
"Halo Jack" sapa Ansel dengan senyum tersungging
"Ansel sialan!! Kau menipuku"
"Jangan pernah bermain main denganku. Kau yang akan terjebak dengan permainanmu sendiri" ucap Ansel
"Tidak akan. Aku akan menghancurkanmu apapun caranya" ucap Jack
"Silahkan. Itupun... jika kau mampu melakukannya" ucap Ansel dan tertawa kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak
Membuat Jack yang berada di seberang sana mengumpat dengan kesal
"Ansel sialan!! Kau akan merasakan akibatnya karena telah memainkan diriku"
Ansel melangkah masuk ke dalam kamarnya dan ternyata Alina sedang duduk santai ranjangnya sambil bertelfonan ria
"Kau saja yang urus permasalahan itu mungkin besok aku akan ke kantor untuk memantaunya" ucap Alina
Ansel duduk di samping Alina dan bersandar pada bahu Alina yang jauh lebih rendah itu. Mengusap lembut perut istrinya. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya sekarang.
Alina sedikit terkejut dengan kehadiran Ansel. Mengusap rambut Ansel hingga membuatnya sedikit berantakan.
"Ya" Alina memutuskan sambungan telfon dengan Raisa dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Ansel" panggil Alina
"Ya?"
"Bolehkah besok aku ke kantor" tanya Alina
"Untuk apa? Kau harus banyak istirahat" ucap Ansel
__ADS_1
"Ya aku tau tapi tujuan awalku ke Amerika adalah untuk menyelesaikan masalah di perusahaanku" ucap Alina
"Hm baiklah tapi aku yang antar" ucap Ansel
"Kenapa?" tanya Alina
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu" ucap Ansel
"Ok kalau gitu" Alina mengusap rambut Ansel dengan gemas.
"Ansel" panggil Alina
"Hm"
"Apa kau sudah tau siapa yang meneror ku?" tanya Alina pada Ansel yang kini berbaring di atas pahanya.
"Belum. Aku masih berusaha mencari taunya" ucap Ansel
"Kita pasti akan menemukan siapa yang meneror kamu dan aku akan hentikan dia agar berhenti mengganggu istriku" ucap Ansel
Alina mengusap kedua pipi suaminya kemudian mencium kening Ansel dengan lembut.
"Sayang" panggil Ansel
Alina menoleh dengan tatapan tak percaya. Apa tadi? Sayang? Ansel memanggil dirinya Sayang?
"Kenapa"
"Apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu" tanya Ansel
"Apa yang harus aku ceritakan" tanya Alina
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau mendapatkan teror seperti itu" tanya Ansel
"Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak membunuh nona M itu bahkan aku tidak tau siapa yang mereka maksud" ucap Alina
Ansel bangun dan menatap mata Alina intens. Seolah mencari kejujuran di mata wanita itu.
"Apa kau jujur?"
"Kau tidak mempercayaiku?" Alina bergerak menjauh. Turun dari ranjang dan masuk ke dalam walk in closet. Mengambil jaket kemudian memakainya.
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu sedangkan tidak ada bukti jika apa yang kau katakan benar" ucap Ansel
"Terserah kau mau mempercayaiku atau tidak. Itu... bukan urusanku" ucap Alina dan melangkah menuju pintu kamar untuk keluar
"Kau akan kemana"
"Untuk apa kau peduli bukankah kau juga tidak peduli pada penjelasanku untuk apa kau bertanya jika pada akhirnya kau tidak mempercayai apa yang aku katakan" Alina membuka pintu dengan kasar dan keluar
Brak
"Nyonya muda" sapa salah seorang pelayan dengan menundukkan tubuhnya.
Wajah Alina begitu datar dan dingin bahkan dirinya tak menatap wajah pelayan tersebut. Dia benar benar kesal dengan sikap Ansel yang tidak mempercayai dirinya.
"Nyonya muda ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" ucap pelayan tersebut melapor
"Katakan saja pada suamiku. Biar dia yang akan menemuinya" ucap Alina
Alina masuk ke dalam lift. Melangkah dengan cepat menunjukkan seberapa marah dirinya. Keluar dari area mansion Ansel.
.
__ADS_1
*Like dan Komen*