
"Apa kau mengetahui sesuatu soal Ansel" tanya Alina
"Sesuatu? Soal kak Ansel?" tanya Luna mengernyit dan Alina mengangguk
"Ah apa yang kau maksud bagaimana Ansel itu" ucap Luna
"Kenapa kau selalu memanggilnya Ansel padahal dia kakakmu" tanya Alina penasaran
"Karena dia menyebalkan tapi dia sangat baik dan sangat manis. Dia menyayangiku dan juga papa. Mementingkan kepentingan kami di atas segalanya"
"Lalu kenapa kau membenciku" tanya Alina
"Tidak ada yang membencimu. Hanya saja... terkadang aku iri sekarang dan selamanya kau akan bersama dengan Ansel. Sedangkan aku harus jauh dengan dia. Kita tidak bisa seperti dulu lagi sejak ada kau. Dan aku terkejut dengan acara pernikahan kalian yang tiba tiba"
"Aku sedikit tidak rela. Tapi aku harus merelakan dengan terpaksa karena bagaimanapun Ansel sekarang milikmu"
"Apa kau pernah patah hati" tanya Alina
"Kenapa kau menanyakan itu" tanya Luna
"Kau seorang gadis tapi aku melihatmu kau tidak mempunyai pasangan" ucap Alina
"Aku patah hati karena seseorang" ucap Luna
"Siapa?"
"Aku tidak ingin menyebut namanya. Aku muak dengan dia"
"Dia yang sudah meninggalkanku di acara pernikahan. Kemudian aku mulai mencintai seseorang tapi dia juga menikah dengan orang lain" ucap Luna
"Jadi itu alasanmu memilih untuk sendiri sekarang" tanya Alina
"Ya. Oh ya kenapa kau tiba tiba begitu perduli padaku" ucap Luna dan Alina menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke kamar mungkin Ansel mencariku" ucap Alina
Alina masuk ke dalam lift sedangkan Luna hanya mengedikkan bahu acuh dan melanjutkan membaca majalah yang ada di tangannya.
Tring
Pintu lift perlahan terbuka dan Alina keluar dari kotak besi itu. Yang sampai sekarang membuat Alina bertanda tanya adalah di lantai lima ini ada dua kamar. Lalu siapa kamar satunya. Sedangkan kamar Bramasta dan Luna ada di lantai empat.
Alina melangkah mendekat ke arah pintu kamar itu. Pintu kokok yang terbuat dari kayu dan di cat berwarna hitam membuat kesan tersendiri. Apa ada sesuatu di balik pintu itu.
"Sayang" panggil Ansel dari arah belakang cukup membuat Alina terkejut.
"Ya?
"Kau dari mana"
"Aku dari bawah" ucap Alina
"Aku mencarimu tadi. Kau selalu menghilang" ucap Ansel
"Ansel" panggil Alina
"Kenapa"
"Apa isi dari kamar yang ada di depan kamar kita" ucap Alina bertanya
"Kau ingin mengetahuinya" tanya Ansel dan Alina mengangguk
"Kenapa kau tidak bilang" ucap Ansel dan terkekeh pelan
"Yaudah ayo kesana dari pada kau penasaran" Ansel mencubit pelan hidung mancung Alina. Menggandeng tangan wanitanya dan mengajak masuk ke dalam kamar yang membuat Alina penasaran dengan isinya.
Ansel membuka pintu yang terkunci dengan passcode. Tak lama pintu besar itu terbuka. Ruangan yang sangat besar.
__ADS_1
"Ini hanya tempatku mengoleksi beragam sejata" ucap Ansel
"Sangat mengagumkan" ucap Alina dengan menatap pada beragam senjata yang di miliki oleh Ansel
"Apa kau pernah mencoba menggunakannya" tanya Alina
"Pernah dan ya memang setara dengan haraganya" ucap Ansel yang bersandar pada meja sambil menatap Alina
"Berapa yang paling murah" tanya Alina
"Lima puluh miliar dolar" ucap Ansel
"Yang paling mahal?" tanya Alina
"Mungkin mencapai triliun" ucap Ansel
"Dolar?"
"Ya dolar"
"Apa kau ingin memiliki satu?" tanya Ansel
"Ya"
"Pilih saja yang mana yang kau mau" ucap Ansel
Alina mengambil satu senjata yang menarik baginya.
"Pilihan yang tepat kau mengambil senjata dengan harga termahal" ucap Ansel dengan terkekeh
"Tidak apa?" tanya Alina
"Ambil saja aku akan membelinya lagi nanti" ucap Ansel
__ADS_1
.
*Like dan Komen*