
"Kalian akan kemana? Apa pergi bersama" tanya Luna
"Kenapa kau terlalu penasaran dengan urusan kami" ucap Alina
"Itu wajar karena dia adiknya. Kau tiba tiba datang dan merebut perhatian Ansel membuat Luna harus beradaptasi dengan keadaan ini" sahut Bramasta
"Aku akan ke kantor tapi aku akan mengajak Alina ikut bersamaku" ucap Ansel
"Untuk apa kau mengajak dia" ucap Bramasta
"Aku akan memperkenalkan dia sebagai istriku" ucap Ansel
"Ah itu akan sangat membosankan bagaimana kalau kita pergi ke Mall" ucap Luna
"Aku tidak terlalu menyukainya" ucap Alina santai dengan bersandar pada kursi
"Kau akan menyukainya. Ansel aku akan bawa Alina ke Mall" ucap Luna
"Beberapa pengawal akan ikut dengan kalian" ucap Ansel sambil menegak air putih
"Itu tidak akan seru. Plis lah kita butuh kebebasan" ucap Luna
"Kau bisa pergi sendiri jika seperti itu. Aku akan mengajak Alina ke Mall lain waktu" ucap Ansel
"Ansel" rengek Luna
"Tidak Luna aku tidak akan mempercayakan siapapun untuk mengajak istriku" ucap Ansel
"Apa termasuk aku?" tanya Luna
Malas berdebat Ansel menggandeng tangan istrinya dan mengajak pergi.
"Aku pergi dulu pa" ucap Ansel
__ADS_1
Ansel merangkul pundak Alina dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah siap sedari tadi.
Luna menghentakkan kakinya dengan kesal. Wajahnya di tekuk saat melihat kepergian Ansel dengan istrinya.
"Ada apa dengan adikmu" tanya Alina
"Apanya"
"Aku merasa ada yang sedikit berbeda" ucap Alina dengan menatap ke arah depan
"Sayang dia hanya merasa sedikit cemburu dengan perhatianku yang terbagi denganmu" ucap Ansel
"Dia harus terbiasa mulai dari sekarang" lanjut Ansel
Alina hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dengan kecepatan sedang mobil di kendarai oleh sopir pribadi Ansel melaju memecah jalanan kota yang cukup padat
Dalam waktu dua puluh menit mereka sampai di perusahaan Ansel. Masih dengan menggenggam tangan Alina, Ansel berjalan masuk ke dalam perusahaannya. Beberapa karyawan menundukkan tubuhnya saat berpapasan dengan dirinya.
"Apa itu istri tuan Ansel?"
"Dia sangat cantik"
Ansel mengajak istrinya masuk ke dalam ruangannya. Chen yang baru saja keluar dari ruangannya melihat Ansel dan Alina masuk ke dalam ruangan CEO.
Chen mengetuk pintu ruangan Ansel dan setelah di izinkan Chen perlahan membuka pintu itu.
"Chen"
"Mentang mentang pengantin baru sekarang ke kantor bawa pasangan"
"Ada apa? Apa ada hal penting? Ucapanmu sangat tidak berfaedah" ucap Ansel
"Siang ini ada meeting" ucap Chen mengingatkan
__ADS_1
"Ya aku mengingatnya"
"Bagus jangan sampai aku yang menggantikanmu lagi" ucap Chen
"Hm"
"Sudah selesai?" tanya Alina dengan duduk santai di sofa
"Ya"
"Silahkan kerjakan tugasmu kembali" ucap Alina
"Kau mengusirku?"
"Tidak ada yang mengusirmu Chen" ucap Alina dengan berdiri dan mendekati pria itu
"Dari pada kau terlalu banyak membuang waktu lebih baik kau menyelesaikan pekerjaanmu. Bukankah waktu itu sangat berharga" ucap Alina
Chen keluar dari ruangan Ansel kini tinggal Alina dan Ansel.
"Ansel" panggil Alina
"Ya?"
"Apa Chen pernah mengalami luka di masa lalu" tanya Alina
"Untuk apa kau menanyakan hal itu" tanya Ansel
"Ah tidak aku hanya penasaran kenapa sampai saat ini dia tidak memiliki pasangan" ucap Alina
"Dia pernah patah hati karena seorang wanita dan karena itu dirinya menutup hati. Entah sampai kapan dia melakukan itu. Aku berharap dia kembali jatuh cinta pada seseorang"
Alina hanya menyimak penjelasan dari Ansel sambil duduk di kursi yang ada di hadapan pria itu yang berbatasan dengan sebuah meja. Ansel sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya.
__ADS_1
.
*Like dan Komen*