Istri Pertama Atau Kedua (?)

Istri Pertama Atau Kedua (?)
68.


__ADS_3

Dalam waktu satu minggu penuh Alina di sibukkan dengan pekerjaan di kantor. Akibat ulah Jack membuat dirinya harus bekerja dua kali lebih ekstra. Untung saja ada Ansel yang membantu mempercepat mengatasi semuanya.


Alina merebahkan tubuhnya. Kepalanya bersandar di paha Ansel.


"Kau lelah?" tanya Ansel


"Tentu saja"


"Maafkan aku"


"Untuk?" tanya Alina dengan mengernyit. Menatap wajah Ansel dari bawah yang tampak lebih tampan.


"Karena kau menikah denganku kau mendapatkan masalah" ucap Ansel


"Aku mendapatkan teror itu sebelum menikah denganmu jadi ini bukan salahmu" ucap Alina dengan tersenyum


Memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa penat di dalam tubuhnya. Ansel senantiasa mengusap rambut wanita yang ada di pangkuannya itu dengan lembut.


Ansel menoleh ke arah ponselnya yang menyala karena sebuah pesan masuk. Tangan Ansel terulur mengambil ponselnya


Dahi Ansel mengerut seketika saat melihat isi pesan itu. Setelah membaca pesan itu Ansel meletakkan ponselnya tanpa berniat membalas.


Meletakkan kepala Alina ke bantal dan beranjak turun dari ranjang. Masuk ke dalam walk in closet dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


Pukul tujuh malam Alina terbangun dari tidurnya. Turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama karena Ansel sudah menunggu dirinya.


"Baru bangun?" tanya Ansel dan Alina mengangguk

__ADS_1


Duduk di samping pria itu dan makan. Menyuapkan sesendok demi sendok ke dalam mulutnya hingga makanan yang ada di piringnya habis tak tersisa.


"Alina" panggil Ansel


"Ya?"


"Besok aku akan ke Sydney" ucap Ansel


"Menemui papa mertua?" tanya Alina


"Iya"


"Apa aku boleh ikut" tanya Alina


"Sementara jangan dulu aku takut ada apa apa sama kamu dan anak kita yang ada di dalam perut kamu. Perjalanannya cukup melelahkan" ucap Ansel


"Kau mengijinkannya?" tanya Ansel


"Tentu"


Seusai makan malam, Ansel masuk ke dalam ruang kerjanya sedangkan Alina masuk ke dalam kamar. Bermain dengan ponselnya berbalas pesan dengan Raisa, asistennya.


.


Keesokan harinya


Chen memasukkan koper milik Ansel ke dalam bagasi mobil. Alina masuk ke dalam bangku penumpang duduk di sebelah Ansel.

__ADS_1


Chen mengendarai mobil dengan kecepatan sedang keluar dari area mansion menuju bandara. Jet pribadi Ansel sudah siap menanti kedatangan tuannya.


Satu jam perjalanan mereka tempuh untuk sampai di bandara. Chen menarik koper Ansel dan berjalan mengekor di belakang Ansel dan Alina


"Aku pergi dulu jaga dirimu baik baik. Selama aku pergi Chen yang akan menyiapkan semua kebutuhan kamu. Jika ada sesuatu katakan saja pada Chen" ucap Ansel


"Ya kalau udah sampau kabarin" ucap Alina dan Ansel mengangguk.


Memeluk tubuh Alina cukup lama kemudian mencium pucuk kepala Alina. Melepaskan pelukannya dan menatap mata Alina.


"Aku pergi dulu" ucap Ansel


Perlahan Ansel keluar dari pelukan Alina dan masuk ke dalam jet pribadinya. Alina sedikit berjalan menjauh. Menatap pesawat itu yang akan lepas landas.


Entah kenapa ada sedikit rasa tidak rela membiarkan Ansel pergi seolah akan terjadi sesuatu dengan pria itu.


"Nyonya" panggil Chen


"Aku Alina" ucap Alina


"Ah iya Nyonya Alina apa mau pulang sekarang?" tanya Chen


"Terserah kamu. Ya aku mau pulang sekarang tapi antarkan aku ke Mall dulu aku akan membeli beberapa barang" ucap Alina


"Baiklah" Alina dan Chen masuk ke dalam mobil dan menuju salah satu Mall yang ada di kota itu untuk membeli beberapa barang


.

__ADS_1


*Like dan Komen*


__ADS_2