Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
53.


__ADS_3

"Apa kau pernah menikah" tanya Alina pada Ansel


Ansel yang sedang melepaskan jas nya tangannya langsung terhenti dan menatap istrinya.


"Kenapa kau berkata seperti itu" ucap Ansel


"Aku hanya bertanya" ucap Alina


Alina duduk di atas ranjang sambil memperhatikan suaminya. Bersedekap dada dan tatapannya menajam.


"Oh"


"Aku butuh jawabanmu" ucap Alina


"Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu"


"Kau terlalu berbelit belit Ansel" ucap Alina


"Aku hanya ingin tau apa yang membuatmu bertanya seperti itu" ucap Ansel


"Sebelum kita menikah tepat di saat dua bulan setelah kita tidak saling bertemu aku masih mengingat dengan jelas ada sebuah cincin yang tersemat di jari kamu. Dan setelah kita memutuskan menikah tiba tiba cincin itu menghilang" ucap Alina


Ansel terdiam sejenak. Membelakangi Alina dan tangannya bertumpu pada meja.


"Dan aku lupa menanyakan hal itu padamu" lanjut Alina


"Cincin dari siapa itu. Dan kemana cincin itu sekarang" tanya Alina


Ansel membalikkan badannya dan menatap istrinya. Menatap netra Alina yang indah dengan lekat.


"Itu hanya cincin dari seorang sahabat" ucap Ansel


"Sahabat?"

__ADS_1


"Ya sahabat"


"Aku baru tau persahabatan laki laki saling memberikan cincin? Sedikit aneh di telingaku" ucap Alina


"Ya memang seperti itu" ucap Ansel


"Jangan berbohong"


"Tidak ada yang berbohong" ucap Ansel


"Kau tampak gugup dalam menjawab pertanyaanku" ucap Alina dan tatapannya semakin menajam


"Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanmu itu saja" ucap Ansel dan kembali melepas jasnya. Membuka kancing lengan kanannya kemudian beralih pada kancing lengan sebelah kiri. Menggulung kemejanya sampai ke siku kemudian duduk di samping istrinya.


"Apa rasa keterkejutan di gambarakan dengan kegugupan" ucap Alina santai


Skakmat


"Tidak juga" ucap Ansel


"Lalu?"


Alina menajamkan padangannya dan menatap Ansel.


"Dalam rangka apa dia memberimu cincin" tanya Alina


"Dia di tinggalkan oleh tunangannya. Menikah dengan orang lain membuatnya kecewa. Cincin sudah di persiapkan dan acara pernikahan hampir sempurna. Namun tunangan Luna pergi dari acara pernikahan" ucap Ansel


"Lalu?"


"Semuanya batal dan dia sangat kecewa. Seharusnya cincin itu tersemat di jari tunangannya saat pernikahan. Dan untuk menyembuhkan rasa kecewanya dia memberikan cincin itu padaku. Menganggap seolah olah aku adalah tunangannya" ucap Ansel


"Mmm apa benar itu"

__ADS_1


Ansel mengangguk. Kedua tangannya menangkup wajah Alina.


"Kau bisa mencari kebenarannya di mataku" Alina menatap kedua netra Ansel. Mencari pembenaran di mata pria itu.


"Aku merasa ada kejujuran tapi kau menyem..."


"Aku akan mandi. Aku benar benar gerah" ucap Ansel


"Mandilah" Ansel masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Alina terdiam dalam lamunannya.


Apa benar yang di katakan oleh Ansel. Entah mengapa Alina sedikit mempercayai itu namun ada rasa tidak percaya dengan penjelasan yang di berikan oleh suaminya.


"Ada hubungan apa Ansel dengan Luna. Tapi mereka kakak adik. Atau... Ansel punya hubungan dengan wanita lain tetapi Luna yang di jadikan sebagai tameng" ucap Alina menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup


Alina menyambar ponsel miliknya yang ada di atas nakas dan keluar dari kamar. Menuju lantai dasar dan ternyata Luna sedang duduk manis di sebuah sofa.


"Hai" sapa Alina


"Eh Ansel mana" tanya Luna


"Kenapa kau selalu mencari Ansel"


"Dia kakakku" ucap Luna


"Dia sedang mandi"


"Ah baiklah. Aku heran biasanya kalian kemana mana selalu berdua kenapa ini sendiri" ucap Luna


"Aku bosan di kamar" ucap Alina


"Oh"


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2