
"Luna?"
"Dia...."
"Maaf Alina saat aku ke Sydney kemarin aku...." Alina menanti penjelasan Ansel yang putus putus
"Apa?"
"Aku menikah dengan Luna" ucap Ansel
Deg
"Atas dasar apa? Kau mencintainya?" tanya Alina
"Balas budi" jawab Ansel
"Aku tidak mencintainya. Sama sekali tidak" lanjut Ansel
"Oh" Alina menarik nafas panjang.
"Aku minta maaf" ucap Ansel
"Mama akan kesini" ucap Alina
"Untuk apa?"
"Bukankah kau ingin balas dendam padanya" ucap Alina sedikit emosi
"Sayang" Alina memegangi dadanya yang terasa sesak kemudian pergi meninggalkan ruangan Ansel
"Alina" panggil Chen dan Alina menoleh.
"Kau tau rencana Ansel dari awal?" tanya Alina
"Ya"
"Kalian membohongiku" ucap Alina dengan tertawa sendiri
"Tidak bukan begitu" ucap Chen
"Lalu?"
"Dia sudah menikah dengan Luna sebelum menikah denganmu" ucap Chen menjelaskan
Sudah kepalang basah. Alina sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Lalu?"
"Bercerai setelah satu hari menikah denganmu" ucap Chen
"Kenapa?" tanya Alina
"Karena aku sadar jika aku mnecintaimu" ucap Ansel dari arah belakang membuat Alina menoleh
"Cintamu palsu Ansel" ucap Alina
"Lalu? Sebenarnya aku istri pertama atau kedua mu?" tanya Alina dengan menatap tajam Ansel
"Aku tidak tau. Yang aku tau kau adalah istri yang aku anggap dan aku cintai" ucap Ansel
"Setelah anak ini lahir. Aku mau pisah" ucap Alina kemudian pergi
Ansel hanya bisa pasrah dengan keputusan istrinya itu.
"Kenapa kau menikah dengan Luna lagi?" tanya Chen
"Paksaan dari papa" ucap Ansel sendu
Chen hanya menggelengkan kepalanya saja. Bramasta. Ya dia yang memaksa Ansel untuk menikahi putrinya Luna.
Chen berjalan pergi meninggalkan Ansel seorang diri.
.
"Ada apa Alina" tanya Sharnecz
"Ada apa sebenarnya" tanya Alina dengan datar
"Bawa Ansel kemari"
"Tidak perlu"
"Itu perlu"
"Mama tau kau marah. Tapi dia tidak bersalah" ucap Sharnecz
"Bagaimana bisa dia tidak bersalah sedangkan dia menikah dengan putri Bramasta" ucap Alina kesal sambil memegangi perutnya
"Dia di tipu. Bramasta terlalu licik. Dan sekarang hanya kau harapan satu satunya Ansel agar bisa selamat dari jeratan Bramasta" ucap Sharnecz
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Bawa Ansel kemari"
"Huh baiklah" Alina mengambil ponselnya dan menghubungi Ansel
"Sayang" sapa Ansel dengan senyum mengembang.
"Bisa kau ke mansionku" ucap Alina
"Baiklah aku akan menemuimu"
"Tidak. Mama yang ingin bertemu denganmu" ucap Alina
"Baiklah"
Menunggu sekitar dua puluh menit. Tak lama Ansel berjalan masuk dan menemui Alina.
"Mama" sapa Ansel dengan menatap mertuanya itu.
"Jangan lupa jika dia musuhmu" ketus Alina
"Tidak lagi" Ansel menunduk. Dia tau dia salah. Sangat sangat salah.
"Duduk" Dengan lembut Sharnecz meminta menantunya untuk duduk. Ansel duduk di samping Alina dan dengan cepat wanita itu menghindar
"Kau masih marah?" tanya Ansel
"Tentu saja. Bagaimana tidak marah jika kau menghianatiku" ucap Alina setengah berteriak karena emosi.
"Gak baik emosi. Tenangkan dirimu" ucap Sharnecz
"Ada apa ma"
"Bramasta bukan orang baik"
"Maksudnya?" tanya Ansel
"Kau percaya atau tidak Bramasta adalah musuh sebenarnya dari kedua orang tuamu. Dulu dia mengincar perusahaan Raharga. Hingga kedua orang tuamu lari ke mama dan meminta bantuan. Menyamarkan kematian mereka agar Bramasta percaya"
"Mengasuhmu karena tau jika kau adalah kunci utama. Kau yang akan memegang kendali perusahaaan. Dan berkas penting tentang perusahaan Raharga jangan sampai jatuh ke tangan Bramasta. Itu yang dia cari selama ini. Bukankah sudah di berikan oleh John padamu?" tanya Sharnecz dan Ansel mengangguk
"Simpan itu baik baik"
Ansel masih terdiam. Dia harus percaya siapa saat ini
*Like dan Komen*
__ADS_1