
"Alina" teriak Ansel berusaha mencegah kepergian istrinya itu
"Kau harus berkata jujur Alina" gumam Ansel
Membuka pintu kamarnya dan kepala pelayan sudah mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa" tanya Ansel datar
"Tuan ada tamu di bawah" ucap kepala pelayan tersebut
"Hm katakan mereka untuk menunggu sebentar" ucap Ansel
Ansel kembali masuk ke dalam kamar kemudian kembali keluar untuk menemui tamunya tersebut.
Tap..tap..tap..
Langkah tegap Ansel begitu terdengar sampai di ruang tamu yang berukuran sangat luas. Langkah kaki itu terhenti saat melihat siapa yang datang.
Seorang pria paruh baya dengan seorang wanita cantik di sampingnya yang mungkin berusia beberapa tahun di bawah usia Ansel.
"Papa" sapa Ansel
Ansel duduk di hadapan papanya. Tatapan kedua pria itu saling mengunci dengan tatapan tegas dan sedikit menajam.
"Hai Ansel" sapa wanita yang ada di sisi papa Ansel
"Ya" Hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir Ansel.
__ADS_1
"Apa kabar" tanya nya lagi
"Seperti yang kau lihat" ucap Ansel datar
"Apa tujuan papa kemari" tanya Ansel
"Kau baru saja menikah. Tentu saja papa ingin melihat menantu papa" ucap Bramasta
Ansel membuang muka. Saat ini Alina keluar bagaimana bisa dia mengenalkan istrinya pada papanya itu.
"Lebih baik papa istirahat dulu besok papa akan menemui istriku" ucap Ansel
"Apa istrimu adalah seorang ratu yang hanya waktu tertentu untuk bisa menemui dia" ucap Bramasta
"Pa"
"Ok baiklah" Bramasta masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai empat dengan di antar oleh seorang pelayan.
"Ada apa"
"Apa kau tidak merindukanku" tanya wanita itu
"Luna lupakan semuanya pergilah ke kamarmu" ucap Ansel dan beranjak berdiri
"Tunggu Ansel" cegah wanita itu dengan menahan tangan Ansel
Luna menarik tangan Ansel cukup keras hingga pria itu terjatuh dan tangan Ansel reflek memeluk tubuh Luna.
__ADS_1
Bertepatan sekali dengan kedatangan Alina yang masuk ke dalam rumah. Menatap pemandangan yang begitu menyesakkan dada.
Alina kembali keluar dan kali ini dirinya benar benar pergi dari area mansion. Padahal sebelumnya dirinya hanya berniat bagaimana Ansel kan membujuk dirinya. Tapi apa? Dia sekarang bermesraan dengan wanita lain padahal jelas jelas mereka baru saja menikah.
Langkah kaki Alina melangkah dengan pelan menysuri jalanan kota. Kendaraan cukup ramai berlalu lalang di sampingnya.
Tanpa berpikir panjang Alina menghentikan sebuah taksi kemudian masuk ke dalam taksi tersebut.
Setelah memberikan alamat yang di tuju taksi tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Alina menatap keadaan di luar dari kaca jendela taksi.
Mengingat kejadian yang baru saja ia lihat membuat Alina semakin kesal. Ok biarkan saja. Dia tidak akan pulang sampai besok.
Beberapa saat kemudian Alina sampai di tempat tujuannya. Yakni perusahaannya sendiri. Alina berdiri di depan gedung pencakar langit. Sebuah perusahaan yang sangat hebat.
Alina melangkah masuk ke dalam dan langsung menuju lantai paling atas dimana ruangannya berada.
"Nona Alina" sapa Raisa yang melihat kedatangan atasannya itu
"Bukankah nona bilang jika akan kesini besok"
"Ya rencananya begitu tapi aku mengkhawatirkan masalah perusahaan" ucap Alina
"Baiklah biar saya jelaskan masalah yang terjadi saat ini" Alina dan Raisa masuk ke dalam ruangan Alina.
Ekspresi dua wanita itu sangat tegang. Menatap layar laptop yang memperlihatkan sebuah masalah yang terjadi di perusahaan Alina.
"Ini akan aku bereskan dengan mudah" ucap Alina dengan senyum tersungging
__ADS_1
.
*Like dan Komen*