Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
42.


__ADS_3

"****!! Dia telah menipuku" teriak seorang pria dengan membanting gelas yang sebelumnya berisi wine hingga cairan itu tumpah dan mengenai karpet yang menjadi lapis lantainya.


"Ansel lihat saja nanti aku telah gagal menghancurkan acara pernikahanmu aku akan memberikan pelajaran untukmu" ucap pria itu dengan menggenggam erat ujung meja yang menjadi tempat sandarannya.


Beberapa saat lalu bawahannya melaporkan pada dirinya


"Tuan ternyata Ansel memajukan acara pernikahannya"


"Apa maksudmu bukankah pernikahannya di batalkan"


"Dia telah menipu anda tuan"


"Tapi Chen tidak mempersiapkan apapun dia selalu ada dalam pantauanku"


"Mempersiapkan acara pernikahannya tidak melibatkan Chen sama sekali mungkin dia tau jika Chen ada dalam pengawasan kita"


"Apa kau berhasil masuk ke acara Ansel"


"Sangat sulit tuan bahkan mustahil penjagaannya terlalu ketat sulit untuk menerobosnya"


Sontak hal itu memancing amarahnya. Dia merasa telah di tipu. Merasa di permainkan oleh seorang Ansel.


"Dia tidak bisa di remehkan. Dia terlalu licik"


.


"Alina" panggil Ansel dari arah belakang

__ADS_1


Alina yang tidur dengan posisi membelakangi Ansel sambil bermain ponsel pun menoleh ke belakang sebentar kemudian melanjutkan kegiatannya.


"Kenapa" tanya Alina


Ansel meelingkarkan tangan kekarnya di pinggang Alina dan memeluk wanita itu dari arah belakang.


"Kau tampak sibuk apa yang kau lakukan" tanya Ansel


"Seseorang yang selalu menerorku sekarang kembali menerorku lagi" ucap Alina


"What? Siapa?" tanya Ansel


"Aku juga gatau. Dia selalu mengatakan jika aku akan menerima akibatnya atas pembunuhan nona M" ucap Alina


"Siapa nona M? Apa kau sudah membunuh dia?" tanya Ansel


"Aku tidak mengenalnya" ucap Alina


"Berikan ponselmu" ucap Ansel


Alina memberikan ponselnya pada suaminya. Ansel tampak serius mengotak atik ponsel miliknya itu. Entah apa yang di lakukan pria tampan itu dirinya juga tak tau.


Kemudian Ansel mengambil ponsel miliknya dan mengetikkan sesuatu. Setelah itu menghubungi seseorang. Entah siapa yang di hubungi oleh Ansel.


"Cari tau siapa pemilik nomor itu" ucap Ansel. Setelah mengatakan satu kalimat itu dirinya langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Aku sudah tau siapa pemilik nomor itu. Mereka selalu menggunakan nomor yang berbeda. Tapi aku tidak tau siapa yang memerintah mereka. Aku yakin ada seseorang yang menjadi dalang di balik semua ini" ucap Alina

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku"


"Karena kau tidak bertanya" jawab Alina enteng


"Kau mengotak atik ponselku dan aku tidak tau apa yang kau lakukan. Kau tidak bertanya ya aku diam. Aku bukan cenayang yang bisa meramal apa pertanyaan di dalam benakmu" ucap Alina


"Huft. Apa kau...."


"Bukan. Tapi aku bisa melacak siapa yang menerorku tapi aku masih belum tau siapa dalang di balik ini semua" ucap Alina


"Aku belum menyelesaikan pertanyaanku dan kau sudah tau. Itu artinya kau mungkin titisan cenayang" ucap Ansel


Alina mendelik kesal kemudian mencubit bahu Ansel yang berotot dengan keras.


"Awss. Kenapa kau suka sekali mencubit"


"Itu salahmu yang selalu berbicara asal" ucap Alina


"Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga. Jika aku melaporkan maka kau akan di penjara" ucap Ansel


"Laporkan saja. Bahkan aku tidak takut" Ansel menatap tak percaya


"Itupun jika kau mau aku mengandung di dalam penjara kemudian melahirkan di penjara dan merasakan sakit sendiri" ucap Alina


Ansel membayangkan apa yang di katakan Alina langsung mengedikkan bahu. Itu begitu mengerikan. Dia tidak akan setega itu menelantarkan istri dan anaknya di dalam penjara begitu saja.


"Kau yang mengancam tapi kau yang takut" Alina tertawa melihat ekspresi Ansel

__ADS_1


.


*Like dan Komen*


__ADS_2