Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
75.


__ADS_3

Alina kembali masuk ke dalam kamar miliknya kemudian menatap ke arah balkon. Senyum Alina mengembang seketika saat ternyata ruang kerja Ansel juga memiliki balkon.


Menatap ke arah pagar berwarna putih yang terbuat dari besi dengan senyum mengembang. Mungkin dia akan melakukan hal yang sedikit gila.


"Maafkan mama sayang tapi kita akan melakukan sedikit aksi" ucap Alina dengan mengusap perutnya.


Naik ke atas pagar kemudian menatap ke arah bawah yang cukup tinggi. Tak perduli. Alina meloncat ke arah balkon ruang kerja Ansel dan mendarat dengan bertumpu pada kedua kakinya.


"Huh" Alina mengibaskan rambutnya yang panjang yang ia biarkan tergerai indah.


Membuka pintu kaca yang ternyata terkunci juga.


"Huftt"


Alina menatap ke arah sekeliling. Apa mungkin dirinya harus memecahkan kaca itu? Oh tidak tidak itu tidak akan di lakukan olehnya. Bisa bisa Ansel tau saat pulang nanti lalu dia memberi alasan apa? Ada kucing gitu? Mana ada kucing bisa melompat sampai puluhan meter itu.


Alina meraba rambutnya. Senyum terukir seketika di bibir manis Alina. Alina mengambil jepit yang ternyata terselip di rambutnya. Memutar kunci itu dengan menggunakan jepit miliknya dan masuk ke dalam.


Menatap ke arah sekeliling cukup indah desainnya. Alina pernah masuk ke ruang kerja Ansel sekali karena mencari pria itu dan memang tidak ada yang aneh. Tapi lain dengan kali ini. Desain ruang kerja Ansel berbeda. Semua posisi benda tidak seperti ini sebelummya.

__ADS_1


Dengan perlahan Alina masuk ke dalam masih dengan menatap sekitar. Mendekati sebuah rak buku dan mengambil salah satu buku yang berukuran besar.


"Nah kan benar" Alina menekan sebuah tombol yang ada di belakang buku buku itu seketika ruangan Ansel kembali saat Alina masuk ke sana.


"Baiklah mari kita cari sesuatu yang kau sembunyikan" ucap Alina


Alina menekan kembali tombol itu dan kembali dengan posisi sebelumnya. Meletakkan buku itu ke rak kembali.


Mendekati meja kerja Ansel berwarna putih yang saat indah dengan ukiran yang khas. Membuka salah satu laci meja itu dan hanya ada tumpukan dokumen.


Beralih pada laci satunya dan hanya ada dokumen pekerjaan. Mengambil salah satu map berwarna merah yang ada di tengah tumpukan dokumen itu.


"Kunci utama dari perusahaan Ansel" ucap Alina


Alina berjalan cepat menuju laptop Ansel kemudian mengetikkan sesuatu dengan sangat cepat lalu mencetaknya.


"Hasil salinan ini sangat persis kau tidak akan tau mana yang asli dan mana yang palsu" ucap Alina licik dan menukar salah satu kertas itu dan menyembunyikan yang asli di balik bajunya.


"Kau bermain api maka aku yang akan membuatnya semakin besar" ucap Alina

__ADS_1


Entah tuduhan palsu atau apa tapi Alina yakin ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh suaminya. Dia tidak akan membiarkan dirinya terluka karena cinta. Di dunia ini semuanya dibutuhkan logika.


Mengembalikan kembali dokumen itu ke tempatnya semula. Dan kini Alina beralih pada sebuah lemari besar.


Membuka pintu lemari itu dan banyak sekali tumpukan berkas di dalam lemari tersebut.


"Astaga" ucap Alina


"Apa aku harus membuka satu persatu" ucap Alina mengeluh


Menyambar satu dokumen yang berada di tengah kemudian membukanya. Tidak ada apapun. Lalu Alina beralih pada sebuah buku tebal yang menarik perhatian Alina.


Membuka buku tebal tersebut dan sebuah foto terjatuh tepat di bawah kakinya. Alina menunduk untuk mengambil foto tersebut.


Mata Alina membulat seketika. Satu tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Dia tidak percaya hal ini.


.


*Like dan Komen*

__ADS_1


__ADS_2