
Alina keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam mansion. Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu. Meletakkan tas nya di atas meja kemudian melepas kacamata yang bertengger di hidungnya.
Ansel berjalan mengikuti langkah Alina kemudian duduk di samping wanita itu. Menatap Alina dari arah samping yang tampak tegang.
"Bahkan sampai saat ini aku tidak paham siapa nona M itu dan siapa pembunuhnya? Kenapa aku yang di tuduh membunuh nona M mereka" ucap Alina
"Tenanglah. Tenangkan pikiranmu" ucap Ansel
"Huft mereka meneror ku selama berbulan bulan dan aku muak dengan semua drama ini Ansel" ucap Alina dan meraih tas nya. Masuk ke dalam kamar meninggalkan Ansel seorang diri.
Ansel bersandar pada sofa dengan satu tangannya ia letakkan di bawah kepalanya.
"Kau akan mengetahuinya suatu saat sayang" ucap Ansel.
.
Alina membuka pintu kamar dengan kasar kemudian menutup pintu. Duduk di sisi ranjannya sambil menatap lurus ke arah depan.
"Mengapa mereka selalu tau dimana keberadaanku" gumam Alina
"Apa jangan jangan mereka selalu mengikutiku" ucap Alina
Alina menatap ke arah layar ponselnya yang menyala. Sebuah pesan masuk. Membiarkan pesan itu karena itu hanya dari Raisa yang pastinya berhubungan dengan pekerjaan.
Alina merebahkan tubuhnya dengan kaki yang masih menggantung ke bawah. Menatap langit langit kamar. Dirinya akan baik baik saja menghadapi teror ini jika saja dirinya tidak sedang mengandung.
Memejamkan matanya sejenak namun entah kenapa ingatannya kembali pada sosok seseorang yang terakhir kali ia temui beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Jason" gumam Alina dengan membuka matanya
Alina bangun dari posisinya kemudian mengambil tas nya. Kembali keluar dari dalam kamar dan berpapasan dengan Ansel yang akan masuk ke dalam kamar.
"Kau akan kemana" tanya Ansel
"Aku akan pergi sebentar" ucap Alina
"Biar aku yang akan mengantarkanmu" ucap Ansel
"Tidak perlu. Katakan mobil mana yang akan aku gunakan. Mulai besok aku akan aktif di kantor" ucap Alina
"Kau hamil" ucap Ansel
"Tidak akan menghalangi pekerjaanku. Aku akan menjaganya" ucap Alina
"Mobil mana yang akan aku gunakan" tanya Alina
"Turunlah ke lantai bawah masuk ke garasi disana banyak koleksi mobilku. Terserah kau mau memakai yang mana" ucap Ansel
Alina keluar dari kamar dan menuju garasi mobil Ansel. Dan benar kata pria itu, banyak sekali mobil koleksi Ansel yang berjejer di depan matanya.
Alina masuk ke dalam salah satu mobil sport Ansel keluaran terbaru yang Alina ketahui harganya mencapai ratusan miliar. Kunci mobil tersebut ternyata tergantung dengan indah.
Dengan kecepatan penuh Alina menjalankan mobilnya meninggalkan area mansion. Memecah jalanan kota dan menuju sebuah rumah sakit yang ada di kota itu. Matanya memandang fokus ke arah depan.
"Apa ini berhubungan dengan Jason? Atau Jessica" gumam Alina bertanya tanya
__ADS_1
"Lalu siapa yang menerorku"
"Apa keluarga Jessica" tanya Alina pada dirinya sendiri
Beberapa saat kemudian Alina sampai di rumah sakit yang ia tuju. Masuk ke dalam rumah sakit dan menemui resepsionis.
"Siapa saja pasien yang ada di ruang ICU" tanya Alina
"Saat ini diisi oleh dua orang" ucap resepsionis itu
"Bisa kau sebut namanya" pinta Alina
"Reiz dan Larga korban kecelakaan" ucap resepsionis itu
"Apa pasien bernama Jason sudah sadar" tanya Alina
"Sudah dari satu bulan lalu" ucap resepsionis itu
"Ah baiklah" Alina berjalan meninggalkan meja resepsionis dengan penuh tanda tanya. Tujuannya kemari adalah mencari jawaban dari pertanyaannya tetapi malah sebaliknya. Semakin banyak pertanyaan di dalam otaknya.
"Kemana Jason" gumam Alina
Alina memutar kunci mobil yang ia genggam sembari berpikir. Kemudian wanita itu keluar dari rumah sakit dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
.
*Like dan Komen*
__ADS_1