
Beli apartemen di lantai sepuluh send
Ansel menatap Alina. Dia akan tinggal tidak jauh dengan wanita itu
Alina tampak membuka kulkas dan dia duduk berjongkok di depan kulkas yang terbuka itu.
"Apa yang kau lakukan" tanya Ansel
"Kulkasnya kosong" ucap Alina polos
"Yaudah di depan tadi aku liat ada supermarket kita belanja disana" ajak Ansel
"Hm" Alina berdiri dengan menarik kemeja Ansel sebagai bantuannya.
"Astaga Alina" Ansel menahan tubuh Alina yang hampir saja terjatuh karena ulahnya itu.
"Yaudah ayo" ajak Alina
Ansel menarik tubuh Alina dan menggandeng tangannya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift.
Beberapa saat kemudian lift sudah membawa mereka ke lantai dasar. Dan tampak Chen sedang menunggu Ansel di loby dengan tampang kesal.
"Aku menunggumu disini dan ternyata kau enak enakan bermesraan" sungut Chen
__ADS_1
"Ya memang. Apa sudah selesai" tanya Ansel
"Ya memang" cibir Chen mengikuti ucapan Ansel
"Sudah semuanya sudah ku urus" ucap Chen
"Masukkan kopernya dan istirahat disana" ucap Ansel
Ansel kembali menggandeng tangan Alina dan membawanya masuk ke dalam supermarket. Alina sudah mendorong troli dan matanya mencari sesuatu yang dia butuhkan.
"Beli saja semaumu" ucap Ansel
"Ok" Alina memasukkan beberapa barang yang pastinya akan ia butuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah puas berbelanja mereka melakukan pembayaran pada bagian kasir.
Ansel membawa semua kantong plastik berisi belanjaan Alina tanpa mengijinkan wanita itu membawa satupun barang belanjaannya.
"Biar ku bantu Ansel" ucap Alina
"Gak perlu jalanlah aku ada di belakangmu" ucap Ansel
Mereka kembali ke apartemen Alina. Ansel meletakkan semua barang belanjaan itu di meja dapur. Dan tampak Alina sibuk menatap beberapa sayuran yang tadi ia beli ke dalam lemari pendingin. Menyisakan beberapa sayuran yang akan ia masak untuk Ansel.
Setelah selesai menata semua barang belanjaannya, Alina memulai memasak. Tangannya sibuk mencuci sayuran kemudian meletakkan di atas telenan. Mengambil pisau dan mengiris nya menjadi beberapa potongan yang lebih kecil.
__ADS_1
Tiba tiba sebuah apron berada di tubuhnya. Alina menoleh ternyata itu ulah Ansel. Alina melanjutkan kegiatannya sedangkan Ansel menatap dirinya dari arah belakang.
"Ada yang bisa ku bantu" tanya Ansel
"Gak perlu. Kau akan mengacukan semuanya nantinya" ucap Alina tanpa menatap Ansel
Alina membalikkan badannya berniat memotong bawang namun ternyata bawang yang sudah ia siapkan sudah terpotong tipis.
"Kau yang melakukannya?" tanya Alina dan Ansel mengangguk
"Apa aku mengacaukannya" tanya Ansel dan Alina menggeleng.
Ansel masih tetap setia mengekor di belakang Alina dan menatap setiap hal yang di lakukan wanita itu. Tangannya begitu lincah kesana kemari merubah bahan mentah menjadi masakan yang sangat lezat.
Sedikit bosan dengan apa yang dia lakukan, Ansel melingkarkan tangannya di perut Alina. Tubuh wanita itu membeku seketika. Semua gerakannya terhenti. Matanya menatap ke arah tangan Ansel yang melingkar indah di pinggangnya.
"Lanjutkan aku tidak akan mengganggumu" ucap Ansel
Alina menoleh dan hidung keduanya saling bergesekan karena posisi wajah mereka yang sangat dekat. Alina kembali memalingkan muka. Berdehem beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Bahkan Alina pun heran kenapa jantungnya berdetak dua kali lipat. Tangannya sedikit gemetar mendapat perlakuan manis dari Ansel
.
__ADS_1
*Like dan Komen*