
"Ingin rasanya aku membunuh dia di detik itu juga. Dia benar benar lancang" umpat Alina dengan menyetir mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Memecah jalanan kota yang cukup padat. Tapi tak menghalangi Alina menyetir dengan kecepatan di atas rata rata.
Ansel yang sudah rapi dengan pakaiannya pria itu langsung keluar dari ruangan itu. Ansel menghubungi seseorang di balik teleponnya sambil berjalan cepat melewati orang orang yang tampak sedang sarapan.
"Cari wanita itu. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya" ucap Ansel.
Ansel masuk ke dalam mobilnya dan mengendara entah tanpa arah. Fokusnya hilang seketika. Dia tidak sebajingan itu. Namun ini kecelakaan.
"Siapa yang berani bermain main denganku" ucap Ansel penuh penekanan dengan memukul setir mobilnya penuh emosi.
"Aku harus mencari taunya nanti. Saat ini aku harus bertemu dengan Alina" Ansel mempercepat kecepatan. Matanya menatap ke arah kanan dan kiri bergantian. Siapa tau jika ada Alina di sana.
Ponsel Ansel berdering. Anak buah yang ia perintahkan untuk mencari Alina kini menghubungi dirinya.
Ansel memasang aipods di telinganya dan menjawab panggilan tersebut. Pria itu tampak serius mendengarkan setiap apa yang di katakan oleh bawahannya.
"Kami menemukan jika wanita tadi masuk ke sebuah rumah besar di Perumahan Golden Jalan X blok A" ucap bawahannya memberi informasi.
"Hm" Ansel mematikan sambungan secara sepihak. Alamat yang baru saja ia dengar akan menjadi tujuannya saat ini.
Dengan kecepatan tinggi Ansel menuju rumah Alina. Dia harus berbicara dengan Alina secara baik baik. Dia akan memberikan pengertian pada wanita itu.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, hanya dalam sepuluh menit dirinya sampai di sebuah rumah megah dan indah. Bernuansa putih serta emas. Pagar hitam yang menjulang tinggi yang cukup sulit di jangkau oleh mata.
Ansel memencet bel yang ada di samping pagar. Tidak ada respon dari dalam. Ansel tak putus asa. Pria itu menekan bel secara berulang kali. Namun hasil yang sama ia dapatkan.
"Alina keluarlah" teriak Ansel.
Pagar terbuka sedikit dan seorang pengawal berbadan kekar keluar. Pria tegap itu mendekati Ansel penuh tanda tanya.
"Siapa kau" tanya pengawal itu
"Ansel. Aku ingin Alina" ucap Ansel langsung dengan datar.
"Apa maksudmu" bentak Ansel
"Kau tidak bisa bertemu dengan nona Alina" ucap pengawal itu.
"Aku ingin bertemu dengannya" ucap Ansel bersikeras.
Karena tak mendapatkan ijin. Tanpa pikir panjang Ansel langsung menerobos masuk. Pagar sudah ia lewati namun dirinya langsung di todong oleh pengawal pengawal yang lain dengan senjata api.
Mati atau hidup aku harus bertemu dengan Alina batin Ansel
__ADS_1
Tak gentar, pria itu nekat dan menghajar mereka satu persatu. Ilmu bela diri yang cukup tinggi membuat Ansel bisa menghadapi mereka. Namun dugaan Ansel salah. Pengawal itu bukan orang sembarangan. Mereka juga jago dalam bela diri.
Tak peduli lagi Ansel berlari masuk namun seorang pengawal sangat gesit. Dia menarik pelatuknya ke arah Ansel
Dor
Ansel terjatuh sesaat. Namun kembali bangkit. Tembakan itu hanya mengenai kakinya. Tak perduli dengan kucuran darah segar dia harus bisa menyelesaikan masalah yang baru saja ia buat dengan Alina.
Alina yang sedari tadi mengamati melalui balkon menatap Ansel yang berlari dengan luka di kakinya. Dia tidak pernah lari dari tanggung jawabnya. Alina akui pria itu sejati.
Alina turun ke lantai dasar dan menemui Ansel yang datang mencarinya hingga membuatnya berakhir terluka.
"Alina" teriak Ansel
Alina berjalan mendekati Ansel. Mata keduanya saling bertabrakan. Sesaat mereka saling diam dan hanya saling pandang.
Pengawal pengawal tadi yang sudah kembali bangkit langsung menyusul Ansel yang sudah menerobos masuk. Kini Ansel di kepung oleh pengawal Alina dan dirinya di todong oleh senjata api. Namun hal itu tidak membuat Ansel menjadi takut. Tidak ada kata takut dalam kamusnya. Itulah Ansel.
.
*Like dan Komen*
__ADS_1