
Alina, Ansel, Bramasta dan juga Luna berjalan beriringan menuju pintu keberangkatan. Pesawat yang akan mereka tumpangi untuk kembali ke Sydney akan berangkat beberapa menit lagi.
"Kita pergi dulu" ucap Bramasta
"Hati hati pa" ucap Ansel
Bramasta mengangguk dan membalikkan badannya. Berjalan meninggalkan Ansel dan Alina.
"Hati hati" ucap Alina
Bramasta yang hendak melangkah pergi pun kembali menoleh saat mendengar suara menantunya itu.
Bramasta tersenyum. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut Alina.
"Jaga dirimu baik baik" ucap Bramasta
Alina mengangguk dan membalas senyuman Bramasta dengan senyum tipis.
"Ansel" Luna memeluk erat tubuh Ansel beberapa saat
"Luna lepaskan kau bisa ketinggalan pesawat jika seperti ini" ucap Ansel dan berusaha melepaskan pelukan Luna
Luna hanya membalas Ansel dengan bersedekap dada
"Huh"
Luna beralih pada Alina. Berdiri di hadapan wanita itu dan menatap dalam kedua netra Alina.
Luna merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Alina dengan erat. Alina sedikit bergerak mundur saat tubuhnya di tabrak oleh Luna. Alina membalas pelukan Luna yang cukup erat itu.
"Selamat tinggal" ucap Luna setelah melepaskan pelukannya pada Alina
"Hati hati di jalan" ucap Alina
"Ansel" panggil Luna
__ADS_1
"Hm?"
"Bawa Alina ke Sydney. Perkenalkan dia dengan lingkunganmu disana" ucap Luna
"Kapan kapan aku akan membawa istriku kesana" ucap Ansel. Luna terdiam sejenak
"Aku menunggumu. Dan jangan berbohong" ucap Luna
"Ayo Luna kita akan terlambat" ucap Bramasta
Bramasta dan Luna berjalan masuk ke pintu keberangkatan. Luna sedari tadi melambaikan tangan ke arah pasangan suami istri itu seolah mengucapkan selamat tinggal.
Alina dan Ansel masih berada disana sampai Bramasta dan Luna benar benar tak terlihat oleh pandangan mereka.
"Ansel" panggil Alina
"Ya kenapa?" tanya Ansel
"Aku lapar"
"Baiklah sekarang kau mau makan dimana" tanya Ansel pada istrinya
"Aku mau makan salad" ucap Alina
"Baiklah" Ansel mengajak istrinya masuk ke dalam mobil. Membawa istrinya ke sebuah restaurant yang jaraknya tidak jauh dari mansion.
Ansel keluar dari dalam mobil saat mereka sampai di restaurant setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam. Beralih ke sisi lain mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya. Tangannya terulur untuk melindungi kepala Alina agar tidak terbentur.
"Yaudah ayo" Alina menggandeng lengan Ansel dan masuk ke dalam restaurant itu.
Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah. Menyodorkan buku menu ke arah Ansel dan Alina.
"Salad dua" ucap Ansel
"Itu saja" tanya pelayan
__ADS_1
"Kau mau apa lagi sayang" tanya Ansel
"Mmm ice cream" ucap Alina
"Ice cream dua" ucap Ansel
Pelayan tersebut mencatat pesanan Ansel dan Alina kemudian pergi. Tak lama menunggu pesanan mereka sudah tersaji di meja dengan rapi.
Alina memakan salad miliknya dengan lahap. Membuat saus sedikit menempel di sudut bibirnya.
"Pelan pelan" ucap Ansel dan mengusap sudut bibir istrinya yang terkena saus dan memakannya
"Jorok ih" ucap Alina
"Gapapa kan dari bibir istri sendiri" ucap Ansel dan terkekeh
Alina melanjutkan makannya. Setelah saladnya habis wanita itu beralih pada ice cream miliknya dan melahapnya.
Dalam hitungan menit ice cream itu sudah habis tak tersisa. Alina menatap ke arah ice cream milik Ansel kemudian menatap mata Ansel.
"Kenapa sayang? Kau mau? Ambillah. Makan saja" ucap Ansel
"Boleh?" tanya Alina dan Ansel mengangguk
Dengan mata berbinar Alina mengambil ice cream milik suaminya dan memakannya hingga habis
"Sejak setelah pernikahan aku tidak pernah melihatmu mual lagi" ucap Ansel
"Entah aku juga tak tau" ucap Alina
"Itu lebih baik. Aku tidak melihatmu menderita seperti waktu itu" ucap Ansel dengan merapikan anak rambut Alina yang sedikit berantakan dan menyelipkan di balik telinganya.
"Kau senang?" Alina mengangguk
.
__ADS_1
*Like dan Komen*