
"Kalian akan menikah?" tanya Chen dengan menatap Ansel dan Alina bergantian
"Ya. Aku ingin kau mempersiapkan acara pernikahan kami. Satu minggu lagi kita akan menikah" ucap Ansel
"What? Sesingkat itu? Apa kau gila Ansel" ucap Chen
"Apa lo gak mampu?" tanya Ansel meremehkan
"Aku mampu tapi kau benar benar menyiksaku" ucap Chen kesal
"Aku gak peduli" Ansel mempererat pelukannya pada Alina sedangkan Alina hanya terkekeh melihat kekesalan di wajah Chen
"Kapan kau akan mengabari kedua orang tuamu" tanya Ansel
"Setelah ini" Ansel mengangguk dan kembali menatap Chen
"Apa kau akan terus membuang waktumu?" tanya Ansel
"Ah iya iya aku tau kau sedang mengusirku" ucap Chen dan pergi dari ruang rawat Alina meninggalkan sepasang manusia yang sebentar lagi akan menikah
Alina mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya
"Halo ma"
"Halo sayang ada apa" tanya seorang wanita cantik di seberang sana
"Minggu depan aku akan menikah. Aku mau mama dan papa sama kakak datang ke pernikahan aku" ucap Alina
"What? Secepat ini. Kenapa mendadak? Apa sudah terjadi sesuatu" tanya sang mama beruntun
"Mm tidak ada hanya saja aku dan calonku mempercepat acara pernikahan kami" ucap Alina
"Oh baiklah dalam tiga hari ke depan mama akan kesana" ucap sang mama
__ADS_1
"Thanks mom" Alina memutus sambungan teleponnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas
"Keluargamu ada di mana" tanya Ansel
"Ada di negara I" ucap Alina
"Oh mereka akan kesini?" tanya Ansel
"Ya dalam tiga hari ke depan mereka akan kesini. Mungkin jet pribadi mereka akan mendarat pada hari ke empat" ucap Alina
Ansel hanya mengangguk paham. Pria itu merapikan rambut calon istrinya dan mengusapnya lembut.
"Minum vitaminmu kemudian istirahat" ucap Ansel
Alina mengangguk dan mengikuti apa yang di katakan Ansel. Setelah meminum vitaminnya, Alina tidur dengan pulas.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Alina menjadi pusat perhatian Ansel. Sebenarnya Ansel tidak ingin mencampuri urusan Alina tapi dia takut ada sesuatu di balik Alina.
Ansel mengambil ponselnya dan menghubungi Chen. Dalam beberapa saat panggilan kemudian tersambung.
"Pernikahan di batalkan"
"What?" pekik Chen tak percaya
Ansel kembali mematikan sambungan telepon. Pria itu berjalan keluar dari ruangan Alina. Berjalan sambil menghubungi seseorang.
Sedangkan Alina yang sudah terlelap dalam mimpinya tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
.
Perlahan mata Alina mengerjap memyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam netranya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang rawatnya mencari seseorang.
"Ansel" panggil Alina
__ADS_1
"Ansel" panggil Alina lagi
Namun tak ada sahutan. Alina berpikiran macam macam. Kemana pria itu. Apa dia pergi. Kenapa tidak bilang padanya
"Ansel" panggil Alina kini sedikit berteriak
Pintu ruang rawatnya terbuka. Seorang pria tampan masuk dan menghampiri dirinya. Mendekati Alina dan duduk di kursi samping ranjangnya.
"Ada apa? Kenapa mencariku hm" tanya Ansel
"Kau dari mana" tanya Alina
"Aku dari luar" ucap Ansel
"Luar mana"
"Aku hanya mencari sesuatu. Tenang dan jangan khawatir" ucap Ansel sambil mengusap lembut tangan Alina
"Baiklah"
"Apa kau lapar" tanya Ansel
"Sedikit"
"Aku sudah membawa makanan untukmu. Aku tau kau tidak menyukai makanan rumah sakit" ucap Ansel
"Ya. Rasanya hambar" ucap Alina
Ansel tersenyum tipis dan menyiapkan makanan untuk Alina. Menyuapi wanita itu dengan makanan yang ia bawa
.
*Like dan Komen*
__ADS_1