
Setelah di perbolehkan pulang oleh dokter, Alina kembali ke rumahnya. Masih di antar oleh Chen. Pria itu seolah menjadi pengawalnya saat ini.
"Baiklah aku pergi dulu. Jaga dirimu baik baik" ucap Chen
Alina mengangguk menatap Chen. Perlahan Chen melangkah menjauh.
"Tunggu" cegah Alina
"Hm?"
"Kau tau dimana Ansel?" tanya Alina
Chen terdiam. Ansel? Tentu saja dia tau. Dia adalah asistennya.
"Ansel?" tanya Chen
"Mmm kau tidak perlu menjawab. Aku salah mengajukan pertanyaan" Alina langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Chen benar benar pergi dulu.
Alina masuk ke dalam kamarnya yang berukuran sangat luas. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya.
Wanita itu menepuk kepalanya beberapa kali. Merutuki pertanyaan bodoh yang ia lontarkan tadi.
Alina mengusap perutnya yang masih datar. Dirinya tak menyangka jika ada sosok lain yang hidup di dalam tubuhnya.
"Aku akan menjagamu. Sendiri!!" ucap Alina penuh penekanan.
Alina bangun dan beranjak. Mengambil air mineral dan menegaknya bersama dengan vitamin yang di berikan oleh dokter padanya.
Selesai meminum vitaminnya, Alina tidur di atas ranjangnya.
__ADS_1
.
"Ada apa" tanya Alina saat melihat Raisa masuk ke dalam ruangannya
"Besok kita harus ke Amerika untuk memantau perkembangan perusahaan disana. Ada beberapa masalah yang terjadi" ucap Raisa melaporkan
"Baiklah kau persiapkan semuanya saja" ucap Alina
"Apa nona akan menggunakan jet pribadi?" tanya Raisa
"Tidak" ucap Alina
"Baiklah" Raisa kembali keluar untuk mengurus beberapa hal untuk keberangkatan mereka besok.
Sedangkan Alina kembali fokus pada layar laptopnya yang sedari tadi menyala di hadapannya. Jari jemarinya bergerak dengan lincah mengetikkan sesuatu.
Alina melirik ke arah jam tangannya yang melingkar indah di pergelangan tangan kanannya. Sudah pukul satu siang. Waktunya makan siang.
Alina melihat ke arah kanan dan kiri jalan. Dia akan menyebrangi jalan karena restaurant ada di depan perusahannya.
Merasa cukup sepi, Alina melangkahkan kakinya melewati jalanan yang cukup luas. Namun tanpa dia sadari, sebuah mobil hitam melaju dengan cepat ke arahnya.
"Alina" gumam seseorang dan berlari ke arah Alina
Menangkap tubuh Alina dan membawanya ke tepi jalan dengan cepat.
"Ahhh" pekik Alina terkejut
Secepat kilat orang yang menyelamatkan Alina pergi begitu saja. Bahkan Alina belum sempat melihat siapa yang telah menolongnya tadi.
__ADS_1
"Sial aku gagal menghabisinya" gumam seseorang dan melajukan mobilnya dengan cepat
"Ada seseorang yang ingin menghabisiku ada juga yang selalu menyelamatkanku. Apa dia orang yang sama yang sudah menyelamatkanku waktu di jurang itu" ucap Alina bertanya pada dirinya sendiri
Citt
Alina mengerem mendadak karena posisi mobilnya sudah berada di tepi jurang persis. Sedikit saja dia bisa terjatuh.
Namun rupanya seseorang yang mengejarnya masih terus membuntuti dirinya. Alina menoleh menatap ke arah belakang.
Sebuah mobil hitam berada di dekat mobilnya dan bersiap menabrak mobilnya. Alina di landa kebingungan. Maju tak bisa mundur pun tak bisa.
Pasrah. Mungkin dia akan mati setelah ini. Dengan kecepatan penuh mobil tersebut berjalan ke arah mobilnya. Dan dapat di pastikan dalam hitungan menit mobil itu akan menabrak mobilnya.
Brak
Alina memejamkan matanya karena terkejut dengan suara tadi. Merasa tidak ada yang berubah pada dirinya Alina membuka matanya.
"Apa ini sudah di surga?" gumam Alina
Alina menatap ke arah samping. Mobilnya berputar sedikit akibat tabrakan tadi. Bukan tabrakan pada mobilnya namun ada mobil lain yang menabrak mobil itu hingga terjatuh ke jurang.
"Siapa dia? Kenapa dia menolongku" gumam Alina
Namun seseorang yang menyelamatkan dirinya menghilang dengan cepat.
Alina menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya akan kejadian beberapa waktu lalu. Alina melangkah masuk ke dalam restaurant. Melupakan kejadian yang baru saja dia alami tadi.
.
__ADS_1
*Like dan Komen*