
Sepuluh menit kemudian Alina bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.
"Rupanya kau sudah bangun" ucap Ansel
"Keluar yuk pelayan udah siapin makan siang buat kamu" ucap Ansel dan Alina mnegangguk
Setelah mengusap wajahnya dengan handuk, Alina berjalan mengekor di belakang suaminya. Ansel berhenti saat berada di sebuah ruangan. Sebuah meja dengan dua kursi sudah berada di tengah ruangan itu.
Beberapa menu makanan sudah tersaji dengan indah di atas meja. Ansel menarik kursi untuk istrinya dan beralih pada kursi satunya.
Mereka berdua makan bersama. Obrolan ringan membuat suasana hangat dalam makan.
Setelah perjalanan beberapa jam, jet milik Ansel mendarat dengan sempurna di lapangan lepas landas bandara London.
Ansel dengan merangkul pundak Alina keluar dari dalam jet nya. Para pengawal menundukkan tubuhnya saat Alina dan Ansel lewat di hadapan mereka.
Sebuah mobil sudah siap menyambut kedatangan sepasang suami istri itu. Ansel dan Alina masuk ke dalam mobil yang di setir oleh seorang supir.
Sedangkan Chen masuk di mobil lain yang ia kendarai sendiri. Perlahan mobil tersebut melaju meninggalkan area bandara.
Alina bersandar pada bahu Ansel sambil menatap lurus ke depan. Setengah jam perjalanan semua tampak biasa dan tenang.
"Ansel" panggil Alina setengah berbisik
"Ya?" Ansel mengalihkan pandangannya dari ponsel menatap istrinya.
__ADS_1
"Apa ini jalan menuju mansionmu" tanya Alina
Ansel menatap ke arah depan. Dahinya mengernyit saat mengetahui ini bukan jalan menuju mansion barunya.
"Aku merasa aneh dengan supirnya sedari tadi" bisik Alina
Ansel menatap ke arah belakang. Sial ternyata supir yang membawa mobilnya ini sudah berhasil mengelabui anak buahnya. Bagaimana bisa dia kecolongan.
"Dia bukan anak buahku" ucap Ansel berbisik di telinga Alina
Tangan Alina menyelinap ke dalam tasnya. Masih dia ingat senjata yang ia minta pada Ansel ia simpan di dalam tas miliknya.
Ansel mengambil senjata yang selalu tersembunyi di balik jas nya. Ansel menatap Alina dan menganggukkan kepala.
Tampak pria yang sedang menyetir itu terkejut. Bagaimana bisa Alina dan Ansel mengetahui jika dirinya menyamar.
Brak
Satu kaki pria itu berhasil mengenai paha Ansel. Tangan Ansel mngepal seketika.
Bug
Ansel melayangkan pukulannya pada rahang pria itu sebelah kiri. Darah segar menetes di sudut bibirnya.
Tangan kanan pria itu terlepas dari setir dan dan membalas pukul pada Ansel namun dengan cepat Ansel menahan tangan pria itu.
__ADS_1
"Siapa yang nyuruh lo" bentak Ansel
Alina memegang setir mobil agar tetap terkendali. Pandangannya fokus ke depan sesekali menatap pria itu dan juga Ansel yang tengah saling membalas pukulan.
Ansel menyeret pria itu ke arah belakang membuat Alina sedikit gelagapan. Dengan cepat Alina melompat ke arah depan dan mengambil alih kemudi.
Bug
"Gue tanya siapa yang nyuruh lo" bentak Ansel yang sudah berhasil mengunci tubuh pria itu
"Sampai kapanpun gue gak akan ngaku" teriak pria itu
Tangan pria itu mengambil pisau yang ada di balik jaketnya. Mengarahkan ke arah Ansel. Alina menatap dari kaca takut jika pria itu menancapkan pisau tersebut di tubuh Ansel.
"Inget Ansel siapapun yang sudah berani membunuh nona M kami dia akan menanggung akibatnya" teriak pria itu
Jleb
"Alina" teriak Ansel dengan mata membulat sempurna
Pria itu membuka pintu mobil dan melompat keluar dari mobil yang masih bergerak itu. Terjatuh ke jurang dan entah bagaimana nasibnya.
.
*Like dan Komen*
__ADS_1