus ke jurang. Bahkan pada saat itu aku hampir pasrah. Namun siapa sangka ada seseorang yang menyelamatkanku dengan mendorong mobil yang menyerangku hingga menjauhi mobilku.
Namun aku tak tau siapa dia. Dia pergi begitu saja setelah menyelamatkanku. Aku sudah tak perduli soal itu. Aku melupakan semua kejadian sebelumnya dan menjalani kehidupan seperti biasa. Meskipun terkadang teror selalu menghantuiku.
"Alina" panggil seseorang dari arah belakang
"Ya?" tanyaku
"Kau baik baik saja kan? Aku sudah membelikan obat pereda mual untukmu" ucap Raisa
Raisa, dia asistenku. Yang selalu memperhatikanku.
"Ya aku baik baik aja" ucapku sambil mengambil kantong plastik yang di bawa oleh Raisa
Raisa membantuku kembali masuk ke ruang kerjaku. Aku duduk di sofa sambil bersandar pada sandaran sofa.
__ADS_1
"Ini minum" Raisa menyodorkan segelas air minum padaku
Aku mengambil air tersebut dan obat kemudian meminumnya.
"Jika ada apa apa kabari aku" ucap Raisa
Aku hanya mengangguk dan kembali bersandar. Biarkan semua pekerjaan di kerjakan oleh Raisa sementara ini.
.
.
...Satu bulan kemudian...
Ansel berjalan dengan tegap menuju restaurant hotel tempat ia akan meeting.
"Selamat datang tuan Ansel" Ansel hanya mengangguk menanggapi sambutan dari kliennya itu.
Ansel dan Chen fokus dengan penjelasan kliennya itu yang akan meminta melakukan kerja sama dengan perusahaannya.
"Baiklah saya setuju" ucap Ansel
"Terima kasih" Setelah meeting selesai klien Ansel itu langsung pergi. Menyisakan Ansel dan Chen saja.
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk makan bersama sebelum kembali ke perusahaan. Tak lama pesanan mereka datang di antar oleh seorang pelayan.
Keduanya makan dengan santai. Ansel menatap sekitar sambil menunggu Chen yang belum menyelesaikan makannya.
Alis Ansel saling bertaut. Matanya memicing untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar.
"Alina" gumam Ansel
Ansel langsung pergi menjauh dari sana namun masih tetap memperhatikan Alina dari jauh. Dia sudah berjanji tidak akan muncul di hadapan wanita itu.
Hal itu kerap kali dia lakukan saat bertemu Alina. Dan wanita itu tidak tau jika dirinya berada di tempat yang sama dengan Ansel.
"Alina lagi" gumam Chen yang sudah hafal dengan sikap Ansel jika tiba tiba pergi menjauh.
Alina berjalan dengan santai namun tiba tiba kepalanya terasa berdenyut. Perlahan tubuh Alina mulai sempoyongan dan hampir saja terjatuh. Ansel langsung berlari mendekati Alina.
Tidak perduli dengan janjinya yang akan menjauhi wanita itu.
Bruk
Tubuh Alina berhasil di tangkap oleh Ansel. Ansel langsung mengangkat tubuh Alina dan membawa masuk ke dalam mobil. Chen yang melihat hal itu langsung menyusul Ansel setelah membayar semua tagihan
.
__ADS_1
*Like dan Komen*