Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
32.


__ADS_3

Alina menata semua hasil masakannya di atas meja makan. Dan disana Ansel sudah duduk manis menanti wanita itu ikut duduk juga.


"Sudah selesai?" tanya Ansel saat melihat Alina duduk di sampingnya


"Mmm sudah" Alina mengambil dua piring dan memberikannya pada Ansel satu


"Kau mau makan apa" tanya Alina dengan menuangkan nasi pada piring Ansel.


"Itu aja" ucap Ansel dengan menunjuk sayur sop.


Alina memang memasak makanan sederhana saja. Mereka sudah terlalu bosan dengan makanan restaurant. Sebenarnya Alina bisa memasak makanan restaurant. Tapi kali ini dia ingin memakan makanan sederhana


Alina mengambilkan makanan yang di maksud oleh Ansel. Setelah piring milik Ansel sudah terpenuhi dengan berbagai lauk dan sayuran Alina memberikan piring tersebut pada Ansel.


Jika kau bersikap baik seperti ini terus kau akan terlihat sangat manis. Bahkan kau sudah cocok untuk menjadi istriku batin Ansel sambil memperhatikan Alina


Alina mengambil makanan untuk dirinya kemudian menyantapnya dengan lahap. Perutnya yang lapar menuntutnya untuk makan. Karena memang dia berangkat tadi hanya memakan sepotong roti dan segelas susu saja. Dalam waktu beberapa jam kemudian dirinya akan merasakan lapar lagi.


Ansel pun ikut makan namun matanya tak pernah lepas dari Alina. Wanita cantik yang sangat lahap saat makan itu terlihat sangat menggemaskan. Mengingat pertemuan pertamanya dengan Alina, wanita itu sangat galak. Seperti seekor singa yang mengaum membuat siapapun yang berhadapan dengan dirinya pasti akan tunduk.


"Pelan pelan" ucap Ansel

__ADS_1


Alina hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan makannya.


Tangan Ansel terulur mengusap sedikit noda yang ada di sudut bibir Alina. Sontak hal itu membuat Alina sedikit terkejut.


"Ada noda di bibirmu" ucap Ansel


Beberapa saat kemudian makanan yang ada di piring mereka sudah sama sama kosong. Alina membawa piring miliknya dan milik Ansel ke tempat cuci piring.


"Biar aku yang mencucinya" ucap Ansel


"Tidak perlu nanti aku akan mencucinya" Ansel tetap masuk ke area dapur dan mengambil spons untuk mencuci piring.


Tangan Alina langsung memegang tangan kekar Ansel untuk menghentikan apa yang akan pria itu lakukan.


"Ini tidak akan mengotori bajuku" ucap Ansel


"Baiklah" Ansel melanjutkan kegiatannya masih dengan pantauan Alina.


Setelah selesai, Ansel mencuci tangannya. Namun sebuah ide usil terbesit di otak cerdasnya. Air yang masih membasahi tangannya ia cipratkan ke arah Alina


"Ansel!!" pekik Alina

__ADS_1


"Apa" tanya Ansel tanpa dosa


"Itu kotor" ucap Alina kesal dengan mengusap wajahnya kasar.


Alina berkacak pinggang dengan wajah garang. Oh rupanya Ansel telah membangunkan singa yang sedang tertidur.


"Maafkan aku" Ansel mengambil tisu dan mengusap wajah Alina dengan lembut.


Setelah bersih, Ansel membuang tisu tersebut ke tong sampah yang ada di dekatnya. Mengusap rambut Alina dengan lembut. Mengacaknya sesaat kemudian merapikannya kembali saat melihat wajah garang Alina.


Ansel terkekeh pelan. Alina terpanah dengan tawa yang keluar dari bibir Ansel. Ini pertama kalinya dirinya melihat Ansel tertawa.


Sangat tampan. Tetapi selama ini tawa itu jarang sekali di tunjukkan bahkan tidak pernah. Tanpa sadar Alina tersenyum menatap Ansel yang masih tertawa pelan itu.


"Jika kau tersenyum tampak sangat cantik" bisik Ansel di samping telinga Alina. Alina memundurkan kepalanya dan menatap Ansel yang berada di dekatnya


"Tidak ada yang tersenyum" ucap Alina mengelak.


Ansel memegang dagu Alina dengan gemas.


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2