
"Sekarang katakan" ucap Alina
"Apa"
"Ayo katakan" paksa Alina
"Soal apa"
"Kau bilang apa? Kau sudah berjanji" ucap Alina kesal
"Apakah aku pernah berjanji?" tanya Ansel dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Huh!! Ansel jangan main main" ucap Alina
"Jika aku bermain main?" tanya Ansel
Alina membuka laci yang ada di sampingnya dan mengambil sebuah pisau yang ada disana.
"Rasakan ini menancap di perutmu" ancam Alina dengan menodongkan pisau yang ada di tangannya ke arah Ansel
"Apa kau mau menjadi janda di hari pertama pernikahan kita" tanya Ansel
Alina cemberut dan menurunkan pisau yang ada di tangannya.
"Ansel!!" rengek Alina
"Ok ok aku akan bercerita padamu kenapa aku memajukan acara pernikahan kita" ucap Ansel dan merubah ekspresinya menjadi serius
Alina meletakkan pisau itu di atas nakas dan menatap Ansel dengan serius.
"Waktu di rumah sakit saat kau terlelap ada sebuah pesan masuk"
"Yang berisi?" tanya Alina
"Sebuah ancaman"
__ADS_1
"Kau tau dari siapa?" tanya Ansel dan Alina menggeleng
"Dari Jack. Dia mengancam akan merusak acara pernikahan kita. Dia juga mengatakan jika aku menikahimu dengan tujuan tertentu" ucap Ansel
"Jika itu benar? Bagaimana?" tanya Alinsa
"Itu tidak benar. Aku langsung menghapus dan memblokir nomornya"
"Ok lalu kenapa kau mengatakan pada Chen jika kau membatalkan pernikahan. Kau hampir membuatku serangan jantung" ucap Alina dengan memukul dada Ansel kesal.
Ansel meraih tangan kecil yang memukuli dadanya itu dan menciumnya.
"Semua demi kebaikan"
"Maksudnya?"
"Jika aku mengatakan acara pernikahan itu batal maka berita itu akan dengan cepat sampai ke telinga Jack. Aku tau ada seorang mata mata yang dikirimkan pria itu untuk mengacaukan acara kita"
"Dan aku menyiapkan acara pernikahan sendiri. Dengan orang orang yang pastinya sudah aku percayai"
"Surprise" ucap Ansel dengan tersenyum
"Sangat lucu. Bahkan kau menculik calonmu sendiri untuk menikahinya? Seolah aku tidak setuju dan kau memaksa menikahiku" ucap Alina
"Bukankah dulu awalnya seperti itu" ucap Ansel
Alina tertawa pelan mengingat beberapa bulan lalu. Alina menunduk dan menatap perutnya yang masih datar. Mengusap lembut perutnya dan membisikkan sesuatu pada anaknya.
"Tumbuh sehat disana. Mama menanti kehadiranmu disini" ucap Alina
Ansel mencium perut istrinya cukup lama kemudian mengusap lembut perut yang masih datar itu.
"Anak papa jaga mama baik baik. Jangan melukainya" ucap Ansel
Hatinya bergetar. Dirinya tak mampu menahan sebuah perasaan yang terselip di dalam benaknya. Dia tak menyangka jika ada sosok makhluk yang hidup di dalam perut istrinya.
__ADS_1
"Apa kau lapar?" tanya Ansel
Alina menggelengkan kepalanya. Dia sudah cukup kenyang saat memakan beberapa buah buahan sebelum dirinya kembali ke kamar.
"Kapan kau makan" tanya Ansel
"Sebelum kembali ke kamar aku ke meja makan. Aku memakan beberapa buah buahan disana" ucap Alina
"Baguslah itu baik untukmu" ucap Ansel dengan mengusap lembut rambut Alina.
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Alina. Wanita itu mengernyit dan menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari mamanya
"Iya ma kenapa"
"..."
"Kenapa mama tidak bilang padaku"
"..."
"Baiklah hati hati" Alina memutus sambungan teleponnya
"Ada apa" tanya Ansel
"Mama dan papa kembali hari ini juga dan mereka sudah berada di bandara siap kembali"
"Kenapa tidak berpamitan dulu"
"Ada urusan mendadak"
"Oh"
.
*Like dan Komen*
__ADS_1